Akhirnya aku berkesempatan juga datang ke Cibeusi! Meski rekan-rekan himpunan sudah berkali-kali datang kesana, nyatanya aku baru pertama kali datang ke Cibeusi kemarin, tepatnya pada acara diseminasi yang diselenggarakan oleh KK-ATB (Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk) SITH ITB.

Bermula dari kewajiban

Kedatanganku memang lebih didasari oleh kewajiban untuk meliput. Ceritanya beberapa hari sebelum ke Cibeusi aku diminta untuk meliput secara langsung acara disana oleh seorang alumni dari KK-ATB. Sebenarnya bisa saja kalau tugas ini aku serahkan ke reporter lain. Hanya saja seperti ada panggilan untuk mengambil kesempatan ini. Itung-itung sekalian bikin berita pertama di bulan Oktober, hehe. Lagipula tema penggunaan BSFL (Black Soldier Fly Larvae) juga masih menarik minatku kok!

Aku pun segera beranjak dari kosan ke tempat kumpul di Labtek 1A. Sesampainya disana aku langsung disambut oleh pak Yusuf Abduh, salah satu dosen terganteng di RH yang mewakili ketua KK-ATB pada kesempatan kali ini. KK-ATB sendiri sebenarnya masih dipimpin oleh Dr. Robert Manurung. Beliau adalah salah satu dosen terbaik yang ada di prodi RH. Sayangnya beliau tidak dapat hadir karena ada urusan tertentu yang harus segera beliau selesaikan.

Lepas mengisi bensin, aku langsung bertolak ke Cibeusi menggunakan motor Xeon andalan. Jalan pedesaan yang cukup terjal dan berbatu memang sempat menghalangi, tapi alhamdulillah kami dapat sampai dengan selamat.

Sesampainya di Cibeusi, aku pun dikejutkan dengan keramahan yang ditunjukkan oleh warga Kampung Cibeusi. Mereka tak segan menyapa lebih dahulu, melempar senyuman, bahkan akrab memanggil nama kawan-kawanku secara langsung. Bahkan ada juga lho warga yang langsung mengajak kami mampir kerumahnya untuk sekedar makan sesampainya kami disana!

Mustahil kalau keramahan yang aku lihat didepan mata ini hanya sekedar lip services belaka. Mustahil juga kalau mereka hanya berpura-pura akrab dengan para mahasiswa. Masa’ satu kampong bisa kompakan untuk bersikap pura-pura?

Maka dalam hati aku bergumam, Memangnya sudah sejauh apa interaksi yang kalian lakukan? Memangnya hal apa saja yang sudah kalian lalui bersama-sama? Memangnya … dst. Aku hanya bisa tertegun ketika mendengar kalau mereka telah berinteraksi secara intens sejak beberapa tahun terakhir.

Cibeusi dan HMRH ITB

Info yang aku dapat ialah bahwa sekitar tahun 2013, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH-ITB) sudah mulai menginisiasi kegiatan sosial masyarakat di Kampung Cibeusi, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Cibeusi kala itu dipilih karena relatif dekat dengan Kampus ITB Jatinangor dan masih memiliki banyak hal untuk dieksplorasi lebih jauh.

Memasuki tahun 2015, kegiatan di Cibeusi oun semakin intens. Sebut saja misalnya program edukasi ke anak-anak CIbeusi yang disebut Cibeusi Pintar, atau kegiatan live in di Cibeusi yang biasa diselenggarakan pada akhir semester. Keseriusan HMRH ITB dalam mengembangkan kampung yang satu ini bahkan dituangkan dalam bentuk Renstra yang berhasil dibuat pada tahun 2016.

Sebagai himpunan keprofesian HMRH ITB juga berusaha mempersembahkan karya keprofesiannya bagi desa binaan yang dicintainya itu. Hal ini setidaknya dapat terlihat dari pembuatan mesin kopi yang melibatkan kerjasama antara HMRH ITB dengan himpunan keprofesian lainnya.

Maka disinilah aku kembali berpikir tentang bagaimana sekelompok mahasiswa mampu memberikan sesuatu kepada lingkungan disekitarnya. Meskipun aku sendiri seringkali dibuat pesimistis dengan pergerakan mahasiswa hari ini, nyatanya masih ada satu-dua pergerakan yang memang benar-benar bisa menghasilkan suatu manfaat yang nyata. Dan bukankah pergerakan semacam ini yang senantiasa kita nantikan dari hari ke hari?

So I just want to say that, you guys –whom already interact with them before, especially for you whom already have some relationships with Cibeusi before– are very awesome!

Adapun secara umum acara tersebut memang berjalan layaknya acara diseminasi pada umumnya. Acara diawali dengan sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan sesi pemaparan dan presentasi kepada masyarakat, hingga terakhir ditutup dengan acara makan dan foto bersama. Kisah selengkapnya bisa kamu baca disini.

Inspirasi dari Cibeusi sendiri masih sangat banyak dan menunggu untuk segera diabadikan. Jadi doakan semoga aku bisa kembali lagi kesana ya! Doakan juga supaya aku bisa kembali menuliskan cercahan informasi yang berhasil aku kumpulkan sekembalinya dari sana.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *