Memanen Matahari

Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia akan berpindah ke Kalimantan. Wacana tersebut memang sudah digagas sejak era Bung Karno, tetapi kali ini ia sudah bergerak satu langkah lebih pasti. Pemastian ini terjadi setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan rencana tersebut pada Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR 2019 di Jakarta.

Pulau Kalimantan ditunjuk untuk menerima kehormatan sebagai lokasi ibukota yang baru. Pemilihan ini didasarkan atas banyak aspek, mulai dari ketersediaan lahan yang luas, risiko bencana yang relatif lebih rendah, pencemaran lingkungan yang terkendali, hingga iklim sosial yang terbuka bagi para pendatang. Pemilihan pulau Kalimantan juga telah mempertimbangkan posisinya yang berada di tengah NKRI, sehingga diharapkan mampu memicu pemerataan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.

(Dokumentasi pribadi)

Satu keuntungan lagi dari pemilihan pulau Kalimantan yang jarang dibicarakan orang adalah posisinya yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Hal ini mengakibatkan seluruh wilayah di Kalimantan mendapat jaminan penyinaran matahari yang merata dalam jumlah besar sepanjang tahun. Negara-negara maju, yang umumnya terletak di Eropa, bahkan tidak akan bisa merasakan keuntungan ini.

Matahari sendiri merupakan sumber energi terbesar di muka Bumi. Potensinya dapat mencapai angka 532 GW, delapan belas kali lipat lebih besar dibandingkan potensi energi dari geothermal yang hanya sebesar 29,35 GW. Oleh karena itu, pemanfaatan energi matahari harus mulai dikedepankan, termasuk dalam kasus pemindahan ibukota negara.

(Dokumentasi pribadi)

Dalam bentuk yang paling sederhana, energi matahari dapat kita manfaatkan untuk menghasilkan makanan. Lewat reaksi fotosintesis pada tanaman, sinar matahari dapat mendorong terjadinya reaksi untuk mengubah oksigen dan air menjadi senyawa karbohidrat, protein dan lemak yang merupakan komponen penting dalam makanan.

Sayangnya Kalimantan bukanlah daerah yang cocok untuk dijadikan lahan pertanian. Hal ini dikarenakan minimnya gunung berapi aktif yang tersedia sehingga struktur tanah humus yang didapatkan dari letusan gunung berapi sangat tipis. Struktur humus yang tipis tentu tidak mengandung cukup banyak nutrisi yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman.

Solusi dari permasalahan ini diantaranya ialah dengan melakukan budidaya secara hidroponik. Dalam hidroponik, tanaman tidak ditumbuhkan di tanah melainkan didalam medium cair yang kaya akan nutrisi. Hidroponik banyak dipakai terutama dalam menumbuhkan sayur-sayuran seperti selada, bayam, kangkong, tomat, wortel, dll.

Budidaya dengan cara ini setidaknya memiliki 2 keuntungan. Pertama, kebutuhan air akan lebih sedikit. Hal ini dikarenakan air pada sistem hidroponik dapat diresirkulasi. Kedua, hidroponik mampu meningkatkan perolehan pada hasil panen. Hal ini dikarenakan kita dapat mengatur komposisi nutrisi yang benar-benar dibutuhkan oleh tanaman tersebut didalam medium cair yang kita gunakan.

Sistem hidroponik juga dapat dikombinasikan dengan konsep vertical farming, dimana penanaman tidak lagi ditumpuk secara horizontal ke samping melainkan secara vertikal ke atas. Konsep ini tentu sangat cocok bagi Kalimantan karena dapat mengefisienkan penggunaan lahan. Penerapan sistem ini juga dapat menekan biaya distribusi bahan pangan dari pulau Jawa dan Sumatera ke Kalimantan, sehingga biaya tersebut dapat lebih dioptimalkan untuk mempercepat pembangunan.

(Dokumentasi pribadi)

Tingginya intensitas penyinaran matahari di Kalimantan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik dengan cara membangun panel surya. Panel tersebut bisa dibangun melekat pada gedung-gedung pemerintahan dan sarana publik lainnya. Hal ini tentu dapat mendorong terjadinya kemandirian energi di ibukota yang baru kelak, sehingga kita tidak perlu lagi khawatir apabila terjadi gangguan listrik di ibukota seperti yang terjadi pada beberapa minggu kebelakang.

Sumber: coaction.id

Pembangunan panel surya juga merupakan investasi jangka panjang yang sangat baik bagi suatu negara. Dalam skala rumahan saja, Menteri ESDM Ignatius Jonan pernah mengungkapkan bahwa pemakaian panel surya di rumahnya mampu menekan biaya listrik perbulan yang biasanya selalu diatas Rp 4 juta menjadi hanya sekitar Rp 1 juta saja. Bayangkan jika potensi penghematan yang dapat mencapai 75% tersebut terjadi pada skala negara. Betapa besarnya dana yang bisa kita alihkan untuk memberikan sebesar-besarnya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Saya sudah coba rumah saya pribadi 15.4 kilowatt peak (kWp) tagihan mungkin Rp 4 juta-5 juta menjadi mungkin enggak sampai Rp 1 juta sekarang,” via kumparan

avatar

Ignatius Jonan

Menteri ESDM

Inilah tantangan yang sedang kita hadapi bersama sebagai sebuah bangsa. Filosofi gotong royong yang kita punya jelas menunggu untuk dibuktikan dalam bentuk ibukota baru yang lebih tertata, lebih bersih dan lebih efisien.

Pemerintah tentu akan fokus membangun infrastruktur sebagai sarana fisik utama bagi suatu ibukota negara. Oleh karenanya pembangunan hal-hal diluar infrastruktur yang sudah direncanakan, seperti gagasan vertical farming dan panel surya diatas, perlu juga mendapat dukungan dari sektor swasta. Lagipula tren investasi dunia juga sedang mengarah ke masalah energi terbarukan dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Maka dari itu, apabila ada yang hendak membangun start-up berbasis kedua hal tersebut di Indonesia, tentu akan sangat menarik bagi para investor.

(Dokumentasi pribadi)

Lebih jauh, tahapan pemindahan ibukota jelas masih sangat panjang. Selain tahapan pembangunan infrastruktur yang diperkirakan dapat memakan waktu 10 hingga 25 tahun, ada juga tahapan-tahapan politik yang tidak mudah untuk dilewati. Mulai dari perubahan undang-undang, hingga potensi amandemen terhadap UUD 1945 karena adanya beberapa pasal yang menyinggung ibukota.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa masih sangat banyak warga negara yang menginginkan kebaikan bagi negara kita yang tercinta ini. Oleh karena itu, mari bergerak bersama. Mari kita buktikan bahwa falsafah gotong royong itu sungguh bukan wacana belaka.

2 thoughts on “Memanen Matahari

    1. Yang pasti harus ada rencana tata ruang yang baru bagi daerah bekas ibukota dan sekitarnya. Penguatan secara legal juga harus dilakukan agar tidak terjadi pemekaran otonomi bagi daerah-daerah bekas ibukota.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: