review-silent-spring-bahasa-indonesia

Review: Silent Spring

Identitas Buku

  • Penulis: Rachel Carson
  • Penerbit: Fawcett World Library
  • Tahun: 1962
  • Tebal: 304 halaman

Review

Coba bayangkan kalau Anda tinggal di suatu desa kecil yang sangat nyaman untuk ditinggali. Disana Anda bisa mendengarkan suara alam dengan sangat jernih setiap harinya. Mulai dari suara-suara ternak yang mengembik, ayam-ayam yang berkokok, hingga nyanyian burung-burung yang beterbangan rendah diantara pohon-pohon. Ada juga ikan-ikan kecil di kolam yang aktif bergerak kesana kemari saat waktu melahap pakan tiba. Sekalipun desa kecil ini berada ditengah-tengah perkotaan, Anda pasti bisa merasakan keindahan dan ketenangannya dari waktu ke waktu.

Namun tiba-tiba suatu “sihir” datang dan mengacaukan seluruh suasana yang ada. “Sihir” itu tidak terlihat tetapi dampaknya sangat jelas terlihat di depan mata. Hanya gara-gara “sihir” itu, burung-burung yang biasa hinggap tidak lagi bermunculan seperti biasa. Ayam dan ternak yang Anda pelihara pun tidak mengeluarkan suara-suara lagi, pun dengan ikan-ikan yang secara misterius menghilang dari kolam.

Uniknya kondisi alam yang terlihat kasat mata nampak tidak mengalami perubahan sama sekali. Pohon-pohon apel itu tetap tumbuh dengan kokoh seperti sedia kala. Langit tetap cerah dipenuhi dengan awan-awan kecil yang bergerak beriringan. Semua nampak normal dan seperti biasanya. Satu-satunya pemandangan baru yang bisa kita saksikan ialah pemandangan hewan-hewan yang mati secara misterius diseantero desa tanpa kita ketahui apa penyebabnya. Hari-hari yang biasanya dihiasi dengan suara-suara alam tiba-tiba berubah menjadi sunyi dan senyap tanpa suara apapun. Itulah Silent Spring.

“Sihir” yang dimaksud dalam narasi diatas pada dasarnya merupakan sebuah analogi terhadap temuan baru manusia abad 19 yang bernama DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane). DDT merupakan suatu pestisida yang sangat massal digunakan di Amerika kala itu. Mayoritas masyarakat Amerika yang kala itu bertani percaya bahwa DDT merupakan solusi terbaik dalam menghadapi berbagai hama yang kerap menurunkan hasil panen mereka. Padahal dibalik manfaatnya itu, ia juga mengandung kerugian yang tak kalah dahsyat.

Dalam Silent Spring, dijelaskan dengan sangat gamblang bahwa DDT sangat resisten di lingkungan. Ia tidak bisa hilang dengan cara terurai di tanah atau menguap ke udara secara cepat. DDT akan tetap ada di lingkungan dalam jangka waktu tertentu. Efeknya tentu bisa ditebak: organisme di sekitarnya juga akan berinteraksi dengan DDT melalui berbagai cara. Hasilnya DDT bisa menyebar ke seluruh organisme karena adanya rantai makanan yang bekerja di lingkungan.

Ikan-ikan di kolam misalnya. DDT yang masuk kedalam perairan akan ikut masuk kedalam tubuh ikan lewat berbagai macam cara. Ikan yang sudah ‘terkontaminasi’ dengan DDT kemudian dimakan oleh ikan besar lain atau dimakan oleh manusia. Kandungan DDT pada makhluk hidup yang lebih besar ini kemudian dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dan peluang kerusakan yang dapat terjadi pun membesar. Pasalnya kerusakan dalam kasus ini bisa terjadi mulai dari skala terkecil (molekuler) hingga skala terbesar (ekosistem).

Itulah mengapa DDT terlihat sebagai musuh utama dalam Silent Spring dan satu-satunya kesimpulan utama yang bisa didapat dari buku ini ialah bahwa DDT sangat perlu dibasmi –atau setidaknya sangat dibatasi penggunaannya– demi menghindarkan kerusakan yang lebih besar lagi di masa yang akan datang.

Rachel Carson telah menerima pelbagai penghargaan lewat bukunya yang satu ini. Sebut saja misalnya The Schweitzer Medal (dari Animal Welfare Institute), Conservation Award for 1962 (dari Rod and Gun Editors of Metropolitan Manhattan), Award for Distinguished Service (dari New England Outdoor Writers Association), hingga Annual Founders Award (dari Isaak Walton League). Penghargaan-penghargaan tersebut menjamin adanya keunggulan yang luar biasa dari buku terbitan tahun 1962 ini. Adapun bila hendak dirinci, setidaknya keunggulan dari buku Silent Spring bisa dilihat dari 3 hal sebagai berikut.

Rachel Carson’s award.

Pertama ialah kepiawaian Rachel Carson dalam menyatakan kemarahannya dalam bentuk tulisan. Harus diakui bahwa menulis dengan emosi merupakan suatu hal yang sulit. Apalagi jika emosi yang hendak dituliskan adalah emosi marah. Akan tetapi Rachel Carson terlihat sangat piawai dalam melakukan hal tersebut. Carson mampu memperlihatkan kemarahannya yang meluap-luap dengan bahasa yang sangat elegan. Buktinya bisa dilihat pada potongan paragraf berikut.

“How could intelligent beings seek to control a few unwanted species by a method that contaminated the entire environment and brought the treat of disease and death even to their own kind?

Rachel Carson on Silent Spring

Keunggulan kedua dari Silent Spring ialah penggunaan kata-kata puitis yang sangat percaya diri dari seorang Rachel Carson. Carson memang memiliki latar belakang yang kuat dalam masalah ini dan ia kembali memanfaatkan hal tersebut dalam bukunya yang satu ini. Salah satu contohnya bisa dilihat ketika ia menggunakan frasa “Horde of minute but ceaselessly toiling creatures” untuk menggambarkan bakteri dan jamur yang hidup di lingkungan.

Adapun keunggulan ketiga dari buku ini ialah adanya perkenalan terhadap beragam ide-ide yang masih sangat segar kala itu. Misalnya tentang rantai makanan, keseimbangan relasi predator and prey, interdependensi dari sebuah ekosistem, serta potensi kerusakan besar yang dapat dimulai dari level molekuler. Ide-ide ini disampaikan dengan bahasa yang lugas sehingga dapat diikuti dengan mudah meskipun pembacanya bukanlah seorang yang mendalami dunia ekologi.

Namun diluar itu semua, Silent Spring tetap memiliki berbagai kritikan yang tajam. Bahkan jika hendak ditelusuri, sudah ada beberapa komunitas dan organisasi tertentu yang sengaja didirikan untuk menghalau pengaruh dari Silent Spring ini.

Salah satu kritikan terbesar dari Silent Spring ialah tidak adanya referensi ilmiah yang disematkan Carson di sepanjang penulisan buku ini. Beberapa pakar bahkan mendapati adanya argumentasi-argumentasi tidak ilmiah dan tidak akurat yang digunakan oleh Carson dalam buku ini. Hal ini tentu sangat krusial mengingat Carson membawakan buku dengan bentuk ilmiah populer.

Sementara itu salah satu kritikan yang paling keras malah berasal dari cara pandang Carson terhadap DDT. Carson seakan menjadikan DDT sebagai ‘iblis’ dalam Silent Spring. Padahal jika ditelisik secara lebih lanjut DDT memang tidak seburuk itu. Seiring perkembangan zaman DDT juga terus dilengkapi dengan berbagai bahan yang mampu menurunkan resistensi dan dampak buruknya terhadap lingkungan. Belum lagi adanya beberapa jenis hama tertentu yang hanya bisa dibasmi oleh DDT.

Inilah mengapa Rachel Carson sampai sempat didakwakan ke muka pengadilan hanya gara-gara Silent Spring. Carson dituduh bertanggung jawab atas kematian sejumlah masyarakat di Afrika yang menolak penggunaan DDT. Padahal sebelumnya DDT telah marak digunakan disana selama beberapa waktu dan tidak ada korban jiwa yang dihasilkan.

Meskipun begitu, nampaknya setiap orang bisa sepakat kalau Silent Spring merupakan salah satu buku paling efektif yang pernah ditulis di dunia ini. Silent Spring bukan hanya menjadi sajian penambah wawasan tetapi juga mampu melahirkan gerakan-gerakan baik yang bersifat pro maupun kontra di seluruh dunia pada zamannya. Kelahiran EPA (Environmental Protection Agency) pada tahun 1970 bahkan juga harus diakui merupakan salah satu efek dari kehadiran Silent Spring.

Oleh karena itu secara keseluruhan buku ini sangat wajib dibaca, terutama oleh mereka yang hendak berkecimpung dalam dunia ekologi. Mereka yang tidak tertarik dengan dunia ekologi pun sangat disarankan untuk membaca buku ini agar mereka dapat melihat bagaimana sebuah buku bisa benar-benar menghasilkan gerakan yang berdampak besar dalam skala global.

Tentang Penulis: Rachel Carson

Rachel Carson merupakan seorang penulis, ahli biologi kelautan, dan seorang konservatif asal Amerika Serikat. Lahir di Springdale, 27 Mei 1907, perempuan yang satu ini mengawali karirnya dengan menjadi seorang biologis yang bekerja di U.S. Bureau of Fisheries. Keaktifannya menulis dengan tema kehidupan didalam laut sejak tahun 1950 membuatnya tergerak untuk menerbitkan sebuah buku pada tahun 1951. Buku yang diberi judul The Sea Around Us itu bahkan berhasil mendapatkan penghargaan National Book Awards pada tahun 1952.

Rachel Carson, the author of “Silent Spring”.

Kesuksesan buku pertama tersebut membuat Carson tergerak untuk menulis lebih banyak lagi. Hingga akhirnya pada tahun 1955 ia berhasil menggenapkan buku trilogi lautnya bersama buku The Edge of the Sea dan Under the Sea Wind. Ketiga buku tentang laut tersebut menjelaskan dengan amat gamblang bagaimana kehidupan di dalam laut, mulai dari permukaan hingga lantai laut terdalam.

Barulah pada akhir tahun 1950an Carson menemukan ketertarikan pada dunia konservasi. Alumnus John Hopkins University ini sangat percaya kalau problema lingkungan masa itu disebabkan oleh pestisida sintetik yang diproduksi secara massal diseantero negeri. Maka dihasilkanlah buku Silent Spring pada tahun 1962. Sayangnya Carson wafat terlalu cepat pada tahun 1964 akibat serangan jantung. Namun karena jasanya yang besar dalam dunia ekologi, presiden Jimmy Carter pun menganugerahi Rachel Carson dengan Presidential Medal of Freedom secara anumerta pada tahun 1980.

One thought on “Review: Silent Spring

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: