Analisis Novel Bekisar Merah (Ahmad Tohari) Bagian 1

Diantara sekian banyak novel yang menjadi pilihan untuk dibaca, novel karya Ahmad Tohari menarik perhatian saya. Mengapa? Sebab Ahmad Tohari dikenal sebagai sosok novelis yang piawai membawakan kisah yang kompleks sekalipun dengan bungkus yang sederhana dan mudah diterima. Jika dibandingkan dengan novel lain yang menjadi pilihan, Ahmad Tohari juga tergolong pengarang yang paling muda, jika dibandingkan dengan Buya Hamka, Abdul Moeis, Achdiat Karta Mihardja, ataupun Mochtar Lubis.

Diantara novel-novel Ahmad Tohari yang tersedia, Bekisar Merah menarik perhatian saya. Judulnya begitu unik. Setelah menemukan bukunya, saya semakin tertarik karena sampul nya. Novel bekisar merah dalam benak saya akan menceritakan tentang ayam bekisar. Nyatanya sampul Bekisar Merah malah bergambar sesosok wanita yang amat cantik parasnya. Tentu ada yang unik disini, bagaimana kah perwujudan Bekisar yang dimaksud Ahmad Tohari sebenarnya?

Ahmad Tohari

Rasa tertarik saya bertambah ketika mencoba mencari di internet perihal buku ini. Rupanya, novel yang terbit tahun 1993 ini ditulis ulang oleh Ahmad Tohari dengan judul Belantik tahun 2001. Tentunya novel ini begitu spesial bagi pengarang, mengingat Bekisar Merah merupakan satu-satunya novel yang mendapat perlakuan khusus dari Sang Pengarang selain novel Ronggeng Dukuh Paruk-yang juga ditulis ulang tahun 2006 dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan-.

Jadi apakah Anda ikut tertarik dengan novel ini? Tunggu apa lagi, silakan membaca nya sekarang. Setelah itu, mari menyimak analisis novel Bekisar Merah ini yang saya suguhkan spesial untuk Anda.

Analisis Unsur Intrinsik Novel Bekisar Merah

Novel Bekisar Merah dimulai dengan romantisme sepasang suami istri muda di pedesaan yang bernama Karangsoga. Sang suami, Darsa, adalah seorang penyadap nira kelapa. Sementara Lasi, sang istri, merupakan wanita tercantik di Karangsoga. Ayahnya bekas serdadu Jepang, sehingga ia mewarisi kulit yang putih dan mata sipit yang amat khas. Membuatnya semakin sempurna sebagai seorang wanita.

Bagian awal novel ini memuat latar yang sempurna dan nyaris tanpa celah. Contohnya, kutipan berikut :

Ketika angin tiba-tiba bertiup lebih kencang pelepah-pelepah itu serempak terjulur sejajar satu arah, seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama hujan, seperti gadis-gadis tanggung berbanjar dan bergurau di bawah curah pancuran.

Ahmad Tohari memang seorang pengarang yang dikenal piawai dalam menggambarkan latar. Bukan sekedar membawa pembaca masuk ke dalam alam cerita, namun seakan membuat pembaca menjadi bagian dari alam itu sendiri. Ini tentunya disebabkan oleh detil sempurna yang dituangkan Ahmad Tohari dalam setiap penggambaran latar yang bermacam-macam.

Cerita berlanjut, kehidupan Darsa dan Lasi yang begitu harmonis dan romantis, tiba-tiba mengalami guncangan keras. Darsa, jatuh dari pohon kelapa tatkala ia sedang menyadap nira. Bagi para penyadap, jatuh dari pohon kelapa adalah kesialan terbesar. Bukan hanya meninggalkan luka yang parah, akan tetapi juga menjadi ajang pertaruhan antara hidup dan mati. Beruntung bagi Darsa, kecelekaan yang ia alami masih dapat ditangani melalui serangkaian pengobatan, mulai dari rumah sakit, hingga pengobatan alternatif yang kemudian membawanya kepada kesembuhan.

Laki-laki penyadap nira. Sumber.

Namun masalah ternyata baru saja dimulai. Bagaimanapun, Darsa adalah seorang lelaki. Terkapar di ranjang selama beberapa bulan tentu membuatnya harus menahan hasrat untuk mencumbu Lasi seperti biasa. Celakanya, hal itu dimanfaatkan oleh Bunek, si bidan yang merawat Darsa berbulan-bulan. Bunek mengharuskan Darsa untuk menggauli Sipah, anaknya yang lumpuh, dengan alasan mengembalikan keperjakaan Darsa. Tanpa disangka, Sipah pun hamil dan sesuai adat Darsa diminta untuk menikahinya.

Hal ini tentu menjadi tamparan keras bagi Lasi. Hasil jerih payahnya selama Darsa sakit, mulai dari merawat hingga menggantikan mencari nafkah harus dibayar dengan begitu pedih, Darsa selingkuh. Lasi pun menceraikan Darsa, sebab ia pun tidak sanggup untuk dimadu. Tak hanya itu, Lasi juga memilih untuk meninggalkan Karangsoga, desa yang menghidupinya sejak kecil.

Pelarian Lasi tanpa disangka mempertemukannya dengan Bu Koneng. Sosok keibuan yang nampak begitu baik dan simpati dengan Lasi. Bu Koneng sukses mengambil tempat di hati Lasi yang masih begitu rapuh akibat perselingkuhan suaminya. Akan tetapi, rupanya Bu Koneng tidak lain hanya ingin memanfaatkan kecantikan Lasi. Ya, Bu Koneng rupanya seorang mucikari. Ia kemudian menjual Lasi kepada Bu Lanting tanpa Lasi sadari. Bu Lanting pun tidak jauh berbeda dengan Bu Koneng. Setelah sebelumnya menganggap Lasi sebagai anaknya, ia kemudian menjual Lasi kepada Handarbeni, seorang pejabat tua yang amat bernafsu memiliki istri yang mirip gadis Jepang hanya untuk menjaga gengsinya. Dengan berat hati, Lasi pun menikahi Handarbeni.

Setelah menikah, Lasi mencoba menikmati kemewahan yang dihadirkan Handarbeni. Namun kemudian Lasi tidak dapat menemukan nilai perkawinannya dengan Pak Han (sapaan akrab Handarbeni) selain hanya sekedar keisengan dan main-main untuk menjaga gengsinya. Beruntung Pak Han mengizinkan Lasi bersenang-senang dengan laki-laki lain, walau dengan syarat hubungannya dengan Lasi tidak boleh kandas.

Kesempatan ini dimanfaatkan Lasi untuk menemui Kanjat, teman sepermainannya dulu yang kini telah matang sebagai seorang lelaki muda. Lasi sangat ingin Kanjat membantunya keluar dari cengkeraman Handarbeni, akan tetapi Kanjat sibuk sendiri dengan kegiatan kemasyarakatan dalam upaya memperbaiki kehidupan para penyadap nira kelapa Karangsoga. Alhasil Lasi pun tetap menjadi bekisar dalam kurungan kehidupan kota yang makmur, tetapi hanya menghasilkan kehampaan yang tak kunjung hilang dalam dirinya sendiri.

Sampai disini, Ahmad Tohari sukses membawakan alur yang begitu mengalir. Alur yang menawan ini nampaknya disebabkan oleh penuturan cerita dan penokohan yang begitu jujur. Sosok Lasi mungkin saja dapat kita temukan di sudut-sudut kota. Begitu pula sosok Bu Koneng dan Bu Lanting yang begitu lihai menjual wanita-wanita cantik desa untuk sekedar menjadi perhiasan sesaat di kota.

Bekisar dalam sangkar. Sumber.

Hanya saja, tentu amat jarang kita dapat menemukan sosok yang seberuntung Lasi dalam hal kemakmuran. Sebagian besar dari mereka justru mengalami nasib sial, yakni sekedar dijual sebagai pembantu, tidak lebih. Lagi pula Lasi pun tidak mendapatkan kebahagiaan apapun dari kehidupan mewah di kota, selain kehampaan hidup.

Inilah bekisar yang dimaksud Ahmad Tohari. Bekisar ialah lambang keanggunan yang tidak berdaya, persis seperti Lasi. Ia berasal dari desa, mendapat banyak pengaruh kehidupan kota, dan seketika ia berubah menjadi wanita modern dengan darah desa yang tetap kental, persis seperti bekisar yang merupakan hasil percampuran antara ayam hutan dengan ayam kampung. Betapa penokohan yang begitu mempesona!

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: