Melukis Harmoni di Ujung Kota, Menjawab Tantangan Dunia yang Berkelanjutan

Milenial tidak akan bisa beli rumah. Begitulah headline berita yang saya baca pagi ini. Terdengar ironis memang, tapi begitulah kenyataannya. Milenial dinyatakan tidak akan mampu membeli rumah karena harga perumahan kian melambung dan akan sangat sulit dikejar dengan gaji rata-rata yang biasa didapat oleh pekerja berusia dibawah 40-an.

Omong-omong soal perumahan, saya menemukan perbedaan pandangan yang cukup signifikan antara generasi anak muda masa kini dengan generasi orang-orang tua diatasnya terkait hunian yang ideal. Perbedaan ini saya dapatkan dari berbagai diskusi, baik dengan keluarga, teman, maupun orang-orang yang mungkin saya temukan di sepanjang jalan.

Bagi generasi yang lebih tua, syarat utama dari hunian ideal adalah akses yang mudah. Mulai dari akses terhadap sistem utilitas yang umum seperti saluran air dan listrik, akses terhadap fasilitas umum seperti tempat ibadah dan pusat perbelanjaan, serta akses terhadap jalan-jalan protokol dan tempat wisata yang tersedia didekat perumahan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa generasi tua sangat menyukai perumahan yang berlokasi strategis dan masih relatif dekat dengan pusat kota.

Ilustrasi perumahan ideal. Sumber: Tom Rumble via Unsplash.

Adapun generasi yang lebih muda, secara umum memang memperlihatkan ketertarikan serupa. Mereka menyukai hunian yang mudah diakses oleh transportasi publik, dekat dengan pusat kota dan keramaian, dan memiliki banyak ruang publik seperti taman dan gelanggang olahraga. Tetapi ada satu perbedaan yang cukup mencolok dari generasi ini. Mereka cenderung lebih memerhatikan faktor keberlanjutan alias sustainability.

Bagi generasi muda, Sustainability Development Goals (SDGs) seakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Cita-cita terhadap dunia yang lebih berkelanjutan ini memang tak henti-hentinya didiskusikan dalam berbagai kesempatan. Pendidikan sejak level SMA hingga kuliah pun hampir pasti selalu menyisipkan aspek SDGs ini dalam menu-menu pembelajaran. Maka tak heran apabila mereka sangat tertarik membicarakan isu seputar smart city, integrasi transportasi publik, industri 4.0, perubahan iklim, dan isu-isu lain yang terkait dengan SDGs.

Sustainability Development Goals, sudah hafal semua poinnya? Sumber: geolsoc.

Dalam konteks perumahan, gambaran mereka terhadap hunian ideal adalah hunian yang berdiri kokoh di tengah kota yang cerdas dimana mereka bisa mengakses berbagai fasilitas secara mudah dan murah. Hunian itu harus dekat dengan pusat perbelanjaan, tempat ibadah, rumah sakit dan tak lupa tempat-tempat yang instagrammable. Karena bagi sebagian besar milenial, menciptakan konten itu sudah seperti suatu keharusan.

Hunian tersebut juga tak boleh jauh dari taman dan hutan kota. Alasannya karena generasi ini sangat ingin dekat dengan alam dan gemar melakukan eksplorasi. Tak lupa juga, hunian tersebut harus dekat dengan pusat kota atau pusat industri. Hal ini dilakukan misalnya agar jarak dari rumah ke tempat kerja masih mudah dijangkau sehingga bisa memiliki waktu lebih banyak untuk mampir hangout bersama teman sepulang bekerja.

Dengan idealisme yang tinggi tersebut, tak heran kalau milenial lagi-lagi disebut tak mungkin bisa memiliki rumah. Karena hunian yang mampu memenuhi ekspektasi tersebut pastilah hunian yang langka. Kalaupun ada, pasti lokasinya jauh dari pusat kota. Kalaupun lokasinya dekat, maka sudah dapat dipastikan kalau harganya mahal!

Menariknya, ada suatu kawasan perumahan yang berdiri kokoh dan asri didekat kota Jakarta. Kawasan tersebut memiliki luas area mencapai 750 hektar dan sudah diisi dengan puluhan fasilitas publik didalamnya. Kawasan itu bahkan memiliki akses yang lumayan dekat dengan jalan tol dan jalan protokol, sehingga ramah transportasi publik. Dan kawasan itu bernama Kota Wisata Cibubur.

Harmoni di Ujung Kota

Kota Wisata Cibubur berdiri sejak tahun 1997. Terletak di salah satu jantung Jabodetabek, Kota Wisata Cibubur dapat diakses hanya dengan menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer dari pintu keluar tol Cibubur. Kawasan ini amat mudah dikenali jika Anda hendak bepergian dalam rute Jakarta-Bekasi-Bogor.

Masterplan Kota Wisata Cibubur. Sumber: Kota Wisata Cibubur.

Sukses melewati dinamika pembangunan lebih dari 20 tahun lamanya, Kota Wisata Cibubur kini memiliki kawasan perumahan yang jumlahnya tak kurang dari 48 cluster. Masing-masing cluster memiliki ciri khas tersendiri yang disesuaikan dengan kota atau kawasan terkenal di seluruh dunia. Jadi Anda tidak hanya dapat menjumpai hunian bergaya Eropa atau Amerika, melainkan juga hunian khas daerah tropis dengan gaya modern yang elegan dan kekinian.

Banyaknya perumahan tersebut tentu perlu diimbangi dengan fasilitas umum dalam jumlah yang memadai pula. Dan dalam urusan ini, Kota Wisata Cibubur sudah menjadi juaranya! Untuk urusan pendidikan saja, sudah tersedia 12 sekolah formal dan non-formal bergengsi yang berdiri didalam kawasan ini seperti Sekolah BPK Penabur, Sekolah Islam Fajar Hidayah, Kinderfield, Purwacaraka dan Yamaha Music School.

Urusan mengolah raga pun tak kalah diperhatikan. Sejak tahun 2003, Kota Wisata Cibubur sudah dilengkapi dengan Kota Wisata Sport Club & Spa, kawasan olahraga dan relaksasi yang terintegrasi dan memiliki sangat banyak pilihan. Ada fasilitas gym bintang 5, kolam renang standar olimpiade, lapangan tenis, bulutangkis, futsal, basket, hingga fasilitas aerobik dan Spa.

Kota Wisata Cibubur: City of Millions Enchantment.

Kota Wisata Cibubur juga memiliki 1 masjid dan 1 gereja besar. Masing-masing bernama Masjid Darussalam dan Gereja Maria Bunda Segala Bangsa. Kokoh berdirinya kedua tempat ibadah megah ini melambangkan betapa harmonisnya kehidupan masyarakat yang sadar akan toleransi di kawasan ini.

Adapun untuk urusan rekreasi, Kota Wisata Cibubur juga sudah memiliki fasilitas yang memadai. Terdapat Kampoeng Wisata dan Amphitheater didalam kawasan, lengkap dengan Food City yang berfungsi memenuhi kebutuhan wisata makanan. Kawasan ini juga dilewati langsung oleh Jalan Raya Narogong yang bisa menghubungkan Anda secara cepat dengan area rekreasi unggulan seperti Taman Buah, Area Perkemahan Cibubur, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Jauh dari Kesan Elitis Eksklusif

Kebanyakan kawasan perumahan umumnya memiliki pengamanan yang ketat sehingga fasilitas yang ada didalamnya hanya boleh diakses secara bebas oleh masyarakat didalam kawasan. Tetapi Kota Wisata Cibubur justru jauh dari kesan elitis nan eksklusif semacam itu.

Sebagai warga yang tinggal di daerah Jatiasih, Kota Bekasi, saya bisa keluar masuk Kota Wisata Cibubur secara mudah dan nyaman. Saya bisa mengakses sarana olahraga, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, sekolah, dan fasilitas-fasilitas lain didalamnya tanpa perlu dibatasi secara berlebihan. Justru saya merasa lebih nyaman beraktivitas didalam kawasan meskipun tidak tinggal didalam kawasan.

Suasana Gerbang Depan Kota Wisata Cibubur: Terbuka dan Hangat! Sumber: indoplaces.

Kota Wisata Cibubur juga memiliki ruko dan area komersil yang jumlahnya sangat banyak. Didalamnya, justru sering saya temukan para penjual yang tinggal diluar kawasan Kota Wisata. Hal ini mengisyaratkan bahwa kehadiran Kota Wisata Cibubur juga sudah mampu membantu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar secara nyata.

Menyewa ruko pun bisa jadi tak kalah menjanjikan. Pasalnya jumlah penduduk yang kian padat ditambah iklim transaksi yang nyaman tentu terlihat sangat menarik dari kacamata investasi. Sebagai bagian dari milenial yang sangat suka hal berbau entrepreneurship, tentunya hal ini sangat menarik.

Akhirnya gambaran hunian ideal versi milenial tak lagi jadi sekedar khayalan. Bukti nyatanya bisa kita lihat langsung di Kota Wisata Cibubur. Bagaimana manusia dengan segala fasilitas pemenuh kebutuhannya dapat tinggal berdampingan secara harmonis dengan alam. Hingga dengan sendirinya, kita bergerak satu langkah lebih maju untuk menggapai tujuan SDGs yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: