Tahun 2017 kemarin rupanya ditutup dengan sebuah pernyataan dari Gubernur BI yang cukup menarik perhatian saya. Seperti dilansir dari sindonews.com, Agus D.W. Martowardojo selaku Gubernur BI menyatakan bahwa regulasi yang dikeluarkan BI pada tahun 2015 silam telah membuahkan hasil. Regulasi yang mewajibkan penggunaan rupiah dalam segala bentuk transaksi di dalam negeri itu tercatat mampu menurunkan nilai transaksi valas dari kisaran USD 5,5 miliar perbulan menjadi hanya sekitar USD 1,8 miliar perbulan. Penurunan ini jelas amat signifikan. Tetapi sebagai orang yang lumayan awam dalam dunia ekonomi, saya hanya memiliki satu pertanyaan mendasar di dalam pemikiran saya. Terus kenapa?

Kenapa Bank Indonesia harus sampai mewajibkan penggunaan rupiah di seantero negeri? Apakah masyarakat Indonesia mulai enggan menggunakan mata uang negaranya sendiri? Lagipula apa salahnya menggunakan valuta asing dalam bertransaksi? Bukankah ia lebih fleksibel untuk digunakan di mana saja pada era global ini? Kalau begitu mengapa penggunaanya harus dibatasi? Mengapa? Mengapa??

Rupiah di Mata Mereka

Tidak ingin berlama-lama dalam kebingungan, akhirnya saya memilih untuk bertanya kepada beberapa rekan di kampus. Rekan pertama yang saya ajak berdiskusi tentang masalah ini bernama Dianita Candra Dewi, mahasiswi Farmasi Klinik dan Komunitas ITB angkatan 2012. Teh Dian sempat menetap di Jepang beberapa bulan terakhir demi belajar di Josai International University. Tentu saja ia memiliki pengalaman tersendiri menggunakan mata uang asal negeri sakura itu.

Teh Dian @Odaiba, Jepang. Thanks for answering my random questions! (IG @dianitadewi12)

Lantas saya bertanya, “apa bedanya rupiah dengan yen?”

“Rupiah terlalu besar nominalnya, tetapi nilainya kecil. Beda sama yen yang nominalnya kecil-kecil tetapi nilainya besar,” jawab teh Dian. Disinilah saya akhirnya mengerti mengapa wacana denominasi rupiah terus digaungkan dari waktu ke waktu. Wajar pula akhirnya kalau teh Dian merasa lebih nyaman menggunakan yen ketimbang rupiah. Mata uang dengan nominal yang lebih tentu lebih nyaman dilihat dan memiliki akurasi perhitungan yang lebih baik bukan?

Tetapi membandingkan rupiah dengan satu valuta asing saja tidak membuat saya puas. Beralihlah saya kepada rekan saya yang lain yang bernama lengkap Irfaan Taufiqul Rayadi. Ia merupakan mahasiswa Teknik Kimia ITB angkatan 2013 yang baru saja merengkuh gelar sarjana pada bulan Juli tahun 2017 kemarin. Semasa kuliah, ia beberapa kali mengunjungi negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura demi keperluan lomba ataupun berlibur semata. Pengalaman inilah yang membuatnya sempat berinteraksi dengan Ringgit dan SGD (Singapore Dollar).

Faan. Thanks a lot for the discussion. Btw you are still available right? 😀 (IG @faanirfaan)

Pertanyaan serupa kemudian saya tanyakan dan lagi-lagi wacana denominasi menjadi sorotan. Faan bahkan juga mengatakan dengan jujur kalau Ringgit yang terbuat dari plastik lebih menarik sebab mirip seperti uang mainan katanya. ‘Kekalahan’ rupiah pun semakin nampak didepan mata saya. Hingga akhirnya sesuatu yang sama sekali tidak saya duga diucapkan oleh Faan.

“Enaknya di Indonesia itu duitnya bisa dipakai dimana aja. Apalagi untuk beli jajanan-jajanan lucu yang bayar pakai recehan pun bisa. Tapi kalau di Singapura atau di Malaysia itu belum tentu bisa. Soalnya beberapa tempat cuman mau nerima e-money aja”.

Pernyataan ini jelas membuat saya tertegun. Entah memang Faan yang selalu mencoba berpikiran positif, atau memang pikiran saya terhadap rupiah yang sudah kebanyakan negatifnya. Yang jelas penuturan Faan membuat saya menjadi lebih tertarik untuk melihat sisi positif dari mata uang yang pertama kali dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Jepang pada masa Perang Dunia II ini.

Kini saatnya kembali ke pertanyaan awal, mengapa BI begitu keukeuh mewajibkan penggunaan rupiah yang seluas-luasnya di Indonesia?

 

Mata Uang, Hutang, dan Pembangunan

Teringatlah saya dengan salah seroang kawan SMA saya yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namanya Khaira Abdillah. Sejak SMA ia memang sangat tertarik kalau diajak bicara tentang ekonomi. Sesampainya di FEUI pun ia tak hanya berkuliah, melainkan juga turut aktif dalam beberapa kegiatan pengembangan keilmuan. Kabar terakhir yang saya dapat, Khaira ternyata menjadi salah satu staf riset di Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya UI. Beruntung ia sedang cukup senggang pada suatu pagi dan diskusi online pun kami mulai.

“Jadi rif, regulasi dari BI itu ada hubungannya sama target pemerintah dalam mengejar pembangunan,” tutur Khaira singkat.

“Lho?! Kok jadi-tiba-tiba pembangunan?”

“Singkatnya, APBN yang ada belum cukup untuk mengakomodir kebutuhan pembangunan yang amat bannyak. Solusinya tentu harus dengan berhutang,” tutur Khaira. Saya pun mulai mencerna argumentasi yang dibangun oleh Khaira disini. Bagi saya, inilah penjelasan logis terhadap membengkaknya nilai hutang RI yang membuat warganet heboh pada pertengahan tahun 2017 kemarin.

Khaira. Go read her blog on https://justahumansthoughts.wordpress.com/ (IG @khabdillah)

“Makanya pemerintah harus membuat negara-negara lain mau membeli surat hutang dari Indonesia. Caranya dengan menciptakan kestabilan terhadap nilai rupiah itu sendiri,” lanjut Khaira.

Kalau dipikir secara perlahan tentu apa yang disampaikan oleh Khaira ada benarnya. Memakai rupiah sesering mungkin tentu dapat membantu menguatkan nilai rupiah terhadap nilai valuta asing yang beredar di Indonesia. Penguatan ini tentu berdampak pada kestabilan nilai rupiah yang semakin baik. Sehingga jikalau sewaktu-waktu terjadi krisis harapannya rupiah tidak perlu anjlok seperti pada saat krisis moneter 1998.

Disisi lain, penguatan nilai rupiah terhadap nilai valuta asing ini juga dapat diartikan sebagai rendahnya tingkat bunga pengembalian hutang bagi Indonesia. Kondisi inilah yang sangat disukai oleh para investor dalam berinvestasi. Sehingga penggunaan rupiah yang intens sudah pasti berimplikasi pada meningkatnya jumlah surat hutang yang terbit. Hingga akhirnya bermuara pada meningkatnya ketersediaan dana untuk pembangunan negara.

Tetapi sebagai mahasiswi ekonomi, Khaira memiliki pandangan yang lebih luas lagi. Ia mencontohkan beberapa kasus yang sangat berhubungan dengan regulasi wajibnya penggunaan rupiah oleh BI ini. Salah satunya penggunaan mata uang virtual seperti Bitcoin yang sedang marak akhir-akhir ini.

“Sekaran mata uang virtual lagi naik-naiknya. Pemerintah Indonesia sendiri belum mempersiapkan kebijakan yang benar-benar matang terkait penggunaan mata uang tersebut. Padahal mata uang virtual sudah bisa digunakan untuk transaksi dalam skala global. Itulah mengapa pemerintah begitu gencar mengkampanyekan penggunaan rupiah,” jelas Khaira.

Lagi-lagi saya dibuat mengangguk-angguk oleh kawan saya yang satu ini. Dengan kondisi semacam itu, tentu penggunaan mata uang virtual di Indonesia pada masa sekarang ini belumlah dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi ibu pertiwi. Disisi lain pembangunan nasional tentu tidak bisa ditunda. Oleh karena itu mengkampanyekan penggunaan rupiah secara gencar adalah langkah yang bijak demi terus mempertahankan putaran roda pembangunan bangsa ini. Ah, kawan saya yang satu ini memang cerdas!

 

Jadi Memang Begitulah Rupiah

Diskusi dengan orang-orang disekeliling saya akhirnya membawa saya pada kesimpulan pertama. Bahwa rupiah itu memang bukanlah mata uang yang sempurna. Bahkan dengan jujur harus saya katakan bahwa kekurangannya masih cukup banyak bila hendak dibandingkan dengan mata uang dari negara lain.

Lantas apakah fakta-fakta tersebut dapat kita jadikan sebagai alasan untuk berallih ke valuta selain rupiah?

Jawabannya tentu saja tidak. Mari sejenak melihat contoh ke Kolombia dengan mata uang peso yang dimiliki olehnya. Berdasarkan data dari tradingeconomincs.com, nilai mata uang peso terhadap dollar Amerika pada Agustus 1992 hanya mencapai 689,21.


source: tradingeconomics.com

Empat belas tahun kemudian, tepatnya pada Februari 2016, rupanya nilai Peso sudah mencapai angka 3453,90. Tak ayal Reuters menempatkannya sebagai valuta terkuat nomor 4 terhadap dollar Amerika disepanjang tahun 2016.

Keberhasilan Kolombia dengan peso-nya tentu mengindikasikan bahwa rupiah juga memiliki peluang yang cukup terbuka untuk dapat bersaing dengan valuta top dunia sekelas dollar. Lagipula hari ini dollar sudah dikalahkan lagi oleh poundsterling yang sempat anjlok 2 tahun silam akibat Brexit. Jelaslah bahwa persaingan antar mata uang di seluruh dunia sudah semakin ketat. Sama ketatnya dengan ‘perlombaan’ pembangunan yang terus terjadi di seantero bumi ini.

Cinta Rupiah

Oleh karena itu demi menjaga stabilitas mata uang rupiah, mendukung daya saingnya dalam persaingan global yang semakin ketat, serta mendorong pembangunan nasional, dibutuhkanlah penggunaan rupiah yang intens mulai dari tanah kelahirannya itu sendiri. Maka hadirlah serangkaian kampanye Cinta Rupiah yang digerakkan secara langsung oleh Bank Indonesia. Sepintas mungkin kampanye ini terlihat sederhana. Hanya mengajak setiap orang untuk menggunakan dan menjaga rupiah dengan sebaik-baiknya. Tetapi diatas itu semua rupanya terdapat cita yang besar untuk kita gapai bersama demi mewujudkan Indonesia yang sejahtera.

Begitulah rupiah. Memang tak sempurna, tapi harus kucinta!

2 thoughts to “Rupiah: Memang Tak Sempurna, Tapi Harus Kucinta!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *