lindungi-pekerja-rumahan

Kelompok Rentan Di Balik Cinderamata Malioboro yang Menawan

Siapa tak kenal dengan Malioboro? Sebuah jalan di pusat kota Yogyakarta yang begitu khas dengan barisan pedagang dan penampilan seni setiap harinya. Malioboro adalah pusat bagi industri kreatif Yogyakarta. Beragam barang mulai dari kaos, kain, kemeja, tas perca, cinderamata, hingga barang-barang antik khas Yogyakarta bisa Anda temukan disana. Tentunya dengan harga yang sangat bersahabat dengan dompet Anda!

Tapi mengapa harga barang-barang disana bisa murah?

Secara logika, tentu saja harga barang bisa murah kalau ongkos produksinya juga rendah. Masalahnya ongkos produksi yang rendah bisa berasal dari banyak hal. Misalnya harga bahan baku yang sangat murah, harga pengrajin/pekerja yang rendah, atau bahkan biaya transportasi yang amat terjangkau. Untuk menjawab masalah ini secara detil, mari kita berkenalan dengan bu Warisah.

Berkenalan dengan Bu Warisah

Bu Warisah bisa dikatakan sebagai salah satu putri asli Yogyakarta. Beliau tinggal di Desa Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Jaraknya sekitar 17 kilometer ke arah tenggara dari pusat kota Yogyakarta. Desa ini amat terkenal dengan ragam bentang alam yang begitu indah. Mulai dari bukit Pentuk, air terjun Pogog, hingga air terjun Surupethek. Maka tak heran bila saat masa liburan tiba orang-orang dari kota Yogyakarta memadati desa ini untuk sekedar me-refresh diri ditengah suasana yang menyejukkan hati.

Sayangnya dibalik suasana yang nampak begitu asri itu tersimpan satu kenyataan yang pahit. Ya, sebagai daerah dengan sektor ekonomi utama pariwisata, tak heran kalau kebanyakan warganya berprofesi sebagai pengrajin barang-barang kesenian. Bu Warisah sendiri merupakan seorang penjahit kain perca. Hanya berbekal kain-kain batik sisa jahitan, bu Warisah mampu menciptakan tas perca yang ciamik khas Yogyakarta. Tas perca inilah yang ikut dijajakan oleh belasan –bahkan puluhan– penjual di jalan Malioboro.

Dalam setiap pembuatan satu buah tas perca, bu Warisah mendapat upah Rp2.500,-. Jumlah ini tentu sangat kecil bila dibandingkan harga jual tas perca yang umumnya berada dalam rentang Rp20.000,- hingga Rp35.000,-. Namun bu Warisah tidak mempermasalahkan hal ini. Sebab beliau masih kegiatan ini tak ubahnya seperti kerja sampingan biasa. Toh satu tas perca bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu jam. Jadi membuat 4-5 tas perca sehari agaknya tidak akan terlalu menyita waktu.

Salah satu sudut Malioboro yang menjual tas perca. Sumber.

Tetapi lama kelamaan jumlah pesanan yang diberikan terus meningkat. Waktu pengerjaannya pun semakin lama. Yang tadinya hanya 5 jam sehari, perlahan meningkat hingga 8 jam, bahkan tak jarang mencapai 10-14 jam sehari. Akhirnya pekerjaan yang terlihat “sampingan” ini lama kelamaan berubah menjadi pekerjaan yang sangat menyita waktu. Urusan rumah tangga pun jadi mulai terbengkalai. Waktu untuk mengurus pekerjaan rumah semakin sedikit dan waktu istirahat pun terasa semakin sempit.

Beruntung Yayasan Annisa Swasti (Yasanti) berkunjung ke Desa Wonolelo dan bertemu dengan bu Warisah bersama rekan-rekan pada tahun 2014. Yasanti memberikan penyadaran bahwa pada dasarnya bu Warisah dan rekan-rekannya sedang tidak menjalani kerja sampingan. Akan tetapi sesungguhnya mereka termasuk kedalam golongan yang disebut sebagai pekerja rumahan.

Lantas apa yang dimaksud dengan pekerja rumahan?

Mengenal Pekerja Rumahan

Pekerja rumahan pada dasarnya merupakan seorang pekerja, seperti karyawan umumnya dalam suatu perusahaan, tetapi perbedaannya mereka bekerja di rumah masing-masing. Mereka tidak dapat digolongkan sebagai freelancer karena mereka terlibat dalam mata rantai produksi secara langsung. Sehingga posisinya amat mirip dengan pekerja kantoran, hanya saja memiliki tempat kerja yang berbeda.

Sekilas hal ini terlihat tidak bermasalah. Namun dalam keberjalanannya, justru ditemukan banyak diskriminasi terhadap kelompok ini.

Pertama, masalah kontrak kerja. Pekerja rumahan umumnya tidak memiliki kontrak kerja yang jelas dan ditandatangani secara resmi oleh kedua belah pihak. Kondisi ini memungkinkan mereka mengalami eksploitasi jam kerja tanpa bisa melayangkan gugatan ke perusahaan. Pekerja rumahan jelas tidak memiliki posisi tawar (bargaining position) yang cukup terhadap perusahaan. Sebab bagaimana hendak menggugat jika tidak ada kesepakatan hitam diatas putih yang mengikat?

Pekerja rumahan pada dasarnya merupakan seorang pekerja, seperti karyawan umumnya dalam suatu perusahaan, tetapi perbedaannya mereka bekerja di rumah masing-masing.

Belum lagi masalah pemenuhan hak sebagai seorang tenagakerja. Oleh karena tidak ada kontrak resmi, pemberian gaji pun dapat dipastikan tidak memiliki standar. Apalagi kalau bicara masalah hak tenaga kerja lainnya seperti jaminan kesehatan, jaminan keselamatan kerja, dan jaminan sosial. Kalaupekerja rumahan sakit, maka perusahaan sudah pasti akan berlepas tangan. Toh memang tidak ada perjanjian seperti itu di awal pekerjaan kan?

Jadi kalau seorang pekerja rumahan jatuh sakit, ia harus merogoh kocek pribadinya untuk bisa berobat, meskipun sakitnya disebabkan oleh pekerjaan yang diberikan perusahaan. Tidak ada yang namanya kompensasi, bahkan terhadap pekerja perempuan yang sedang hamil, melahirkan atau menyusui. Inilah beberapa alasan yang menjadikan pekerja rumahan dapat digolongkan sebagai kelompok rentan.

Masalah Pekerja Rumahan, Masalah Multidimensi

Sampai disini mungkin kebanyakan kita akan sangat menyalahkan pihak perusahaan. Perusahaan salah karena mempekerjakan para pekerja tanpa kontrak yang jelas, salah karena memberikan upah yang tidak layak, dan sebagainya. Seakan perusahaan menjadi satu-satunya tersangka dalam kasus yang sedang kita bahas ini.

Padahal dalam konteks industri, perusahaan tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Mereka pasti akan berinteraksi dengan pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Pun terkoneksi dengan masyarakat sebagai konsumen maupun produsen dalam rumah tangga industri tersebut. Dengan kata lain, masing-masing komponen tersebut pastilah juga memiliki sumbangsih tersendiri dalam berkembangnya problematika pekerja rumahan.

Pemerintah sungguh telah diamanatkan oleh Pasal 27 Ayat (2) UUD 1945 untuk menciptakan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi setiap warga negaranya. Aturan ini bahkan telah diturunkan menjadi beragam undang-undang dan peraturan pemerintah tentang Ketenagakerjaan yang sifatnya lebih teknis dan mendetil. Tetapi dalam realisasinya tetap saja masih ditemukan banyak ketidakidealan.

Sebagai contoh definisi pekerja sendiri dalam Pasal 1 angka (4) UU Nomor 13 Tahun 2003 memang sudah mencakup pekerja rumahan. Tapi undang-undang yang sama bahkan tidak menyatakan adanya aturan untuk mengakomodir kebutuhan khusus para pekerja rumahan. Sehingga dapat dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada payung hukum yang secara spesifik mengatur tentang pekerja rumahan di Indonesia.

Masyarakat juga punya andil dalam masalah pekerja rumahan ini. Betapa banyaknya pekerja rumahan diluar sana yang belum sadar kalau dirinya adalah seorang pekerja rumahan. Padahal masyarakat menyaksikan sendiri aktivitas kelompok ini secara langsung. Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam masyarakat kita hari ini.

Maka dengan masalah yang demikian kompleks ini, solusi apa yang bisa kita hadirkan?

Mengurai Benang Kusut Pekerja Rumahan

Kembali ke ibu Warisah. Setelah “disadarkan” oleh Yasantipada tahun 2014, bu Warisah mulai membangun komunitas dengan sesama pekerja rumahan di desa Wonolelo. Gayung bersambut, komunitas ini kemudian tersambung dengan kemitraan MAMPU yang merupakan kemitraan Australia – Indonesia untukKesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan. Federasi Perempuan Pekerja Rumahan Kabupaten Bantul pun dapat didirikan dengan bu Warisah yang langsung menjadi ketuanya.

Dibawah kepemimpinan bu Warisah, Federasi Perempuan Pekerja Rumahan Kabupaten Bantul mulai menunjukkan perannya dalam membela hak-hak para pekerja rumahan. Pada hari buruh 1 Mei 2018 yang lalu pun serikat ini turun langsung ke jalanan Malioboro untuk menyuarakan aspirasinya. Mereka menuntut pihak pemerintah dan pengusaha dengan 3 buah tuntutan, yakni: (1) memberikan gaji sesuai UMP, (2) memberikan perlindungan dan jaminan waktu kerja, serta (3) membebankan biaya produksi kepada perusahaan.

Para pekerja rumahan dalam aksi Mayday (1 Mei 2018) di Jalan Malioboro. Sumber.

Apa yang dilakukan oleh bu Warisah merupakan langkah yang sangat konkrit dalam mengurai benang kusut permasalahan pekerja rumahan. Tetapi bu Warisah tentu tidak bisa bergerak sendiri untuk mengangkat masalah ini kepermukaan. Oleh karena itu disinilah peran kita semua diperlukan untuk mendorong berbagai bentuk gerakan pekerja rumahan dimanapun kita berada.

Hal ini dapat dimulai dengan memberitahu sebanyak-banyaknya orang disekitar kita tentang pekerja rumahan, sebagaimana yang dilakukan oleh Kantor Berita Radio lewat program radio Ruang Publik KBR. Program inilah yang telah memperkenalkan saya dengan bu Warisah dan banyak aktivis lain yang sama-sama bergerak demi kesejahteraan pekerja rumahan.

Akhir kata, mari #LindungiPekerjaRumahan. Karena sungguh, mereka juga seorang pekerja.

A last year student at Biological Engineering Undergraduate Program in Bandung Institute of Technology (ITB). He really loves to write and sharing. Until now, he already writes more than 270 articles & news!
Posts created 5

2 thoughts on “Kelompok Rentan Di Balik Cinderamata Malioboro yang Menawan

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: