Saya memiliki seorang kawan. Saat masih duduk di bangku kelas XI dulu, ia bukan tergolong anak yang memiliki prestasi akademik cemerlang. Bahkan tak jarang ia harus mengikuti remedial pasca Ujian Akhir Semester demi memenuhi nilai KKM yang ditetapkan.

Kini ia sedang mengikuti program Management Trainee di salah satu perusahaan konsultan Engineering di Jakarta. Jenjang karirnya mantap ia tapak setelah berhasil lulus dari salah satu PTN di Yogyakarta dengan predikat cum laude beberapa bulan yang lalu. Salut!

Ada juga kawan saya yang satu lagi. Satu almamater dengan saya dari kampus Ganesha. Tidak lulus cum laude memang, namun tetap saja intelektualitasnya di atas rata-rata.

Kawan saya ini baru menganggur 2 bulan. Tetapi rungsingnya luar biasa. Beberapa interview sudah ia ikuti, namun sepertinya memang belum rejeki. Waktu luangnya pun jadi tidak produktif. Amat kontras dengan sosoknya yang saya kenal sebagai salah seorang aktivis semasa masih di kampus dulu.

Bukan. Saya bukan hendak mendiskreditkan kawan saya, apalagi almamater saya. Namun ada satu hal penting yang mesti kita pahami: bahwa pendidikan formal itu belum cukup untuk bisa menghasilkan Sumber Daya Manusia yang benar-benar unggul.

Bolehlah saya analogikan seperti sebuah kayu. Proses pengolahan kayu di hutan untuk menjadi balok-balok kayu tentu dapat dilakukan oleh mesin. Tetapi untuk mengubah balok-balok kayu tersebut menjadi furnitur berharga ratusan juta, praktis dibutuhkan seniman dan pengrajin yang handal.

Analogi Kayu (Dokumentasi pribadi).

Mesin kayu itulah yang analog dengan pendidikan formal. Perguruan tinggi jelas memegang andil dalam membentuk SDM dengan standar kualitas yang kita sebut sebagai sarjana. Tetapi untuk mengubah sarjana tersebut menjadi manusia yang unggul hingga mampu berkarya untuk bangsa dan negaranya, tentu diperlukan peran dari pihak-pihak yang lain.

Ada peran guru atau dosen yang tak sekedar menurunkan bahan studi, tetapi juga rutin membagikan inspirasi. Ada peran orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan ruang kepada anaknya, agar ia bisa bebas berkarya.

Ada juga peran organisasi, baik di level sekolah maupun kampus, yang menghadirkan wadah pembelajaran tak bertepi. Bahkan ada juga peran media, yang berusaha menyajikan konten dan tontonan berkualitas di layar gawaiAnda.

Banyak pihak yang dapat mengisi posisi seniman atau pengrajin handal dalam analogi kayu. Salah satunya ialah Kamar Dagang dan Industri Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan Kadin.

Mengenal Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)

Kadin merupakan suatu wadah bagi para pengusaha Indonesia, baik di bidang usaha negara, usaha koperasi, atau pun usaha swasta. Cita-citanya ialah mewujudkan dunia usaha Indonesia yang kuat dan berdaya saing tinggi, dengan bertumpu pada keunggulan Sumber Daya Nasional dan memerhatikan prinsip keseimbangan.

Nama Kadin mungkin masih terdengar cukup asing bagi sebagian orang. Padahal Kadin Indonesia hari ini sudah menginjak umur ke-51 tahun. Pertama kali dibentuk pada 24 September 1968, organisasi ini juga sudah diakui secara legal oleh pemerintah RI lewat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri.

Secara aktif Kadin mengadakan program-program pembinaan bagi pengusaha Indonesia. Mulai dari Pelatihan Digital Interaktif Marketing Tools, Workshop dari Bisnis Offline ke Bisnis Online, hingga Pelatihan Agroenergi untuk UMKM.

Kadin juga gemar berkolaborasi dengan pihak-pihak lainnya dalam mengadakan program pembinaan. Misalnya dengan mengadakan Pelatihan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan bersama Lemhanas dan Pelatihan Bisnis Berintegritas bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Deretan program pembinaan ini memperlihatkan bahwa Kadin menaruh perhatian besar pada pengembangan potensi Sumber Daya Manusia di Indonesia. Nampaknya Kadin percaya, bahwa SDM yang unggul merupakan batu bata penting dalam memperkuat pondasi industri yang menopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia juga aktif melakukan komunikasi dengan pengusaha dari berbagai bidang. Salah satu buktinya ialah dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tantangan industri masa kini secara spesifik. Beberapa FGD yang pernah digelar diantaranya membahas tentang sawit, gula, jagung, kelapa, baja impor, kakao, dan blockchain.

Agenda seperti konferensi, pameran, hingga Rapat Koordinasi (Rakor) juga tak ketinggalan digelar oleh Kadin. Agenda-agenda ini dijalankan demi memenuhi fungsi informasi, representasi, konsultasi, dan advokasi yang diamanatkan oleh pemerintah melalui UU Nomor 1 Tahun 1987 kepada Kadin.

(Dokumentasi pribadi).

Kontribusi Kadin dalam mendukung perekonomian Indonesia selama 51 tahun jelas tak perlu diragukan. Namun segudang pekerjaan masih menanti. Pasalnya tantangan di dunia industri semakin bervariasi. Siapa yang gagap beradaptasi, harus siap tergilas kompetisi.

Industri sawit misalnya, tengah menghadapi ketegangan menghadapi kebijakan countervailing dari Uni Eropa. Pemerintah pun sudah menanggapi dengan mengeluarkan berbagai produk kebijakan dan melakukan diplomasi. Namun sampai saat ini belum terlihat jalan terang dari kedua belah pihak, sehingga industri sawit dalam negeri pun harus siap menerima dampak.

Tantangan juga datang dari industri kertas yang tengah kesulitan melakukan impor bahan baku. Penyebabnya adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84 Tahun 2019 yang mengatur tentang impor limbah tidak berbahaya sebagai bahan baku industri. Kebutuhan advokasi pun menjadi mendesak agar industri kertas domestik bisa tetap bertahan.

Jangan lupakan juga industri tekstil dalam negeri yang perlu mendapatkan perhatian. Pertumbuhannya cukup terganggu lantaran besarnya keran impor yang dibuka oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Karenanya, penyediaan ruang perlu dilakukan agar industri tekstil dalam negeri bisa berkembang.

Tantangan-tantangan itu semakin beragam karena mengikuti zaman yang kian berubah. Disrupsi teknologi, profil milenial, hingga ancaman kelestarian lingkungan akan menjadi bahan garapan bagi Kadin kedepan.

Oleh karena itu, masih dalam momentum pasca Rapimnas Kadin tahun 2019, ditambah momentum dimulainya dekade yang baru di tahun 2020, saya hendak menyampaikan 3 harapan bagi Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

3 Harapan Bagi Kamar Dagang dan Industri Indonesia

Pertama, interaksi antara perguruan tinggi dengan industri perlu ditingkatkan lagi. Interaksi yang dimaksud tentu bukan sekedar menyelenggarakan event kolaborasi berbentuk seminar atau pameran, melainkan interaksi yang lebih dalam lagi.

Misalnya dengan memperbanyak program seperti Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) yang dihelat oleh BUMN. Tujuannya supaya para mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman kerja meskipun belum menyandang gelar sarjana atau diploma.

Program Magang Mahasiswa Bersertifikat. Sumber: ITB Career Center.

Industri tentu berpotensi mendapatkan keuntungan berupa tenaga kerja terdidik dengan biaya yang murah. Sementara pihak kampus juga dapat diuntungkan dengan paparan industri yang lebih intens. Paparan ini amat berguna dalam merumuskan arah riset agar dihasilkan produk teknologi yang benar-benar tepat guna.

Dalam kasus ini, Kadin Indonesia dapat menjalankan perannya dengan membangun komunikasi kepada Kemenristekdikti dan industri-industri. Komunikasi ini juga perlu dilakukan dengan cepat. Pasalnya jika interaksi ini lambat dibangun, bukan tidak mungkin Indonesia berpotensi menghadapi ledakan pengangguran dalam 5-10 tahun kedepan.

(Dokumentasi pribadi)

Harapan kedua adalah mendorong industri-industri yang ada agar semakin memerhatikan aspek keberlanjutan (sustainability). Aspek ini sudah menjadi tren utama di dunia industri global, tetapi masih cukup banyak industri dalam negeri yang belum tertarik untuk bergerak ke arah sana.

Mengapa aspek keberlanjutan dapat menjadi tren utama di dunia industri global? Jawabannya tentu saja karena dengan memerhatikan aspek tersebut sebuah industri berpotensi meraup profit yang lebih besar.

Mari ambil contoh industri peternakan sapi. Alih-alih membuang limbah kotoran sapi ke sungai, jauh lebih baik membuat instalasi biodigester untuk memproduksi biogas. Biogas tersebut nantinya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik internal, baik kebutuhan listrik proses maupun kebutuhan listrik sehari-hari.

Biodigester. Sumber: ayobandung.com.

Fraksi padat yang tidak dapat diolah menjadi biogas juga masih bisa diolah menjadi kompos. Sementara residu yang berwujud cair dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair (POC). Emisi limbah ke lingkungan pun dapat ditekan dan industri tersebut berpeluang mendapatkan penghasilan tambahan dari produk samping yang dihasilkan.

Contoh lainnya misal industri minyak nilam. Industri minyak atsiri ini masih mengandalkan proses termokimia sehingga menghasilkan limbah kimia yang tidak mudah untuk diolah. Padahal, proses biologis bisa diterapkan dengan memanfaatkan jamur yang dapat digunakan berulang kali dan minim limbah.

Tentu saja cara-cara di atas mudah dijabarkan secara konsep, namun lumayan sulit untuk diterapkan di lapangan. Maka dari itu, Kadin perlu menggiatkan pembinaan tentang industri yang terintegrasi (terpadu) agar masing-masing sektor dapat menghasilkan proses yang lebih bersih dan mendukung keberlanjutan.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) Nomor 9 tentang industri. (Sumber: un.or.id).

Proses pembinaan ini juga dapat dilakukan dengan menggandeng pihak universitas agar ruang diskusi antara akademisi dengan pihak industri semakin intens. Kadin nantinya dapat lebih fokus dalam mendorong hilirisasi industri pada level yang lebih strategis.

Adapun harapan ketiga saya bagi Kamar Dagang dan Industri Indonesia ialah mempererat komunikasi dengan institusi serupa di Asia Tenggara. Asia Tenggara sendiri sudah digadang-gadang dapat menjadi kekuatan ekonomi baru akibat pertumbuhannya yang begitu baik dalam beberapa tahun ke depan.

Bukan tidak mungkin jika perang dagang akan semakin ketat kedepan. Uni Eropa, Amerika, atau bahkan Cina bisa saja mengeluarkan kebijakan proteksi demi mengamankan pertumbuhan ekonomi di wilayahnya masing-masing.

Hal inilah yang perlu diantisipasi dengan membangun kekuatan ekonomi di ASEAN. Pun jika tidak ada perang dagang, kekuatan ekonomi ini bisa menggairahkan industri pada level domestik untuk melakukan perdagangan di level regional.

Industri di ASEAN diperkirakan dapat menjadi kekuatan ekonomi yang baru. Sumber: A.T. Kearney.

Ketiga harapan di atas tentu tidak dapat terwujud dalam waktu singkat. Satu dekade pun belum tentu cukup. Namun pilihan Kadin untuk semakin fokus pada penyiapan SDM unggul membuat saya optimis dengan harapan-harapan ini.

Kembali ke analogi kayu, Kadin dapat mengisi peran sebagai seniman atau pengrajin handal yang mengubah balok-balok kayu menjadi furnitur berharga milyaran. Sumber daya, posisi, dan koneksi yang sudah dibangun Kadin selama 51 tahun terakhir tentu saja menjadi modal yang lebih dari cukup untuk melaksanakan tugas mulia ini.

Akan tetapi menyerahkan segala pekerjaan itu kepada Kadin semata juga bukan hal yang baik. Partisipasi dari berbagai pihak jelas dibutuhkan dalam mewujudkan harapan-harapan ini. Baik itu pihak pemerintah, pihak swasta, pelaku usaha, institusi pendidikan hingga pihak NGO dan media.

Selamat berkolaborasi di dekade yang baru.

Author

Fresh Graduate from ITB Bioengineering. Loves to learn everything faster and execute every possible things better than anyone. Having a huge interest in bioindustry.

4 Comments

  1. Setuju banget
    Soft skill memang bukan sesuatu yang bisa diremehkan
    Karena untuk memperoleh soft skill yang maksimal pun harus dimulai sejak dini

    Dan g kalah setuju juga dengan gagasannya terkait magang atau freelance
    Di luar negeri, magang dan freelance udah jadi hal lumrah atau mungkin budaya di kalangan anak sekolah dan mahasiswa
    Mungkin ini mulai bisa dibiasakan dari para orang tua dan guru dalam menyarankan kepada anaknya

    Karena g jarang yang meremehkan saat ada orang lain yang magang atau freelance
    Mulai dikatain kekurangan uang lah, miskin lah, dll lah
    Pdhl dengan magang dan freelance sejak dini bisa membangun mental bekerja dan etos nya dengan sangat baik

    Dan akan lebih keren semisal magang dan freelance g cuma dibuka di perusahaan besar
    Seru juga semisal di kedai atau warung-warung menengah ke bawah
    Jadi pengalaman pun lebih variatif dr berbagai lapisan

    Barakallah for writer

  2. Muhammad Andika Widiansyah Putra Reply

    Wah, menarik. 👍

    Ada sedikit catatan kecil soal pengentasan pengangguran. Rasanya kalau dilirik, potensi utama untuk menggerus laju pengangguran sebetulnya bukan berada di industri2 besar, melainkan di UMKM dan utamanya ada di UKM. Kuantitas lapangan pekerjaan baru akan sangat berpengaruh, dan semakin besar jumlah pelaku usaha yg membutuhkan tenaga kerja akan semakin baik.

    Saya sepakat sekali soal komunikasi yg harus dijembatani antara industri dan lembaga pendidikan, tapi ada hal lebih krusial yg saya rasa penting untuk diutamakan oleh kadin, yaitu untuk menjembatani komunikasi antar industri di lapangan, sehingga dapat dibangun sebuah rantai pasok yg besar, efisien, dan saling menguntungkan.

    Mengapa justru ini menjadi penting?

    Sederhananya, tingkat pendapatan usaha para pelaku usaha akan berpengaruh pada kemampuan mereka merekrut tenaga kerja. Dan ukuran besarnya usaha (dibanding skala usaha yg beranak pinak) untuk sementara ini saya rasa lebih dibutuhkan untuk menjadi langkah awal pembenahan yg ada.

Leave a Comment