Mengenal AgriProtein: Industri BSF Seharga USD 106 Juta

Lalat tentara hitam (Hermetia illucens), atau lebih dikenal dengan sebutan BSF, merupakan satu jenis serangga yang memiliki kadar protein dalam jumlah tinggi. Kadarnya dapat mencapai 40-50% untuk setiap satu ekor larvanya (Bosch, et. al., 2014). Uniknya BSF bisa mendapatkan nutrisi dari limbah organik. sehingga amat cocok diterapkan pada daerah yang banyak menghasilkan limbah organik alias daerah padat penduduk.

Disclaimer

Postingan ini merupakan bagian dari final report yang saya ajukan untuk mata kuliah MB4070 – Manajemen Bioindustri dan Kewirausahaan.

BSF juga dapat mengakumulasi makanan secara cepat dan banyak didalam tubuhnya (Tomberlin & Sheppard, 2002). Hal ini dapat dibuktikan dengan cepatnya siklus hidup dan tingginya laju pertumbuhan dari BSF. Siklus hidupnya hanya sekitar 30-40 hari, sementara dalam satu kali siklus satu ekor BSF betina bisa menghasilkan telur hingga 1200 telur (Rachmawati, 2010).

Siklus hidup lalat tentara hitam (BSF). Sumber.

Keunggulan-keunggulan ini menjadikan BSF sebagai sumber pakan alternatif favorit karena dapat menyelesaikan 3 masalah sekaligus. Ketiga masalah yang dimaksud ialah rendahnya laju produksi pakan, rendahnya kandungan nutrisi pada pakan, dan tingginya volume limbah organik, Inilah satu bentuk teknologi yang coba dikembangkan oleh perusahaan dan start-up pakan hari ini.

Salah satu contoh industri BSF yang sudah cukup mapan ialah AgriProtein. Dalam waktu 10 tahun saja, perusahaan privat yang dibangun pada tahun 2008 ini mampu mendapatkan pendanaan hingga USD 106 juta. Nilai ini merupakan rekor pendanaan terbesar bagi industri yang memanfaatkan serangga dan berada pada urutan ke-18 pada daftar pendanaan terbesar bagi industri farm tech.

Logo AgriProtein. Sumber.

Sampai saat ini AgriProtein telah memiliki 6 situs pengembangan larva BSF. Tiga diantaranya terletak di Timur Tengah, satu terletak di Afrika Selatan dan dua sisanya terletak di Asia. Strategi pengembangan industri berbasis regional ini diyakini sebagai salah satu kunci kesuksesan AgriProtein karena masing-masing regional bisa berfokus mengkonversi limbah organik yang dihasilkan di tempat masing-masing. Biaya transportasi limbah sebagai nutrisi bagi BSF bisa ditekan dan AgriProtein berpeluang mendapatkan insentif dari pemerintah setempat berkat jasanya dalam menurunkan volume limbah organik di tempat tersebut.

AgriProtein juga menerapkan konsep diversifikasi produk dari proses pengolahan limbah yang ia lakukan menggunakan BSF. Produk pertama ialah MagMealTM yang merupakan pakan ternak dari larva BSF. Bentuknya sudah sangat mirip dengan pakan ternak komersil pada umumnya dan dijual dalam bentuk karungan. MagMealTM menjadi produk utama bagi AgriProtein.

MagMealTM . Sumber.

Adapun produk kedua dari AgriProtein ialah MagOilTM. Produk ini merupakan minyak yang diekstrak dari larva BSF. Minyak ini dapat digunakan sebagai bahan tambahan bagi pakan ternak komersil sehingga kadar nutrisi pakan ternak komersil bisa meningkat. Kini AgriProtein bahkan sedang melakukan riset khusus untuk memanfaatkan MagOilTM sebagai salah satu bahan kosmetik.

MagOilTM . Sumber.

Sementara itu produk ketiga dari AgriProtein adalah MagSoilTM. MagSoilTM merupakan pupuk kompos yang telah dicampur dengan larva BSF untuk meningkatkan nutrisi pada pupuk tersebut. MagSoilTM dipercaya memiliki kandungan kalsium, magnesium dan nitrogen yang lebih tinggi dari pupuk kompos biasa sehingga tak sekedar mampu menyuplai nutrisi bagi tanaman tetapi juga mampu mempercepat pertumbuhan akar.

MagSoilTM . Sumber.

Diversifikasi produk ini lahir akibat kerjasama antara AgriProtein dengan Universiteit Stellenbosch University dan London School of Hygiene & Tropical Medicine untuk terus melakukan riset dan pengembangan terkait lalat tentara hitam. Kerjasama dengan pihak kampus ini tentu menjadi pilihan yang efektif karena dapat menghemat biaya dalam menggelar riset dan pengembangan secara mandiri.

Melalui website resminya, AgriProtein juga menyatakan bahwa industri mereka bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan, mulai dari memperkuat ekosistem lautan, menurunkan dampak karbon dan menurunkan volume limbah organik di daratan. Hal inilah yang membuat organisasi seperti WWF dan Bill & Melinda Gates Foundation tertarik untuk bemitra secara langsung. Keunggulan dari aspek kelestarian (sustainability) inilah yang menyebabkan AgriProtein mampu berkompetisi dengan jajaran perusahaan pakan yang sudah berskala besar.

AgriProtein merupakan contoh yang amat baik bagi sebuah industri BSF. Lantas menurutmu, mengapa sampai saat ini belum ada industri semacam AgriProtein di Indonesia? Bukankah Indonesia merupakan salah satu penghasil limbah organik tertinggi di dunia? 😀

See you at the next post!

Referensi

Bosch, G., Zhang, S., Oonicx, D. G., & & Hendriks, W. H. (2014). Protein Quality of Insects as Potential Ingredients for Dog and Cat Foods. Journal of Nutritional Science, 3, 29.

Rachmawati, D. B. (2010). Perkembangan dan Kandungan Nutrisi Larva Hermetia illucens (Linn.) (Diptera: Stratiomyidae) pada Bungkil Kelapa Sawit. J. Entomol. Indon., 28-41.

Tomberlin, J. K., & Sheppard, D. C. (2002). Factors Influencing Mating and Oviposition of Black Soldier Flies in a Colony. Journal of Entomology Science, 37, 345-352.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: