Generasi Z Yang “Menghilang” di Kampoeng Ciherang

Hiburan merupakan salah satu kebutuhan vital bagi setiap manusia, tak terkecuali mahasiswa. Memang benar kalau kehidupan kampus itu penuh dinamika. Ada kuliah di kelas, kuliah di lapangan, penelitian di laboratorium, bolak balik mengurus revisi, hingga aktif berkegiatan di organisasi kemahasiswaan. Tapi ternyata kalau sudah jadi rutinitas bisa membuat jenuh juga!

Sayangnya bagi mahasiswa Jatinangor seperti saya, opsi hiburan yang ada sangat terbatas. Hanya ada satu mall disini, yakni Jatinangor Town Square (JATOS). Praktis kalau hari libur tiba mall ini akan dipenuhi oleh berbagai mahasiswa dari kampus-kampus di Jatinangor seperti ITB, UNPAD, IKOPIN dan IPDN. Tempat liburan yang lain mungkin Gunung Geulis dan Gunung Manglayang. Tapi karena kedua gunung tersebut berada dibawah pengelolaan kampus, ia tidak difokuskan untuk menjadi tempat wisata melainkan tempat penelitian. Maka jangan heran kalau kami, mahasiswa Jatinangor, sering sekali main ke Bandung setiap hari libur tiba.

Tapi pandangan saya mulai berubah ketika bertemu dengan Pak Agus. Beliau adalah salah seorang supir angkot 04 yang melayani trayek Sumedang – Cileunyi. Beberapa kali Pak Agus mengantar saya beserta teman-teman himpunan untuk pergi ke desa binaan milik Himpunan Mahasiswa Jurusan kami di Cibeusi. Dan dari percakapan disepanjang jalan itulah beliau menyebut satu tempat wisata di barat Sumedang yang bernama Kampoeng Ciherang.

Peta Kampoeng Ciherang:

Tanpa basa-basi, saya bersama teman-teman dari Muslim ITB Jatinangor segera merancang agenda untuk melepas penat kesana. Dengan menyewa angkot milik Pak Agus, kami pun bergerak dari Jatinangor sekitar pukul 7 pagi. Perjalanan ke Ciherang ternyata membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Cukup lama memang, tapi sepanjang jalan kami ditemani oleh hawa perbukitan yang begitu sejuk. Tak ayal banyak yang tertidur lelap di angkot saking nyamannya.

Sesampainya di Kampoeng Ciherang, beberapa orang dari kami langsung membuat story di Instagram. Maklum, suasana seperti ini bisa dibilang sangat jarang kami dapatkan. Lagipula kalau momen sehari-hari yang tidak terlalu penting saja kami buat story-nya, apalagi momen langka semacam ini, toh?

Tak lama, masuklah kami ke dalam kawasan Kampoeng Ciherang setelah membayar tiket masuk sebesar Rp15.000,- per orang. Jajaran pohon pinus langsung menyambut kami di sebelah kanan dan kiri. Ditengahnya ada satu lajur jalan setapak yang terasa seperti memanggil untuk ditelusuri lebih jauh. Seakan ada banyak keajaiban yang sudah siap menanti di dalam untuk kami singgahi.

Perlahan suara air makin jelas terdengar. Beberapa saung mulai terlihat, lengkap dengan beragam makanan khas Sunda yang terlihat begitu lezat untuk disantap. Saya bertanya pada teman-teman, “Apakah kita perlu berhenti dulu? Atau terus saja jalan ke dalam?”. Semua kompak menjawab jalan! Maka bergeraklah kami semakin jauh ke dalam ditemani suara kicau burung yang saling bersahutan.

Dan ternyata berakhirlah jalan setapak yang kami lalui di pinggir sebuah sungai. Alirannya cukup deras, tapi kami bisa melihat beberapa batu berada ditengahnya untuk dijadikan pijakan menyeberang. Kami pun memberanikan diri untuk menerjang arus sungai itu. Tangan-tangan saling berpegangan dan sungai setinggi lutut itu perlahan berhasil kami terjang! Alhamdulillah semua bisa menyusuri sungai ini dengan selamat.

Sampai disini saya perhatikan tak ada sedikitpun raut muka penyesalan dari kawan-kawan saya. Meski celana, rok dan sepatu mereka benar-benar basah, semua ceria dan bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan tidak ada yang sibuk dengan smartphone-nya. Masing-masing asyik memperhatikan bentang alam yang terhampar asri didepan matanya. Betul-betul berbeda dengan pemandangan yang saya saksikan di kampus sehari-hari.

Petualangan pun kami lanjutkan. Disini jalan setapak sudah mulai tak terlihat. Yang ada ialah bukit kecil dengan pasak-pasak yang mengindikasikan lajur pendakian. Bukit itu pun kami daki dan kami berhasil menemukan tanah lapang yang cukup luas diatasnya. Disitulah kami berhenti untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan.

Begitu mendapat tempat untuk duduk, saya langsung mengeluarkan HP dari kantong saya. Dan ternyata saya tidak bisa menemukan satupun garis sinyal di kolom notifikasi smartphone saya! Pantas saja sedari tadi tidak ada yang mengeluarkan HP, melainkan hanya beberapa orang yang sibuk dengan kamera digitalnya. Rupanya mereka sudah terlebih dahulu mengetahui bahwa tempat ini tidak terjangkau oleh sinyal dari operator manapun.

“Ayo semua berdiri. Kita main games buta-bisu-lumpuh!” seru seorang kawan saya secara tiba-tiba.

Games ini memang sangat klasik. Sebuah kelompok harus membagi anggotanya kedalam 3 peran, yakni orang buta, orang bisu dan orang lumpuh yang tidak bisa menggerakkan bagian badan dari pinggang ke bawah. Nantinya orang-orang buta harus membawa orang lumpuh dalam kelompok tersebut dari tempat awal ke tempat tujuan. Orang bisu ditempatkan di tempat tujuan dan bertugas memberikan arahan kepada orang lumpuh menggunakan isyarat tangan. Orang lumpuh inilah yang bisa mengarahkan teman-temannya yang buta untuk bergerak sambil membawa si orang lumpuh ini dengan cara apapun.

Setelah semua siap, games pun dimulai. Masing-masing orang bisu di tiap kelompok nampak begitu kesulitan dalam mengarahkan. Orang lumpuh pun sering salah menangkap maksud dari arahan yang diberikan. Jadilah masing-masing kelompok bergerak ke arah yang berantakan. Ada yang masuk ke semak-semak, ada yang berputar-putar, dan bahkan ada yang hampir menabrak pohon! Semua orang tertawa lepas dan inilah pertama kalinya saya mendapati mereka dengan keceriaan yang begitu besar.

Saat itulah saya mulai berpikir kembali tentang makna sebuah liburan, terutama bagi generasi Z seperti saya. Bagi kami, internet adalah mainan kami sehari-hari sejak kami masih kecil. Kami sudah sangat terbisa memainkan beragam media sosial, mengakses informasi yang tak terbatas, serta menggunakan fitur-fitur gadget yang mungkin belum umum digunakan oleh generasi-generasi sebelum kami. Hal inilah yang membuat kami mudah jenuh dengan dunia digital, meskipun amat mudah juga bagi kami untuk kembali memainkannya berjam-jam tanpa henti.

Tapi mungkin memang seperti itulah makna liburan. Liburan bukan berarti harus selalu datang ke mall untuk mencari spot-spot foto yang instagrammable. Liburan juga bukan berarti berbelanja banyak barang baru yang bentuknya unik serta beragam. Akan tetapi liburan sesungguhnya adalah mencari sesuatu diluar rutinitas kita sehari-hari.

Kalau sehari-harinya saja sudah sering menghabiskan waktu dengan gadget, maka definisi liburannya adalah menghabiskan waktu untuk bersenang-senang tanpa harus diganggu oleh gadget. Istilahnya bagi anak sekarang adalah “get lost” alias menghilang. Menghilang dalam artian sejenak menjauh dari dunia digital untuk memuaskan hati dan jiwa dalam berinteraksi dengan dunia yang sesungguhnya.

Tak terasa sudah hampir 4 jam waktu yang kami habiskan di Kampoeng Ciherang. Kami harus segera berkemas sebab Pak Agus sudah siap menjemput kami tepat jam 1 siang sesuai dengan kesepakatan. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk menunaikan shalat di mushala kecil yang terletak tak jauh dari pintu keluar. Kami juga sempat membeli makanan dan minuman dari para penjual yang notabene merupakan warga lokal. Bagaimanapun kami yakin bahwa jajanan-jajanan kecil ini bisa turut membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat di Kampoeng Ciherang.

Jam 1 lewat sepuluh menit semua sudah naik kedalam angkot dan kami mulai bergerak meninggalkan Kampoeng Ciherang. Sinyal internet kembali berlimpahan dan beberapa diantara kami mulai mengunggah foto-foto yang berhasil diabadikan dari Ciherang. Saat hendak meng-upload inilah saya berhasil menemukan ratusan foto dari orang-orang yang juga pernah singgah di Kampoeng Ciherang. Rupanya Ciherang sudah cukup eksis di Instagram. Tinggal di-viralkeun saja supaya semakin banyak orang yang datang.

Hawa dingin tak terasa mulai menyelimuti sebagian dari kami ke alam mimpi. Saya pun tak lama lagi akan segera bergabung. Tetapi sebelum itu, saya hendak memastikan beberapa hal yang bisa saya bawa pulang dari Ciherang kedalam perpustakaan besar yang ada di pikiran saya.

Dari Ciherang saya belajar arti sesungguhnya dari sesuatu yang kita sebut “liburan”. Bahwa liburan itu sejatinya berarti mencari suasana baru yang tidak bisa kita temukan dari rutinitas sehari-hari. Khusus bagi generasi Z seperti saya, liburan sejati adalah menghilang sejenak dari dunia maya demi memuaskan hati dan jiwa di dunia nyata. Tentu penting mengabadikan momen-momen unik di mediasosial. Tetapi yang jauh lebih penting adalah pengalaman yang bisa kita dapatkan dibalik momen tersebut. Experience is more valuable than material goods!

Sampai bertemu lagi, Kampoeng Ciherang.

muslim itb jatinangor di kampoeng ciherang
A last year student at Biological Engineering Undergraduate Program in Bandung Institute of Technology (ITB). He really loves to write and sharing. Until now, he already writes more than 270 articles & news!
Posts created 5

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: