Tugu Perjuangan: Cagar Budaya Indonesia di Tengah Kota Metropolitan

Pagi itu saya dipaksa berkeliling di kota Bekasi. Mulanya, saya hanya ingin membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) baru untuk keperluan melamar pekerjaan. Tetapi birokrasi yang belum efisien mau tidak mau membuat saya pulang dengan tangan hampa.

Mulanya saya datang ke Polres Metro Kota Bekasi. Namun ternyata mereka tidak melayani pembuatan SKCK baru kecuali pada waktu malam (17.00 – 05.00) dan harus sudah mengisi antrean online satu hari sebelumnya. Saya pun diarahkan menuju Mal Pelayanan Publik BTC. Sayangnya pembuatan SKCK di tempat tersebut hanya untuk 2 kelurahan di luar kelurahan tempat saya tinggal.

Saya pun bergerak menuju Mal Pelayanan Publik Mega Bekasi. Namun kehadiran saya pada jam 10 pagi itu sia-sia karena ternyata orang-orang sudah mengantre dari jam 6 pagi untuk berebut formulir yang jumlahnya terbatas.

Kesal, jengkel dan lelah jelas bercampur aduk. Sayangnya saya bukan tipikal orang yang suka berlama-lama di mal, sehingga saya memutuskan untuk segera keluar mal menggunakan sepeda motor. Mumpung masih di pusat kota Bekasi, mengapa tidak saya manfaatkan untuk keliling sejenak sambil menyegarkan pikiran?

Maka berkendaralah saya di kota metropolitan ini. Pemandangannya jelas sudah sangat berbeda dengan 4 tahun lalu sebelum saya merantau ke Bandung. Kota ini sudah penuh sesak dengan mal-mal besar dan gedung perkantoran yang tinggi. Tampilan Stadion Patriot yang ikonik itu pun sudah semakin megah layaknya stadion sepakbola di Eropa sana.

Stadion Patriot. Sumber: Pinterest/rizkyrizgun.

Hingga sampailah saya di Jalan Agus Salim. Jarak tempuhnya tak sampai 10 menit dari Stadion Patriot di Jalan Ahmad Yani, tetapi pemandangannya sangat kontras. Jika Jalan Ahmad Yani memiliki susunan bangku dan taman pinggiran yang rapi, Jalan Agus Salim justru seperti tak diurus sama sekali. Padahal di Jalan Agus Salim terdapat satu cagar budaya penting bagi orang Bekasi yaitu Tugu Perjuangan.

Saya pun memarkirkan kendaraan di minimarket dekat monumen tersebut, membeli minuman ringan, lalu duduk menatapi monumen yang terletak persis di pertigaan jalan itu. “Pasti ada sesuatu yang salah di sini”, gumam saya dalam hati.

Tugu Perjuangan, Masihkah Relevan?

Berdasarkan informasi yang tertulis di nisan tugu, Tugu Perjuangan merupakan cagar budaya yang dibangun sebagai napak tilas para pahlawan di tanah Bekasi. Konon di wilayah sekitar Tugu Perjuangan sering terjadi pertempuran antara para pejuang RI dengan penjajah Sekutu dan Belanda. Titik ini bahkan menjadi sejarah dibumihanguskannya Bekasi sebelah Barat dan sebelah Timur pada masa perjuangan tersebut.

Tugu Perjuangan Bekasi di pertemuan Jalan Agus Salim dan Jalan Ki Mangun Karso (Dok. Pribadi).

Bagian kepala Tugu Perjuangan terdiri dari pecahan peluru, meriam, granat tangan, selongsong peluru, serta pistol Buldoch yang biasa digunakan oleh para pejuang. Adanya alat perang yang bermacam-macam ini mengisyaratkan satu makna penting: bahwa sejak dulu perjuangan hanya dapat diwujudkan dengan gotong-royong. Bukan dengan satu-dua alat peperangan semata.

Tulisan di Nisan Tugu Perjuangan Bekasi (Dok. Pribadi).

Pertanyaannya, masih adakah semangat gotong royong itu pada masyarakat Bekasi?

Menjawabnya tentu sangat sulit, sebab kita perlu suatu bukti yang konkret agar kita percaya diri dalam mengutarakannya.

Adakah RT/RW yang masih rutin melakukan kerja bakti? Tentu saja ada. Tetapi yang mampu menyelenggarakan kerja bakti setiap bulan sudah pasti terbilang langka.

Adakah sekelompok masyarakat yang masih menerapkan sistem ronda bergilir? Tentu juga masih ada. Namun yang mampu konsisten melaksanakannya tentu dapat dihitung jari.

Selain 2 contoh sederhana di atas, fenomena apa lagi yang bisa kita lihat sebagai bentuk gotong royong? Pengerjaan proyek jalan dan jembatan tentu saja tidak bisa kita golongkan kesini. Toh sebagian besar pekerjanya juga bukan berasal dari kawasan metropolitan ini.

Akhirnya kita kesulitan menemukan fenomena gotong royong di dalam masyarakat ini. Entah karena gotong royong sudah tak lagi relevan, atau justru kita yang sudah minim interpretasi akan makna gotong royong itu sendiri. Satu yang pasti, bahwa krisis gotong royong ini terjadi beriringan dengan kurang terurusnya cagar budaya yang membawa pesan akan nilai gotong royong tersebut.

Cagar Budaya itu Menjaga, Bukan Dijaga!

Tugu Perjuangan adalah cagar budaya. Karenanya, melihat dari perspektif cagar budaya menjadi penting agar kita dapat menemukan duduk perkara yang tepat.

Bagi kebanyakan orang, cagar budaya itu harus dijaga agar terpelihara kelestariannya. Namun bagi saya, cagar budaya itu justru menjaga dan bukan dijaga. Dengan kata lain, menurut saya, sesungguhnya cagar budaya itu lah yang menjaga kita dan bukan kita yang menjaga cagar budaya.

Pemahaman ini lahir begitu saya melihat perkembangan kota Bekasi yang begitu pesat. Gedung-gedung perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, jalan layang dan bebas hambatan. Hampir semua infrastruktur kota metropolitan berhasil dibangun di sini hanya dalam kurun waktu 5-10 tahun terakhir.

Metropolitan Mall, satu bukti pesatnya pembangunan di kota Bekasi. Sumber: malmetropolitan.com.

Lantas apa yang nantinya akan membedakan kota Bekasi dengan kota-kota besar lainnya? Apa yang membedakan Bekasi dengan Jakarta, dengan Depok, Tangerang, atau bahkan Bogor? Apakah hanya masalah letak geografis di atas peta dan cuaca panas yang lebih intens daripada tempat lainnya?

Tentu saja jawabannya tidak. Bekasi harus punya identitas sendiri yang membedakannya dengan kota lainnya. Infrastruktur boleh sama, tapi ciri khas harus tetap ada. Lagi pula bukankah julukan Kota Patriot hanya diberikan kepada kota Bekasi dan bukan kota lainnya? Sebagaimana julukan Kota Kembang hanya diberikan kepada kota Bandung dan kota Hujan hanya diberikan kepada kota Bogor. Setiap kota tidak boleh kehilangan identitas dan ciri khasnya.

Inilah pentingnya cagar budaya. Sebagai peninggalan yang telah bertahan puluhan atau bahkan ratusan tahun lamanya, cagar budaya merupakan entitas penting yang menjadi saksi sejarah suatu kota. Ia berdiri kokoh menemani masyarakat kita beregenerasi dari era kerajaan, era penjajahan, era perjuangan, hingga era reformasi dan era keterbukaan informasi seperti sekarang ini.

Cagar budaya tak ubahnya seperti memento yang ditinggalkan oleh para pendahulu kepada generasi-generasi setelahnya. Cagar budaya seakan menjadi media komunikasi lintas generasi yang membawa pesan-pesan berupa nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Kemampuannya untuk terus terhubung dengan masa lalu ini jelas tak dapat ditandingi dengan teknologi komunikasi apa pun yang tersedia hari ini.

Sayangnya pengoptimalan cagar budaya tak akan terealisasi jika hanya dijadikan pandangan. Kita butuh sebuah solusi yang efektif dan efisien supaya kita tidak dikalahkan oleh waktu yang secara konsisten menggerogoti bagian demi bagian dari cagar budaya.

Berkolaborasi, Bergotong-royong Kembali

Tugu Perjuangan tentu bukan satu-satunya cagar budaya di kota Bekasi. Masih banyak cagar budaya yang lain dan beberapa diantaranya bahkan masih aktif berfungsi. Sebut saja misalnya Rumah Adat Bekasi dan Sumur Kembar di Kranggan atau Tugu Bambu Runcing di area Hutan Kota Bekasi.

Tugu Perjuangan, Adakah Kurang Terurus? (Dok. Pribadi).

Anggaran Pemerintah Kota pun terbatas, sehingga muncullah prioritas. Cagar budaya seperti Rumah Adat tentu didahulukan karena memiliki nilai dari segi pariwisata. Sangat berbeda dengan Tugu Perjuangan yang terletak di pertigaan jalan dan sulit dikunjungi wisatawan.

Namun cagar budaya tetaplah cagar budaya. Masing-masing tetap memiliki keunikan dan kedalaman pesan tersendiri sehingga tidak ada satu pun cagar budaya yang boleh dikesampingkan. Karenanya, dibutuhkan peran dan sokongan dari banyak pihak untuk merawat semua cagar budaya yang ada di kawasan ini.

Pemkot mungkin terbatas pada masalah anggaran. Artinya, pihak swasta dapat diberikan ruang untuk ikut serta dalam pembiayaan ini. Alokasinya tentu tak mesti harus dana CSR. Dana periklanan pun bisa dimanfaatkan jika cerdik mengambil aspek pelestarian sebagai nilai tambah perusahaan.

Akses kepada para peneliti dan institusi pendidikan juga perlu diperlebar. Dalam kasus Tugu Perjuangan misalnya, tiadakah peneliti yang tertarik memperdalam material peluru yang digunakan oleh para pejuang kita dahulu? Kimiawan, arkeolog, biologis, ahli geologi, hingga ahli material tentu dapat bersinergi menggarap lahan penelitian yang belum banyak dieksplor ini.

Sebagai cagar budaya Indonesia, Tugu Perjuangan perlu mendapat perhatian (Dok. Pribadi).

Para ahli perencanaan tata kota dan pengembang wilayah juga perlu didekatkan dengan cagar budaya. Bagaimana caranya, pembangunan yang dilakukan tidak boleh menghapus identitas dan ciri khas dari tiap-tiap cagar budaya. Lebih bagus lagi kalau cagar budaya dapat dijadikan titik mula, agar bangunanlah yang mengikuti cagar budaya dan bukan sebaliknya.

Rentetan tawaran solusi ini dalam bahasa kekinian kerap disebut kolaborasi. Padahal kalau dipikir-pikir, ide dasarnya sama saja seperti konsep gotong royong dalam filosofi budaya kita.

Hal ini berarti bahwa kita tidak perlu terlalu pusing memikirkan solusi untuk melestarikan cagar budaya yang kita punya, sebab cagar budaya itu sendirilah yang menjadi jawabannya. Dengan terus merawat, baik struktur maupun interpretasi maknanya, kita sudah ikut menyumbang sekaligus menyambung nilai-nilai luhur kepada generasi di masa depan sana.

Bayangan tonggak akibat matahari rupanya sudah semakin meninggi. Kumandang adzan dzuhur pun tinggal beberapa menit lagi. Perjumpaan saya dengan Tugu Perjuangan ini pun harus saya sudahi sebelum matahari meninggalkan bekas legam di kulit sawo matang ini. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: