Istiqomah adalah pekerjaan yang berat lagi membosankan. Memangnya siapa yang mampu bertahan dari rasa kebosanan ketika harus melakukan ibadah dengan intensitas yang sama setiap harinya?

Saking beratnya perintah yang satu ini, sampai-sampai Allah berani menjanjikan surga sebagai balasan bagi orang-orang yang istiqomah.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka beristiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih. Dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.” (QS. Fusshilat: 30).

Dengan besarnya ganjaran tersebut, muslim mana yang tak tertarik untuk beristiqomah? Teman-teman pun pasti sudah pernah mencoba beristiqomah meski harus tertatih-tatih dalam menjalankannya.

Nah dalam kesempatan kali ini akan dipaparkan cara-cara praktis yang bisa teman-teman lakukan agar istiqomah menjadi mudah. Seluruh cara ini berasal dari Surat Hud ayat 112, satu-satunya ayat yang secara eksplisit berisikan perintah Allah untuk beristiqomah. Berikut kiat-kiatnya.

1. Siapkan Orang Lain yang Siap Menegur Kalau Kita Mulai Tidak Konsisten

Agar Istiqomah Menjadi MudahSatu-satunya ayat yang membahas tentang istiqomah ini dimulai dengan kata “fastaqim”, yang berarti “beristiqomahlah engkau!” Orang pertama yang mendapat ayat ini adalah Rasulullah saw dan kata “fastaqim” merupakan suatu bentuk peringatan. Sehingga secara langsung melalui ayat ini Allah swt mengingatkan Rasulullah untuk beristiqomah.

Dengan kata lain, untuk dapat beristiqomah kita membutuhkan orang lain yang siap mengingatkan kita dari waktu ke waktu. Seminimalnya orang tersebut bisa mengingatkan kita kalau-kalau kita mulai tidak konsisten.

Ambillah contoh seorang karyawan baru yang rutin datang tepat waktu ke kantor salama 1 bulan pertama bekerja. Tepat pada hari pertama bulan kedua bekerja, ia sengaja datang terlambat sebab ingin melihat respon dari lingkungannya. Ternyata tidak ada seorang pun yang menegur keterlambatannya.

Keesokan harinya ia kembali datang terlambat namun lagi-lagi tidak ada yang menegur kelalaiannya. Maka seterusnya ia akan kembali datang terlambat karena merasa tidak ada yang cukup perhatian untuk mengingatkannya datang tepat waktu.

Lantas apakah memiliki orang lain yang siap menegur adalah suatu hal yang wajib?

Well, kalau seorang Muhammad saw saja masih butuh diingatkan oleh Allah agar tetap beristiqomah, apalagi kita?

 

2. Cari tahu secara detil perihal apa-apa yang ingin dikonsistenkan

Mungkinkah seseorang bisa konsisten kalau ia sendiri tidak tahu apa saja yang harus dikonsistenkan? Tentu saja tidak mungkin!

Oleh karena itulah dalam lanjutan ayat tentang istiqomah ini, Allah mengatakan “kamaa umirta” yang berarti sesuai dengan apa-apa yang diperintahkan kepadamu. Dengan kata lain, kita diharuskan mempelajari hal-hal yang ingin kita istiqomahkan sesuai tuntunan Qur’an dan Sunnah. Sebab mustahil kita bisa istiqomah kalau kita saja tidak tahu apa-apa yang harus kita istiqomahkan.

Jadi mulai sekarang bisa dipelajari lagi nih ibadah-ibadah yang ada. Minimal dari yang wajib seperti sholat berjamaah dan puasa Ramadan. Syukur-syukur kalau bisa me-review kembali amalan-amalan sunnah seperti puasa senin kamis, puasa Ayyamul Bidh, sholat dhuha, qiyamul lail, dan lain-lain.

Cara ini juga bisa kamu pakai untuk urusan diluar ibadah lho! Dalam hal menulis misalnya. Bila kamu ingin dapat konsisten menulis maka kamu harus benar-benar tahu tulisan seperti apa yang ingin kamu konsistenkan. Penting juga untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan seperti tema tulisan apa yang ingin kamu buat, bagaimana cara kamu mendapatkan bahan untuk tulisanmu, dan seterusnya.

Intinya ketahuilah secara detil tentang apa-apa yang ingin kamu konsistenkan sebelum mulai melakukannya secara terus menerus dari hari ke hari.

 

3. Bangun lingkungan yang mendukung

Dalam penelitian seringkali suatu organisme dikondisikan dalam lingkungan terkontrol secara khusus. Tujuannya tentu agar gangguan dari luar terhadap organisme tersebut dapat diminimalisir. Sehingga diharapkan pertumbuhanya dapat berlangsung secara optimal sesuai yang diharapkan.

Contoh diatas dapat kita terapkan juga dalam kasus beristiqomah. Kenyataannya lingkungan kita seringkali membuat kita sulit beristiqomah. Hasilnya pun bisa ditebak: rencana istiqomah kita terancam gagal.

Oleh karena itu kita perlu membuat lingkungan tersendiri yang lebih terkondisikan dengan cara banyak berinteraksi dengan orang-orang yang mau mendukung niatan kita. Dan orang-orang tersebut adalah orang-orang yang hendak bertaubat sebagaimana yang Allah katakan dalam lanjutan ayat ke-112 ini.

Kamu juga bisa menemui orang-orang yang baru masuk Islam atau baru belajar Islam secara lebih mendalam. Sebab mereka umumnya masih memiliki semangat yang menggebu-gebu. Dengan bergaul dengan mereka tentu kita berharap ada satu-dua semangat yang tertransfer sehingga kita bisa bergairah kembali untuk beristiqomah.

 

4. Jangan melampaui batas kemampuan

Suatu truk pasti memiliki nilai beban maksimal tertentu yang masih bisa ia bawa. Bila suatu hari kita menempatkan beban yang melebihi kapasitas, mungkin saja truk tersebut masih bisa berjalan seperti biasa. Akan tetapi bila terlalu sering tentu kemampuan truk tersebut akan berkurang sehingga ia bisa turun mesin lebih cepat dari yang seharusnya.

Hal serupa terjadi pada manusia. Mungkin bisa saja suatu hari kita beribadah dalam kuantitas yang jauh lebih banyak daripada biasanya. Sebut saja misalnya sholat dhuha 12 rakaat sehari atau tilawah 3 juz sehari. Akan tetapi lama kelamaan tentu kita akan merasa jenuh. Sehingga tak jarang akhirnya kita memilih untuk ‘libur’ mengerjakan ibadah sunnah dahulu barang sehari atau dua hari.

Padahal Allah jauh lebih mencintai amalan yang sedikit namun terus menerus daripada amalan yang banyak tetapi putus-putus. Bukan berarti amalan yang banyak kuantitasnya itu kurang dicintai. Tetapi Allah juga sangat mengerti kemampuan hamba-Nya. Maka tak heran bila dalam ayat istiqomah ini Allah mengisyaratkan dengan “wala tathgaw”. Jangan berlebihan.

Jadi kalau ingin nafasnya panjang, beribadahlah dengan semampunya. Boleh melebihkan kuantitas tetapi jangan terlalu sering. Lakukanlah amalan yang sedikit namun jaga konsistensinya dari hari ke hari sebab hal tersebut jauh lebih dicintai oleh Allah.

 

5. Berusahalah selalu merasa diawasi oleh Allah dari waktu ke waktu

Ayat tentang istiqomah ini Allah tutup dengan taujih yang luar biasa, “Innahu bima ta’maluuna bashiir”. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan, begitu terjemahannya.

Seakan-akan Allah hendak memberi tahu bahwa kunci istiqomah yang terakhir adalah terus merasa diawasi oleh Allah. Sebagaimana kita selalu bisa fokus membaca buku ketika sedang diawasi oleh dosen di kelas.

Dan kawan-kawan pun pasti tahu kalau pengawasan Allah itu sempurna dan tanpa celah. Apapun yang kita lakukan tak akan luput barang sedetikpun dari para malaikat yang Allah tugaskan untuk mengawasi kita. Termasuk usaha dan kesungguhan kita dalam beristiqomah.

 

Sekali lagi istiqomah adalah perihal yang sangat berat. Saking beratnya rambut Rasulullah sampai memutih ketika ayat ini turun. Padahal saat ayat ini turun umur Rasul belum begitu tua. Sehingga satu-satunya alasan rambut beliau memutih ialah karena ia merasa betapa beratnya beban istiqomah yang baru saja Allah berikan.

Makanya dalam beristiqomah kita memerlukan rekan yang mampu membantu kita agar tetap beristiqomah. Kita juga perlu mempelajari kembali hal-hal yang ingin kita istiqomahkan disamping bergaul dengan orang-orang yang memiliki semangat dalam bertaubat. Amalan yang hendak kita istiqomahkan juga sebaiknya dimulai dari yang sedikit atau yang ringan terlebih dahulu. Sebab yang terpenting bisa dilakukan terus menerus sembari merasa selalu diawasi oleh Allah swt.

Itulah kiat-kiat yang bisa kita lakukan agar istiqomah menjadi mudah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam keistiqomahan.

“Allahumma mushorrifal qulub, shorrif qulubana ‘ala ta’atik. Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik” (O Allah, the Turner of the hearts, turn our hearts to your obedience. O Allah, Changer of the Hearts, Strengthen my heart upon Your Religion).

Disadur dari Ta’lim Sabtu Istiqomah tanggal 22 Juli 2017 di Masjid Istiqomah Bandung bersama Ust. Nur Ihsan Jundullah.

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *