Analisis Novel Bekisar Merah (Ahmad Tohari) Bagian 2

Melalui Bekisar Merah, Ahmad Tohari menyinggung permasalahan sosial yang sebenarnya begitu mudah kita jumpai di sudut sudut kota, namun tidak pernah menarik banyak dari kita untuk sekedar memperhatikannya. Kali ini saya mencoba menghadirkan masalah ini menjadi santapan yang menarik bagi Anda. Santapan ini akan saya bagi menjadi dua bagian sebagai berikut.

Pertama, masalah ekonomi di Karangsoga. Kehidupan para penyadap nira kelapa setiap harinya dikelilingi oleh kemiskinan. Betapa para penyadap nira itu hanya bisa menghidupi dirinya selama sehari berikutnya dari penjualan nira dalam satu hari. Tidak akan pernah terpikir untuk menabung banyak, sebab setiap harinya uang yang ada habis untuk memenuhi kebutuhan sehari hari dan biaya menyadap nira.

Ilustrasi penyadap nira.

Orang orang Karangsoga bukannya tidak bisa merubah nasibnya. Akan tetapi sama sekali tidak mau. Bagi mereka, menyadap nira adalah satu-satunya pekerjaan yang dapat dilakukan. Meski tidak menjanjikan, mencoba mata pencaharian baru menurut mereka hanyalah ajang pertaruhan yang berisiko tinggi.

Bahkan, ketika Kanjat dan timnya datang menawarkan teknologi baru untuk meningkatkan kuantitas nira, hal ini tidak serta merta diikuti oleh para penyadap Karangsoga. Realita inilah yang semestinya menyadarkan kita dari paradigma yang keliru selama ini. Bahwa mereka bukan tidak mampu berubah, akan tetapi butuh usaha yang benar-benar besar untuk sekedar menumbuhkan kemauan berubah dalam dirinya.

Bekisar Merah cetakan terbaru.

Kedua, kenyataan bahwa sosok Lasi, sebagai wanita desa yang anggun, amat mudah menjadi bahan permainan di kota. Ketidakberdayaan Lasi sebagai wanita desa, meski ia memiliki pemahaman tentang nilai-nilai yang tertanam sedari kecil, benar-benar membuatnya menjadi santapan lezat nan murah di kota.

Setiap harinya, bisa saja sosok Lasi yang baru bermunculan ke kota besar. Dan seekor bekisar baru berhasil masuk ke dalam kandang emas tuannya.

Seekor bekisar telah bicara banyak tentang hidup. Omongan bekisar begitu jujur, sebab ia tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk berucap bohong. Sayangnya, omongan bekisar ini hanya dapat didengar oleh mereka yang mau sedikit lebih peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mudah-mudahan kita termasuk didalamnya.

Riwayat Singkat Sang Penulis: Ahmad Tohari

Kurang lengkap rasanya jika kita tidak membahas pengarang dari novel yang luar biasa ini. Beliau-lah konseptor sekaligus eksekutor novel-novel berkualitas tinggi. Bukan hanya itu, film Sang Penari yang menuai banyak pujian pun diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis oleh pengarang ini. Menandakan betapa kualitas pengarang yang satu ini tidak perlu lagi dipertanyakan. Anda tentu sudah tau siapa pengarang ini bukan? Ya, siapa lagi kalau bukan Ahmad Tohari.

Pria yang akrab disapa Kang Tohari ini lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Ia pernah kuliah di beberapa fakultas. Namun, ia tidak menyelesaikan kuliahnya lantaran kendala non-akademik. Sebelum memasuki dunia kepengarangan, ia pernah berprofesi sebagai tenaga honorer di Bank BNI 1946 sekitar tahun 1966 sampai 1967. Ia juga pernah berkecimpung dalam bidang jurnalistik di beberapa media cetak, seperti harian Merdeka, majalah Keluarga dan majalah Amanah yang kesemuanya terbit di ibukota negara.

Ahmad Tohari: Salah satu maestro sastra Indonesia. Sumber.

Nama Ahmad Tohari mulai santer terdengar dalam dunia kepengarangan ketika ia menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Kubah pada tahun 1980. Namanya semakin melejit setelah dua tahun kemudian ia menghasilkan karya fenomenal berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Tak tanggung-tanggung, Ronggeng Dukuh Paruk dibuat menjadi trilogi bersama novel Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala pada tahun 1985 dan 1986.

Setelah sukses dengan triloginya, Ahmad Tohari sempat menulis kumpulan cerpen yang ia beri judul Senyum Karyamin pada tahun 1989. Baru setelah itu pada tahun 1993, ia menyelesaikan novel Bekisar Merah. Kang Tohari tercatat aktif menulis beberapa novel dan kumpulan cerpen lagi setelahnya hingga tahun 2006.

Karya-karya Ahmad Tohari tidak hanya terbit di Indonesia. Beberapa karyanya telah diterbitkan ke dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Bahkan, salah satu trilogi fenomenalnya, Ronggeng Dukuh Paruk, diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul Sang Penari yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Film ini tercatat memenangkan 4 Penghargaan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.

Sekian tentang Ahmad Tohari, untuk info lebih lanjut mengenai beliau, silakan kunjungi situs resmi nya pada alamat www.ahmadtohari.com.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: