Gelak Tawa dan Canda di Malam Apresiasi HMRH

Sungguh saya bukan orang yang senang dengan acara berkonsep party pada mulanya. Tapi himpunan ini memang sedikit banyak telah mengubah saya. Hingga tak lengkap rasanya, jika harus melewatkan perhelatan itu, meskipun sedang sibuk dengan urusan TA.

Malam apresiasi HMRH 2019 merupakan sebuah program kerja dibawah Departemen PSDA yang dipimpin oleh Abdul Azis (Rekayasa Hayati 2015). Kegiatan ini diselenggarakan oleh kepanitiaan khusus yang dipimpin oleh M. Yudha Prawira (Rekayasa Hayati 2017).

Pada acara ini, diberikan beberapa apresiasi kepada massa HMRH kedalam berbagai kategori. Seperti terambis, terlambat bangun, tercabe, terjatuh cinta dan tersekre. Saya sendiri masuk kedalam nominasi tertidur di kelas. Hatur nuhun!

I am the nominee! Thanks HMRH!

Ada juga apresiasi kepada massa HMRH yang telah berpartisipasi aktif pada program-program tertentu, seperti BErcerita dari Medkominfo dan Dirganca Award dari Tim Kesenatoran. Puncaknya, tentu penghargaan HMRH of the Year (HOTY) yang berhasil disabet oleh Nadzifa Rahma Alifia (Rekayasa Hayati 2016).

Dirganca Award: Apresiasi bagi para pemberi aspirasi bagi Tim Kesenatoran HMRH ITB disetiap bulannya

Rangkaian acara apresiasi tersebut juga diselingi oleh berbagai penampilan dari massa HMRH. Ada yang membawakan sebuah lagu, membacakan puisi, berdansa, hingga mengajak seluruh massa untuk sejenak berjoget bersama. Tawa massa HMRH pecah terutama pada momen covering MV ‘Solo’ dari Jennie dan ‘Hello Dangdut’ dari Trio Kwek Kwek.

Slider image

Games “Tebak Muka”

Slider image

Hertadi dkk are on stage with ‘Solo’ from Jennie

Slider image

Very blurred. Captured when Trio Kwek Kwek is on stage

Acara ini juga dipenuhi dengan games yang penuh canda. Misalnya saat sesi menebak status/cuitan lama dari massa HMRH. Atau juga saat sesi games memukul piñata yang diwarnai dengan pelemparan permen secara brutal. Pecah!

Hingga akhirnya acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh M. Farid Mahfuzh Abrar (Rekayasa Hayati 2015), selaku Ketua BPH HMRH 2018/2019. Farid menutup pembacaan puisinya dengan mengajak massa HMRH menyanyikan lagu Monokrom dari Tulus bersama-sama. What a sweet moment!

You may want to listen to this song while reading. Just click on its play button.

Praktis acara ini mendorong saya untuk memikirkan kembali makna apresiasi. Hal apakah yang sebenarnya patut kita apresiasi? Apakah agenda bertajuk ‘malam apresiasi’ dengan konsep semi-party memang wajib diadakan? Tiadakah bentukan lain yang lebih sesuai kebutuhan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, izinkan saya sedikit bercerita terlebih dahulu.

* * *

Bulan-bulan terakhir di SMA saya habiskan dengan menjadi wakil ketua pelaksana agenda perpisahan kelas XII. Saya sendiri tak ingat persisnya, mengapa waktu itu saya ikut mencalonkan diri sebagai ketua. Yang jelas rekan saya Akbar (Teknologi Bioproses UI 2015) terpilih sebagai ketua dan langsung merekrut saya untuk menjadi wakilnya.

Salah satu agenda yang disepakati harus ada dalam rangkaian acara perpisahan itu adalah prom night. Akbar berhasil meyakinkan saya untuk mengadakan acara prom night yang tetap elegan. Elegan dalam arti tidak berlebihan, fokus pada kebersamaan, dan diupayakan meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Saya setuju. Dan kami pun memperjuangkan acara ini bersama-sama.

Bersama Dea dan Fina. Mari selesaikan perjuangan bersama, rekan kelompok TA!

Akan tetapi saat sesi prom night tiba, sejujurnya memang saya belum terlalu dapat menikmatinya. Saya seperti tak dapat merasakan kesenangan yang teman-teman saya rasakan. Seperti terasing di tengah perayaan yang semarak.

Bahkan ketika Kunto Aji sudah naik ke atas panggung, respon saya masih biasa saja. Praktis hanya sesi pemutaran film angkatan yang membuat saya benar-benar tak merasa merugi karena telah hadir malam itu.

Bersama Divisi Kaderisasi HMRH ITB 2018/2019 yang dipimpin oleh Dea Prianka (Rekayasa Hayati 2015).

Tapi kondisi berubah ketika saya masuk kedalam himpunan.

Dalam setahun, setidaknya ada tiga kali perhelatan wisnight, sebuah acara malam yang khusus diperuntukkan untuk mengapresiasi para calon wisudawan. Saya pun tidak pernah bergabung secara khusus kedalam divisi wisnight. Tapi posisi sebagai ketua angkatan membuat saya mau tak mau harus datang.

Kurang enak saja rasanya kalau ketua angkatan tidak hadir dalam agenda-agenda besar himpunan. Lagipula, bukankah himpunan yang memfasilitasi saya untuk menjadi seorang ketua angkatan? Maka kehadiran ketua angkatan dapat kita lihat sebagai bentuk tanggung jawab terkecil dari seorang ketua angkatan kepada himpunannya.

Bersama keluarga Departemen PSDA HMRH ITB 2018/2019. Yang baju merah jangan sampai lepas~~~

Wisnight pertama dan kedua, euforia masih terasa. Masuk wisnight ketiga, jenuh pun datang menyapa. Pasalnya ketua angkatan ternyata tak sekedar diharapkan kedatangannya. Melainkan juga diharapkan untuk mengkoor angkatannya dalam membuat video ucapan dan perform angkatan pada setiap sesi wisuda.

Bukankah pekerjaan itu sederhana?

Jelas tidak. Apalagi momen wisuda hampir selalu berbarengan dengan masa-masa padat kegiatan, seperti UTS dan PPAB. Maka tak perlu heran kalau saya juga sempat bermalas-malasan dalam mengurusi hal-hal seputar wisuda.

Tapi seiring berjalannya waktu, saya menemukan motivasi lain untuk hadir ke acara wisnight. Bukan untuk mengapresiasi wisudawan, melainkan mengapresiasi kawan-kawan saya yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengurusi acara wisnight tersebut.

Bersama angkatan tercinta, Quercus Infectoria.

Sebab bukankah tidak enak rasanya, saat kita sudah berusaha keras mewujudkan suatu acara untuk massa, tetapi massa yang hanya diharapkan kedatangannya tak kunjung muncul juga?

Bukankah tidak enak rasanya bekerja sendiri atas nama organisasi, sedangkan orang-orang di organisasi itu juga tak memperlihatkan eksistensi?

Dorongan ini kemudian melabuhkan saya pada satu kesimpulan: bahwa bentuk apresiasi serendah-rendahnya yang dapat dilakukan oleh seorang massa, ialah hadir pada acara yang diselenggarakan oleh massa yang lain. Hanya hadir!

Saya tentu bisa memahami kalau tiap-tiap massa tentu punya kesibukan masing-masing. Dan saya pun bisa memahami, kalau kesibukan itu tak jarang lebih worth untuk diurusi ketimbang acara himpunan yang begitu-begitu saja.

Tapi rekan-rekan kita yang menjadi penyelenggara juga bukan tak punya kesibukan. Bahkan bisa jadi beberapa orang dari mereka justru memiliki kesibukan yang tak kalah banyaknya dengan kita yang sudah memilih untuk tidak datang.

Bersama massa HMRH. Kalian luar biasa~~~

Bukan apa-apa. Saya hanya kuatir akan semakin cepat dan banyaknya massa yang enggan berkegiatan lagi di himpunan ini. Dan kalau bukan perkara apresiasi, apalagi yang bisa kita jadikan bargaining position dari organisasi non-profit ini?

Akhirnya saya ingin berterimakasih kepada HMRH. Bahwa segenap kegiatan dan proses kaderisasinya yang belum sempurna, ternyata bisa juga membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

With the boyz! Pardon for our pose :’)

Terima kasih juga kepada angkatan saya, Quercus Infectoria. Sebab telah membersamai diri ini secara dekat dalam beberapa tahun terakhir. Terima kasih telah mengubah saya yang tadinya begitu cuek dengan dresscode acara, menjadi sangat excited untuk memakai dasi kupu-kupu bersama-sama.

Maafkan saya yang belum menjadi massa himpunan sekaligus ketua angkatan yang ideal. Terkhusus untuk Dheyan dan Amudra, jadilah massa himpunan sekaligus ketua angkatan yang lebih baik dari saya! Saya yakin kalian bisa. Jadi, buktikanlah dalam tahun-tahun yang akan datang!

Semoga belum benar-benar terlambat bagi kita semua untuk menghadiri agenda-agenda himpunan yang tersisa. Karena kita semestinya percaya, bahwa adanya kita, merupakan bentuk apresiasi terkecil yang bisa kita berikan kepada sesama massa HMRH.

(all documentation is made by Tim Dokumentasi Malam Apresiasi HMRH ITB 2019)

Salam,
Muhammad Arief Ardiansyah (11215006)
Anggota Biasa HMRH ITB 2016-2019

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: