Ekspresi Kebebasan Anak Muda Pancasila

Siang itu saya sedang suntuk mengerjakan skripsi di perpustakaan. Penat mulai menyerang ketika saya sadar bahwa tak semudah itu menulis bagian diskusi dan pembahasan. Smartphone di meja pun langsung berpindah ke genggaman sambil berharap ada konten yang mampu memecah kebuntuan.

Seorang teman rupanya membagikan tautan YouTube dalam sebuah grup. Judulnya sederhana, “Kasih Terima Kasih (Karya Simbiotik KMDGI XI DKV ITHB)”, dan tidak mengandung clickbait seperti video kekinian. Tapi berhubung saya sedang bosan, tak ada salahnya kan sejenak menonton tayangan?

Siapa sangka ternyata video berdurasi 4 menit itu mampu mebuat saya meneteskan sedikit air mata. Pikiran yang sejak tadi bosan, seakan langsung menjadi tercerahkan. Rasa sedih dan haru jelas ada. Tapi rasa senang dan bangga juga muncul karena tahu masih banyak orang baik diluar sana.

Jujur sudah lama saya tidak mendapatkan “perasaan” semacam ini sewaktu menonton tayangan. Terakhir kali tayangan menyentuh yang saya tonton adalah iklan dari Zain Mobile Telecommunications saat Ramadan tahun lalu. Selebihnya, tontonan-tontonan yang saya dapati hanya tontonan lucu-lucuan saja. Sangat jarang ada tontonan yang meninggalkan makna khusus dan mampu membekas hingga berbulan-bulan.

Omong-omong soal tayangan, pernah tidak sih Anda mempertanyakan mengapa tayangan yang menjadi trending belakangan ini selalu yang itu-itu saja? Bentuknya selalu berupa gosip artis, debat politik, investigasi tempat berhantu, challenge kekinian atau konten mengerjai orang (prank). Konten-konten yang sifatnya lebih edukatif justru jarang terangkat ke permukaan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya generasi muda harapan bangsa kita pasok dengan konten-konten yang sifatnya membangun? Mengapa justru konten-konten yang terkesan “kurang mendidik” ini bebas berkeliaran?

Kebebasan sebagai konsekuensi dari melimpahnya informasi

Data dari Katadata tahun 2019 menunjukkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2018 telah mencapai angka 150 juta orang. Nilai ini setara dengan 56% populasi penduduk di Indonesia yang besarnya mencapai 267 juta jiwa.

Statistik yang sama juga menunjukkan bahwa rata-rata pengguna menghabiskan waktu 3 jam 26 menit setiap harinya untuk beraktivitas di dunia maya. Media sosial yang paling banyak diakses adalah YouTube, disusul oleh WhatApp, Facebook dan Instagram.

Statistik Media Sosial Indonesia 2018. Sumber: Katadata, 2019.

Jumlah pengguna yang besar ini tentu berbanding lurus dengan jumlah konten yang tersedia. Jumlah video yang ditonton di YouTube saja setiap harinya mencapai 5 milyar video! Dan pada setiap menitnya, 300 jam video yang baru juga terus diunggah ke situs tersebut.

Media sosial facebook tak kalah ramainya. Dalam sehari, jumlah status yang berhasil diposting mencapai 317.000 status di seluruh dunia. Sementara pengguna Instagram pun tidak mau kalah dengan jumlah foto dan video yang diposting setiap harinya telah menyentuh angka 95 juta!

Jelas deretan statistik diatas membuktikan satu fakta yang tidak bisa kita nafikan. Bahwa hari ini kita berada dalam lautan informasi yang begitu meliimpah. Hingga amat sulit bagi kita untuk bisa memilah dan memilih konten apa saja yang hendak kita lihat.

Pernah mengalami fenomena semacam ini? Sumber: kodehero, 2018.

Kondisi ini jelas menciptakan tekanan tersendiri bagi para kreator konten. Pasalnya mereka harus mampu merebut “pasar audiens” ditengah jutaan konten yang tersedia di luar sana. Alhasil mereka terdorong untuk menciptakan konten-konten yang bersifat beda, penuh kreatifitas, dan penuh kejutan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Maka kebebasan pun dengan sendirinya terangkat ke permukaan. Ia lahir sebagai bentuk konsekuensi logis dari melimpahnya jumlah konten yang ditawarkan. Suka tidak suka, mau tidak mau, para kreator pun harus terus mengasah kreativitasnya hingga mereka tanpa sadar berekspresi dengan sebebas-bebasnya.

Inilah alasan mengapa muncul konten-konten challenge yang seringkali tidak masuk akal. Inilah alasan mengapa gosip-gosip artis seakan tak henti terus bermunculan. Inilah alasan mengapa drama-drama media sosial terus tercipta dari pekan ke pekan.

Tapi kebebasan berekspresi bukan hanya tentang kebebasan di dunia maya. Lebih dari itu, kebebasan berekspresi juga sudah berevolusi menjadi bentuk yang semakin dinamis di dunia nyata.

Kebebasan berekspresi bisa ditemukan dimana saja

Dahulu, orang harus pergi ke museum untuk bisa menemukan inspirasi. Museum menjadi medium sempurna bagi para seniman untuk menunjukkan kebebasan berekspresinya, dan kita bisa berinteraksi secara langsung untuk “merasakan energi kebebasan” tersebut.

Tapi kini, “energi kebebasan” itu bisa kita rasakan di luar museum. Cukup pergi ke Car Free Day misalnya, kita bisa menemukan banyak komunitas yang melakukan aksi sosial dengan ragam bentuknya. Tayangan yang saya bahas pada bagian awal postingan ini juga berlangsung di CFD

Kapan terakhir kali Anda datang ke CFD? Sumber: infocarfreeday, 2018.

Museum pun sudah semakin menarik akhir-akhir ini. Isinya tak hanya melulu karya seni lukis, melainkan juga bisa berisi koleksi mobil kuno, kerangka hewan purba, hingga kumpulan fosil kerang dari pulau-pulau di area Bali. Jadi tak perlu ragu lagi jika ingin menghabiskan weekend bersama keluarga dengan berkunjung ke museum!

Museum Mobil Kuno di Hauwke Auto Gallery Jakarta Selatan. Sumber: misteraladin, 2018.

Kebebasan berekspresi juga bisa kita temukan di berbagai arsitektur publik. Seperti dinding-dinding yang dihiasi mural, desain bangunan yang semakin kekinian, hingga seni instalasi yang penuh kejutan. Desain Masjid Al Irsyad karya Ridwan Kamil yang sempat viral kemarin juga termasuk bentuk kebebasan berekspresi.

Akhirnya, sadar ataupun tidak, kebebasan berekspresi itu secara nyata telah menjadi budaya masyarakat kita. Ia terakulturasi secara sempurna pada sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat yang menjadikan Pancasila sebagai ideologi kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab

Pancasila sendiri mengisyaratkan nilai kebebasan lewat sila ke-4. Penegasan akan hal tersebut kemudian muncul pada Pembukaan UUD 1945 alinea ke-3 sebagai berikut.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. ”

Alinea ke-3 Pembukaan UUD 1945

Mengapa deklarasi kebebasan harus dilandasi oleh berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan keinginan luhur? Jawabannya karena kebebasan yang diperbolehkan oleh konstitusi haruslah didasarkan pada nilai-nilai religius dan niat yang tulus. Hal ini semata-mata dibuat agar kita bisa mempertanggungjawabkan setiap bentuk kebebasan yang kita perbuat di hadapan Tuhan nanti.

Oleh karena itu, berekspresilah sesuka Anda! Kreasikan sebanyak-banyaknya konten yang mampir di pikiran Anda. Lompati batas-batas geografis dan buat seluruh orang di dunia mau melihat konten yang Anda buat. Tetapi jangan lupa melandasi setiap postingan itu dengan tanggung jawab!

Sah-sah saja kalau misalnya Anda ingin meniru konten milik seseorang. Tapi jangan sampai Anda meniru keseluruhannya. Originalitas dan plagiarisme memang kadang bedanya tipis. Yang membedakan ialah modifikasi Anda pada ide utama yang dimiliki oleh kontennya.

Yuk kurangi status nyindir!

Membuat status yang nyinyir dan penuh kritikan pun diperbolehkan. Tapi lakukanlah dengan objektif dan jangan merendahkan martabat orang di muka publik. Tak sedikit lho cara-cara elegan untuk menyampaikan aspirasi dengan tepat sasaran tanpa perlu melibatkan kekerasan.

Jadi mari bebaskan pikiran, ciptakan karya berkesan dan pastikan rasa tanggung jawab selalu menjadi pegangan.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: