Bisnis Sambiloto: Apakah Menguntungkan?

Sambiloto merupakan salah satu tanaman obat yang sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat Indonesia. Tanaman yang memiliki nama latin Andrographis paniculata ini dipercaya mampu mengobati beragam penyakit seperti batuk, flu, diare, kusta, diabetes, hingga demam berdarah.

Kemampuan sambiloto dalam mengobati berbagai penyakit ini disebabkan karena ia mengandung senyawa aktif yang bernama androgafolid. Androgafolid sendiri merupakan senyawa bioaktif dari kelompok terpenoid yang berkhasiat sebagai antioksidan, antiinflamasi, antibakteri dan antiparasit.

Struktur androgafolid

Nah semester ini kebetulan saya mengambil mata kuliah BE4103 Metabolisme dan Analisis Bahan Alam. Dalam mata kuliah tersebut, saya bersama kelompok mendapatkan tugas untuk melakukan penelitian kecil terkait sambiloto. Secara spesifik, tugas kami adalah mengekstrak senyawa androgafolid dari daun sambiloto. Nantinya ekstrak tersebut harus saya uji dengan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) agar bisa didapatkan informasi mengenai kadar senyawa androgafolid didalam ekstrak tersebut.

Dalam penelitian kecil tersebut variasi yang kami pilih adalah variasi pelarut. Kami hendak mengetahui, pelarut apakah yang paling baik digunakan untuk mengekstrak senyawa androgafolid. Hasilnya metanol terbukti mampu memberikan kuantitas dan kualitas pemisahan paling baik jika dibandingkan dengan heksana dan dietil eter.

Pengalaman ini pun sukses memberikan insight baru kepada saya tentang dunia ekstraksi dan analisis bahan alam. Bukan tidak mungkin juga kalau kedepannya saya akan terjun ke ranah ini, entah sebagai peneliti, pekerja, atau bahkan pebisnis. Namun ada pertanyaan sederhana yang perlu saya jawab terlebih dahulu, yakni:

Apakah bisnis sambiloto bisa menguntungkan?

Menjawab pertanyaan ini tentu tidak mudah sebab diperlukan beberapa perangkat analisis keekonomian yang cukup mendalam. Tetapi mari kita gunakan satu perangkat analisis keekonomian sederhana yang bernama GPM.

GPM, singkatan dari Gross Profit Margin, merupakan nilai keuntungan kotor yang mungkin kita dapatkan dari suatu proses produksi. GPM dapat dihitung secara sederhana dengan membandingkan selisih harga jual produk dan harga beli bahan baku terhadap harga beli bahan baku itu sendiri. Secara matematis rumus GPM ialah sebagai berikut.

rumus GPM gross profit margin

GPM memang tidak bisa memberikan penilaian yang cukup memadai tentang potensi keuntungan yang didapatkan. Sebab ia tidak memperhitungkan ongkos produksi sama sekali. Meskipun begitu, GPM dapat menjadi indikator yang sangat baik untuk membandingkan ragam opsi proses produksi yang tersedia. Lewat GPM-lah kita bisa melihat opsi proses produksi yang mana yang berpotensi paling menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.

Dalam kasus sambiloto, misalkan terdapat 3 opsi proses produksi sebagai berikut.

  • Menjual daun sambiloto
  • Menjual jamu ekstrak sambiloto
  • Menjual androgafolid murni (98%)

Mari kita analisis GPM-nya satu persatu.

Kasus 1: Menjual daun sambiloto

Daun sambiloto di Indonesia umumnya dijual dengan harga Rp35.000,- per satu kilogram. Anda bisa cek langsung harganya di Tokopedia, Bukalapak, atau e-commerce yang lain.

Sementara itu bibit sambiloto memiliki harga yang bervariasi. Di salah satu toko di Tokopedia misalnya, ia dihargai sebesar Rp15.000,- per batangnya.

Mari kita asumsikan bahwa setiap satu bibit sambiloto dapat menghasilkan hingga 2 kilogram daun kering yang siap dijual. Maka perhitungan GPM-nya ialah sebagai berikut.

GPM jual daun sambiloto

Kasus 2: Menjual jamu ekstrak sambiloto

Kasus ini merupakan kasus yang paling sering ditemui dalam industri sambiloto hari ini. Dengan harga kapsul berkisar Rp1.000,- per kapsulnya, model ini dianggap paling menguntungkan untuk dikembangkan dalam skala industri. Contohnya bisa dilihat pada produk yang satu ini.

Contoh produk jamu komersil dari ekstrak sambiloto. Sumber.

Sayangnya saya tidak menemukan neraca massa yang mampu mengkonversi perolehan kapsul androgafolid dari daun sambiloto. Tetapi berkaca pada pengalaman saat magang di PT Zena Nirmala Sentosa, setidaknya dibutuhkan 80 kg kulit manggis untuk menghasilkan 30.000 kapsul. Dengan mengasumsikan hal serupa terjadi, GPM pun dapat dihitung.

gpm jual jamu ekstrak sambiloto

Kasus 3: Menjual androgafolid murni (98%)

Menurut Pholphana dkk (2014), yield androgafolid dapat mencapai 1.7% dari berat daun yang digunakan saat ekstraksi. Kenyataannya tentu nilai tersebut tidak mudah untuk didapatkan, sehingga mari kita asumsikan yield yang mampu kita dapatkan ialah 1%. Dengan yield tersebut, 100 kg daun sambiloto tentu diharapkan mampu menghasilkan setidaknya 1 kg androgafolid. Anggaplah pemurnian androgafolid mengakibatkan penyusutan hingga hanya tersisa androgafolid murni sebanyak 10% alias 100 gram saja.

Iklan bubuk androgafolid murni. Sumber.

Dalam kasus ini tentu diperlukan beberapa pelarut untuk mengekstrak androgafolid dari sambiloto. Sebagai contoh, mari kita gunakan pelarut metanol teknis sebanyak 5 liter (untuk menghasilkan perbandingan setidaknya 3:1). Metanol teknis di pasaran saat ini memiliki harga pada kisaran Rp155.000,-/liter (Toko Ilmu Kimia). Kita juga memerlukan metanol PA dengan jumlah serupa untuk keperluan analisis dan pemurnian. Metanol PA memiliki harga pasaran pada kisaran Rp1.800.000,-/liter.

Harga pasaran androgafolid murni sendiri berkisar 80 SGD per 100 mg (Sigma Aldrich). Nilai ini setara dengan Rp840.000,- sesuai kurs dari Webull tertanggal 22 Desember 2018. Berikut perhitungan GPM untuk kasus terakhir ini.

gpm jual androgafolid sambiloto

Simpulan

Dari simulasi perhitungan diatas, GPM untuk ketiga kasus berturut-turut adalah 3,67, 9,71 dan 62,28. Jelas bahwa kasus ke-3 yang memilih untuk menjual androgafolid murni-lah yang sangat layak untuk dikembangkan. Lantas mengapa kita begitu jarang menemui model kasus ke-3 dalam bisnis sambiloto di Indonesia?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi disini. Pertama, tentang investasi. Investasi untuk membuat sistem produksi ekstrak androgafolid murni tentu berkali lipat jauh lebih mahal daripada investasi untuk membuat sistem produksi jamu sambiloto. Hal ini dikarenakan begitu mahalnya unit-unit produksi untuk membuat sistem produksi ekstrak androgafolid murni, terutama unit pemurniannya.

Kedua, masih minimnya pemahaman mengenai dunia isolasi dan analisis bahan alam. Sebagian besar kita masih beranggapan kalau membuat jamu berarti sudah mengekstrak senyawa aktif yang diinginkan dari bahan yang tersedia. Anggapan ini tentu tak sepenuhnya salah. Tetapi kalau kita bisa mengisolasi senyawa tersebut dan menyajikannya dalam bentuk yang lebih murni, tentu saja harga jualnya akan naik berkali lipat.

Sumber.

Lagipula bukankah sambiloto hanya mampu tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang notabene berikliim tropis? Tentu pasaran ekstrak androgafolid murni masih sangat terbuka lebar bagi para konsumen di belahan dunia lain seperti Eropa dan Amerika.

Inilah salah satu contoh bagaimana keilmuan berbasis ilmu hayat dan teknik masih sangat diperlukan di Indonesia. Dengan besarnya diversitas yang ada, seharusnya para Bioengineers mampu menciptakan sistem-sistem produksi yang jauh lebih menguntungkan dan tetap memperhatikan unsur kelestarian (sustainability). Tentu hal ini semata-mata kita lakukan sebagai bentuk bakti kita pada Tuhan, agama, bangsa dan negara.

Btw, ada usul bahan alam lain yang ingin saya coba buatkan analisis GPM-nya? Atau ada yang tertarik mencoba melakukan perhitungan GPM sendiri? Let me know from your comments!

Referensi

N. Pholphana, N. Rangkadilok, S. Thongnest, S. Ruchirawat, M. Ruchirawat, and J. Satayavivad. (2004). Determination and variation of three active diterpenoids in Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees. Phytochemical Analysis. 15, 6. 365–371.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: