Revitalisasi-dana-desa-biorefinery

Revitalisasi Dana Desa dengan Penerapan Konsep Biorefinery

Desa merupakan ujung tombak pembangunan dari setiap bangsa yang berbasis agraria. Dari desa-lah segala bahan baku diciptakan sebelum dibawa ke kota dan memasuki pemrosesan lebih lanjut. Dengan kata lain, desa-lah yang selama ini menjadi penopang bagi pesatnya pertumbuhan ekonomi di kota. Oleh karena itu, jika desa tak kunjung sejahtera, pada akhirnya kota juga yang akan menerima akibatnya.

Celah inilah yang coba ditutupi oleh pemerintahan Joko Widodo lewat Nawacita yang ke-3 yakni Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam dalam kerangka NKRI. Salah satu turunan dari nawacita yang ke-3 ini ialah suatu program yang akrab kita sebut sebagai dana desa.

Dana desa pada dasarnya merupakan dana APBN yang dialokasikan kedalam APBD kabupaten/kota untuk melaksanakan pembangunan dan pemberdayaan bagi masyarakat desa. Namun meskipun bentuknya adalah alokasi, ternyata jumlahnya sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Pada tahun 2015 memang dana desa yang dianggarkan ‘hanya’ sebesar Rp20,7 triliun. Tetapi pada tahun 2017 nilainya sudah bertambah hampir tiga kali lipatnya hingga mencapai angka Rp60 triliun.

alokasi-dana-desa-tahun-ke-tahun

Kini pertanyaannya sederhana: sudah optimalkah pemanfaatan dana desa selama ini?

Mengevaluasi Penggunaan Dana Desa Selama Ini

Menurut Buku Saku Dana Desa 2017 yang diterbitkan oleh Kemenkeu, dana desa terbukti telah menghasilkan berbagai macam sarana/prasarana yang bermanfaat bagi masyarakat. Ada jalan raya, jembatan, sambungan air, embung desa, pasar desa, PAUD desa, hingga drainase dan irigasi. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung sebab sudah mencapai ribuan atau bahkan puluhan ribu unit.

output-dana-desa-2015-2016

Fakta ini tentu bisa membuat kita bersepakat bahwa dana desa telah sukses melakukan pembangunan infrastruktur di desa sebagaimana yang digadang-gadang oleh pemerintahan Joko Widodo. Tetapi rupanya aspek kesejahteraan masyarakat yang lain belum mendapatkan perhatian yang lebih intens. Hal ini dapat dilihat dari begitu rendahnya presentase alokasi dana desa untuk hal-hal diluar pembangunan infrastruktur.

distribusi-dana-desa-2016

Padahal alokasi dana desa untuk pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) telah terbukti mampu memberikan pertumbuhan yang signifikan bagi ekonomi desa tersebut. Sebut saja misalnya BUM Desa Tirta Mandiri milik Desa Ponggok, Klaten. BUM Desa yang satu ini secara berani menginvestasikan dana desa yang mereka terima untuk membangun berbagai unit usaha seperti budidaya ikan nila merah, toko desa, umbul ponggok, hingga pabrik air minum dalam kemasan. Hasilnya dalam 2 tahun aset BUM Desa Tirta Mandiri bertambah 9 kali lipat! Mulai dari Rp1,15 miliar pada tahun 2014 hingga menjadi Rp10,3 miliar pada tahun 2016.

bum-desa-tirta-mandiri-dana-desa-sukses

Maka sudah saatnya kita mendorong desa-desa yang ada untuk mengalokasikan dana desa yang mereka terima dalam pembangunan badan usaha yang berkelanjutan. Jangan sampai dana desa yang ada dihabiskan setiap tahunnya hanya untuk memperbaiki jalan dan jembatan. Infrastruktur semacam itu tentu penting, tapi tak kalah pentingnya membangun infrastruktur ekonomi agar pendapatan masyarakat desa bisa meningkat sehingga taraf kehidupannya pun bisa semakin sejahtera.

Oleh karena itu, pertama-tama izinkanlah saya memperkenalkan konsep biorefinery.

Apa dan Mengapa Biorefinery?

Biorefinery merupakan suatu konsep dimana suatu bahan baku (biomassa) diproses dengan sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan berbagai macam bioproduk. Konsep ini sangat mirip dengan konsep oil refinery dimana minyak bumi dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti bensin, LPG, avtur, diesel, pelumas, aspal, hingga bahan-bahan kimia bernilai tinggi. Bedanya dalam biorefinery bahan bakunya adalah biomassa (umumnya tumbuhan) dan produk-produk yang dihasilkan adalah produk turunan biomassa seperti bahan pangan, serat, minyak, pakan, pupuk, dan lain-lain.

Bahkan dalam biorefinery tidak diperkenankan adanya limbah yang terbuang percuma. Sebisa mungkin limbah tersebut harus diolah menjadi produk lain yang juga bernilai sehingga dapat meningkatkan pemasukan. Kalaupun hal ini sulit dilakukan, maka setidaknya limbah tersebut bisa dijual ke industri-industri yang memang menjadikan limbah tersebut sebagai salah satu bahan baku dalam proses produksinya.

Konsep ini sangat cocok diterapkan dalam skala desa karena desa merupakan pusat tempat bahan baku berada. Logikanya sederhana. Alih-alih menjual bahan baku dengan harga murah ke kota, mengapa tidak mengolahnya terlebih dahulu sehingga dapat dijual dengan harga yang lebih mahal ke kota?

Sebagai ilustrasi sederhana, tanaman jagung dari petani lokal umumnya dihargai sebesar Rp2.500,- per kilogram. Sementara harga kripik jagung di minimarket adalah Rp10.000,- per 160 gram. Artinya bahwa 1 kilogram jagung apabila dibuat kripik dapat mencapai 6,25 kemasan yang harganya dapat mencapai Rp62.500,-. Dengan kata lain, 1 kilogram tanaman jagung yang dibeli dari petani dengan harga Rp2.500,- dapat dijual hingga mencapai Rp62.500,- jika jagung tersebut terlebih dahulu diolah menjadi kripik komersil.

bisnis-kripik-jagung-dana-desa

Nah dalam konsep biorefinery, jagung tersebut tentu tidak bisa kita olah hanya sekedar menjadi kripik. Biorefinery justru mendorong kita untuk menghasilkan produk bernilai tinggi seperti senyawa zeaxanthin dari jagung yang di pasaran global dihargai sebesar $226 per miligramnya atau setara dengan Rp3,3 juta rupiah!

Bahkan tidak berhenti sampai disitu. Bonggol jagung yang sering terbuang sebagai limbah juga bisa dimanfaatkan, salah satunya dengan menjadikannya sebagai bahan pembuat pakan. Penggunaan bonggol jagung sebagai pakan tentu juga menguntungkan karena dapat menekan biaya pembelian bahan baku akibat memanfaatkan limbah yang masih kaya akan protein.

Agar lebih mudah dalam membayangkannya, mari kita ambil satu contoh studi kasus dari Desa Haurngombong di Kabupaten Sumedang.

Studi Kasus: Desa Haurngombong

Haurngombong merupakan satu diantara 277 desa yang terletak di Kabupaten Sumedang. Letaknya sangat berdekatan dengan desa Cilembu yang menjadi sentra produksi ubi cilembu. Desa Haurngombong memiliki luas wilayah sebesar 219 hektar dengan 160 hektar diantaranya merupakan lahan pertanian. Komoditi utamanya adalah padi disusul dengan jagung dan ubi jalar. Oleh karena lahan pertanian ini sangat bergantung dengan air, saat musim kemarau warga Haurngombong umumnya akan fokus beternak. Oleh karena itu susu sapi juga menjadi komoditi unggulan dari desa yang satu ini.

Banyaknya jumlah sapi di Haurngombong tentu berbanding lurus dengan jumlah kotoran sapi yang dihasilkan setiap harinya. Dengan konsep biorefinery, kotoran sapi ini tentu tidak bisa dibuang begitu saja ke lingkungan sebelum diolah lebih lanjut. Salah satu bentuk pengolahannya ialah dengan membangun instalasi biogas. Biogas inilah yang dapat digunakan untuk mengganti kebutuhan LPG sehari-hari.

Tak cukup sampai disitu, air yang dihasilkan dari proses pembuatan biogas rupanya bisa dimanfaatkan sebagai medium tumbuh untuk mikroalga. Mikroalga ini nantinya dapat menghasilkan protein, lemak dan senyawa astaxanthin. Proteinnya dapat digunakan sebagai bahan tambahan bagi pakan ayam. Lemaknya dapat dijadikan sebagai minyak. Sementara senyawa astaxhantin dapat dijual karena memiliki harga yang sangat tinggi di pasaran lokal maupun global. Kalaupun belum mampu mengolahnya, biomassa mikroalga yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menyokong kebutuhan sektor pertanian di Haurngombong.

biorefinery-dana-desa-haurngombong

Sampai disini saja kita sudah bisa mendapati berbagai macam bioproduk hanya dari pemanfaatan limbah kotoran sapi. Belum lagi kalau ditambah dengan pemanfaatan hasil-hasil pertanian seperti jagung dan ubi jalar. Sudah pasti aset BUM Desa-nya akan semakin besar.

Nah lantas apa kaitannya dengan dana desa?

Jawabannya tentu saja dana desa dapat dimanfaatkan sebagai sumber investasi utama dalam membangun infrastruktur ekonomi ini. Sebagai contoh, mari kita fokus pada pembuatan instalasi biogas dan budidaya mikroalga untuk menghasilkan pakan.

Instalasi biogas dapat dibangun dengan membuat tangki besar sebagai biodigester kemudian menghubungkannya dengan regulator yang tersambung dengan selang-selang gas ke rumah-rumah. Dalam skala kecil (3-5 rumah tangga), biaya pembuatannya berkisar antara Rp15-17 juta. Sedangkan dalam skala yang lebih besar (sekitar 1 RT), biaya pembuatannya sekitar Rp40 juta.

Adapun budidaya mikroalga dapat dilakukan secara kolektif dengan membuat satu kolam budidaya untuk satu RT. Biaya pembuatan satu kolam mikroalga ini berkisar antara Rp15-20 juta. Apabila hendak dibuat pakan, maka dibutuhkan alat-alat tambahan seperti alat pencacah yang biayanya tidak akan melebihi Rp5 juta. Oleh karena itu, total biaya yang diperlukan untuk membuat sistem terintegrasi ini adalah sekitar Rp60 juta per RT. Anggaplah terdapat biaya tambahan untuk maintenance sebesar Rp10 juta sehingga total biaya yang diperlukan ialah sebesar Rp70 juta per RT.

biaya-instalasi-unit-biorefinery

Kabupaten Sumedang sendiri mendapatkan dana desa sebesar Rp192,7 milyar pada tahun 2018. Apabila dana ini dibagi rata kepada 277 desa di Kabupaten Sumedang, maka desa Haurngombong setidaknya akan mendapatkan suntikan dana sebesar Rp695 juta. Dengan dana sebesar ini, tentu sangat cukup apabila pemerintah desa Haurngombong hendak membangun instalasi biogas dan mikroalga di 1-2 RT sebagai percontohan awal.

Potensi keuntungan yang didapat pun tidak bisa diremehkan. Pakan yang dihasilkan misalnya, dapat menjadi tambahan bagi pakan pabrikan sehingga biaya pembelian pakan bisa menurun. Jika hendak dijadikan pupuk, maka biaya pembelian pupuk juga bisa ditekan. Belum lagi kalau kita berhasil memproduksi minyak, biodiesel, atau astaxhantin yang bernilai jual tinggi. Bukan tak mungkin kalau budidaya mikroalga ini dapat menjadi sektor utama perekonomian Haurngombong suatu hari nanti.

Oleh karena itu, penerapan konsep biorefinery bisa sangat menguntungkan. Limbah bisa ditekan, produk-produk baru bisa dikembangkan, dan industri yang tercipta pun sudah pasti lebih berkelanjutan. Pasalnya kita bisa mendapatkan suplai bahan baku limbah kotoran sapi secara gratis dan tak pernah habis.

Simpulan

Kehadiran dana desa merupakan awalan yang sangat baik dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Kesejahteraan pun tak bisa diukur dari pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan dan jembatan semata. Pembangunan infrastruktur ekonomi yang berkelanjutan pun tak kalah pentingnya agar pendapatan masyarakat juga bisa meningkat.

Biorefinery hadir sebagai solusi pemrosesan suatu bahan baku untuk menghasilkan berbagai macam produk dengan berusaha menekan limbah. Konsep ini sangat cocok diterapkan di desa yang notabene sudah memiliki komoditasnya tersendiri. Sehingga bahan baku yang tadinya dijual dengan harga rendah dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi lagi sambil berusaha menekan limbah-limbah yang dihasilkan dari proses produksinya.

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa kombinasi antara dana desa dengan penerapan konsep biorefinery berpotensi mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Sebagaimana yang disampaikan oleh Menkeu Sri Mulyani, “Penggunaan bahan baku lokal diharapkan akan memberikan penghasilan kepada masyarakat yang memiliki bahan baku tersebut”. Untuk itulah diperlukan partisipasi dari berbagai pihak untuk mendukung terealisasinya rencana besar ini.

“Penggunaan bahan baku lokal diharapkan akan memberikan penghasilan kepada masyarakat yang memiliki bahan baku tersebut”

avatar

Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan RI)

dalam Buku Saku Dana Desa 2017

Pemerintah perlu didorong untuk lebih mengalokasikan dana desa pada pos-pos usaha yang menjanjikan keuntungan di masadepan. Akademisi perlu melakukan diseminasi agar teknologi semacam ini bisasegera ditransfer ke masyarakat. Adapun para praktisi berperan dalam merancang sistem terintegrasi ini supaya sesuai dengan karakteristik masing-masing desa.Sementara masyarakat perlu bersikap lebih terbuka dalam menghadapi inovasi-inovasi yang sungguh dapat meningkatkan kesejahteraan di tempat tinggalnya hingga ke masa depan.


Silakan beri kritik dan saran atas tulisan ini agar kita mampu menghasilkan karya yang lebih baik lagi bagi negara kita tercinta. Adapun jika diantara Anda ada yang tertarik untuk membangun sistem semacam ini di desa tempat Anda tinggal, silakan tinggalkan komentar dibawah agar kita bisa berdiskusi lebih lanjut.

Disclaimer: Artikel ini meraih penghargaan Juara 1 dalam Lomba Blog yang diadakan oleh DJPK Kemenkeu tahun 2018 dengan tema Dana Desa.

2 thoughts on “Revitalisasi Dana Desa dengan Penerapan Konsep Biorefinery

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: