Hidup Cemerlang dengan 4 Pilar Gizi Seimbang

Untuk ketiga kalinya sepanjang sejarah, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Tinggi yang secara khusus membahas tentang penyakit tidak menular (non-communicable disease/NCD). Indonesia pun turut mengirimkan delegasi untuk menghadiri pertemuan yang digelar di New York pada tanggal 27 September 2018 ini. Tetapi pertanyaannya sederhana: Mengapa PBB harus sampai mengadakan pertemuan penting ini berkali-kali “hanya” untuk membahas masalah penyakit tidak menular?

Dalam laporannya yang berjudul NCD Country Profiles 2018, WHO menyatakan bahwa penyakit tidak menular bertanggung jawab terhadap 71% kematian yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 2016. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa 73% kematian yang terjadi di Indonesia pada tahun 2016 juga terjadi “hanya” karena penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, gizi buruk, kanker, diabetes, dan TBC. WHO bahkan memprediksi angka kematian prematur (kematian yang terjadi antara umur 30-70 tahun) pada masyarakat Indonesia berkisar pada angka 26%.

Inforgrafis Penyakit Tidak Menular di Indonesia tahun 2016 (WHO, 2018)

Adapun menurut Beaglehole & Yach (2003), salah satu faktor utama yang mendorong timbulnya penyakit-penyakit tidak menular adalah transisi nutrisi. Transisi nutrisi dapat diartikan sebagai perubahan pola konsumsi suatu masyarakat yang disebabkan oleh modernisasi dan perkembangan ekonomi. Salah satu contohnya ialah perubahan makanan pokok orang-orang Indonesia yang semula begitu beragam seperti beras, jagung, ubi, dan sagu menjadi hanya satu jenis saja yaitu beras.

Transisi ini memungkinkan terjadinya degradasi nutrisi-nutrisi penting dari jenis makanan yang tereliminasi. Dalam contoh kasus makanan pokok Indonesia diatas, tereliminasinya ubi dan sagu mengakibatkan hilangnya protein penting yang mungkin didapat dari kedua komoditi tersebut. Konsekuensinya, orang Indonesia hanya mendapatkan karbohidrat dalam jumlah banyak dari beras tanpa protein yang mencukupi. Maka dari itu, kiat pertama dalam menghadapi masalah penyakit tidak menular ini adalah mengonsumsi pangan yang beragam.

Kiat berikutnya bisa kita dapatkan dengan mengibaratkan tubuh manusia sebagai sebuah sistem. Dalam dunia analisis sistem sendiri dikenal model IPO (Input-Process-Output)yang sering digunakan untuk mengidentifikasi elemen-elemen pada sistem sehingga mempermudah proses analisis lanjutan. Apabila model ini hendak kita terapkan ke dalam tubuh manusia, maka makanan dapat menempati elemen input dan metabolisme akan menempati elemen process. Hasilnya, tentu kita akan mendapati aktivitas fisik (work) sebagai output dari sistem tersebut.

Skema IPO dalam Sistem Tubuh Manusia

Oleh karena sebuah sistem senantiasa menuju kepada kondisi kesetimbangan, maka mengonsumsi makanan yang beragam saja tidak cukup. Energi yang masuk (input) ke dalam tubuh manusia tentu juga harus dikeluarkan agar kondisi tubuh tetap seimbang. Pengeluaran energi inilah yang dapat diwujudkan dalam bentuk aktivitas fisik. Sehingga kita dapat memunculkan kiat kedua, yakni melakukan aktivitas fisik.

Apabila seorang manusia makan terlalu banyak (high input) tanpa melakukan aktivitas fisik yang cukup (less output), tentu saja sistem tubuhnya tidak akan seimbang. Pasalnya tubuhnya harus menyimpan input berlebih dalam bentuk simpanan lemak. Sebaliknya apabila seseorang terus melakukan aktivitas fisik (high output) tanpa mengonsumsi makanan yang memadai (less input), tentu saja sistem tubuhnya juga tidak akan seimbang. Alasannya karena tubuh harus bekerja ekstra membongkar cadangan energi (lemak) demi bisa bertahan hidup.

Lantas bagaimanakah cara memastikan agar kondisi ini senantiasa seimbang?

Jawabannya adalah dengan mengukur dan memantau berat badan secara rutin. Logikanya begitu sederhana. Semakin banyak makan, tentu semakin banyak lemak. Oleh karena lemak memiliki massa, maka penambahan lemak berarti penambahan massa tubuh juga. Dengan kata lain, berat badan bisa menjadi parameter yang efektif dalam menentukan ukuran keseimbangan tubuh.

Pengukuran berat badan secara rutin juga dapat membantu kita untuk mengetahui apakah tubuh kita termasuk dalam kondisi obesitas atau tidak. Caranya adalah dengan menghitung nilai BMI (Body Mass Index) sesuai persamaan sebagai berikut (Cole, et. al., 2007).

Rumus BMI

Nilai BMI yang didapat selanjutnya dapat dibandingkan dengan Gambar 3 untuk mengetahui kategori tubuh kita saat ini. Jika nilai BMI terlalu tinggi, tentu tidak baik karena tubuh sudah termasuk kategori obesitas. Jika nilai BMI terlalu kecil tentu juga tidak baik, karena kondisi tersebut juga dapat meningkatkan resiko terkena masalah kesehatan.

Kurva BMI

Kiat keempat dalam menghadapi masalah penyakit tidak menular adalah membiasakan perilaku hidup bersih. Sebab dengan perilaku hidup yang bersih, manusia dapat terhindar dari ancaman penyakit eksternal seperti virus, jamur dan bakteri. Oleh karena itu kita perlu meningkatkan kebersihan mulai dari lingkungan diri, sampai ke lingkungan sekitar kita seperti lingkungan air, lingkungan tanah (tempat tinggal), dan lingkungan udara. Integrasi kebersihan lingkungan inilah yang mampu menekan resiko berkembangnya penyakit tidak menular (Amuyunzu-Nyamongo, 2010).

Akhirnya kita telah mendapatkan 4 kiat menghadapi penyakit tidak menular yakni mengonsumsi pangan yang beragam, melakukan aktivitas fisik, memantau berat badan secara rutin, dan membiasakan perilaku hidup bersih. Keempat kiat ini dikenal dengan istilah 4 Pilar Gizi Seimbang, sebagaimana yang tertuang didalam Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014. Marilah kita galakkan keempat pilar gizi seimbang ini demi menciptakan kehidupan manusia yang lebih cemerlang.

   

Referensi:

Amuyunzu-Nyamongo, M. (2010). Need for a multi-factorial, multi-sectorial and multi-disciplinary approach to NCD prevention and control in Africa. Global Health Promotion, 17(2_suppl), 31-32.

Beaglehole, R., & Yach, D. (2003). Globalisation and the prevention and control of non-communicable disease: the neglected chronic diseases of adults. The Lancet, 362, 903-908.

Cole, T. J., Flegal, K. M., Nicholls, D., & Jackson, A. A. (2007). Body mass index cut offs to define thinness in children and adolescents: international survey. British Medical Journal, 335(7612), 194.

JustRunLah! (2015, April 6). BMI Calculator. Retrieved from JustRunLah!: https://www.justrunlah.com/bmi-calculator/

WHO. (2018). Noncommunicable Diseases: Country Profiles 2018. Switzerland: World Health Organization.

 

Disclaimer:

A last year student at Biological Engineering Undergraduate Program in Bandung Institute of Technology (ITB). He really loves to write and sharing. Until now, he already writes more than 270 articles & news!
Posts created 5

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: