Dari dalam kaca mobil itu, ia melihat bentangan alam Istanbul dengan mata yang sayu. Ada sekelebat kerinduan yang muncul tatkala ia berhasil melihat jajaran pohon ek yang sudah tak pernah dilihatnya lagi selama 3 tahun terakhir. Sayangnya kerinduan itu tak bertahan lama. Sejurus kemudian memori yang amat kelam memenuhi kepalanya. Membuatnya mau tak mau kembali mengingat saat-saat yang paling ia sesali dalam kehidupannya.

Nama lengkapnya Abdul Hamid bin Abdul Majid bin Mahmud bin Abdul Hamid bin Ahmad [i]. Tetapi umat muslim zaman now lebih mengenalinya dengan nama Sultan Abdul Hamid II. Sosok yang sangat gemar membaca dan bersyair ini termasuk khalifah-khalifah terakhir dari Kesultanan Turki Utsmani. Posisinya sebagai salah satu dari beberapa khalifah terakhir inilah yang membuatnya senantiasa di-kambing hitam-kan setiap kali diskusi keruntuhan khilafah Islamiyah digelar. Namun dibalik itu semua, beliau adalah sosok yang sangat teguh dalam mempertahankan setiap jengkal tanah yang pernah berada dibawah panji kekhalifahan.

Islam dan Nasionalisme
Ilustrasi Istanbul. Sumber: Pinterest

Salah satu buktinya bisa dilihat dalam buku “Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II” karya Muhammad Harb. Dalam buku tersebut diceritakan bahwa sejak tahun 1892 kaum Yahudi sudah berusaha melobi Sang Sultan agar dapat memperbolehkan mereka memasuki wilayah Palestina. Namun sayang Sultan Abdul Hamid II tidak pernah menggubris permintaan tersebut.

Bahkan pada tahun 1902 Theodor Hertzl, Bapak Yahudi Dunia, sampai rela menawarkan uang sebesar 150 juta poundsterling plus pembangunan Universitas Utsmaniyyah secara gratis yang sangat diidamkan oleh Sultan Abdul Hamid II. Tetapi sekali lagi Sang Sultan tidak bergeming dengan penawaran manis tersebut. Sikapnya tetap sama: Palestina adalah milik umat Islam dan Yahudi tidak diperbolehkan memiliki satu jengkal tanah pun di tanah suci tersebut.

Sayangnya berbagai ancaman terus beliau dapatkan baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu ancaman terbesarnya terjadi ketika beliau dipaksa oleh negara-negara Eropa untuk menandatangani perjanjian Saint Stefanus, yang membuat Serbia, Rumania dan Bulgaria harus lepas menjadi negara merdeka yang baru. Perjanjian inilah yang mendorong lepasnya daerah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani satu persatu. Masyarakat di daerah merasa bahwa kekhalifahan tidak mampu mengakomodir keinginan dan keperluan mereka dan akan jauh lebih baik bila mereka menentukan nasib mereka sendiri tanpa perlu dibayang-bayangi oleh kepentingan khalifah. Akhirnya kesultanan Turki Utsmani pun terus mengalami penyusutan daerah kekuasaan dengan laju yang signifikan.

Peta Kekhalifahan Turki Utsmani
Peta daerah kekuasaan Turki Utsmani. Sumber: mirajnews.com

Disamping itu, ancaman berat juga datang dari dalam negeri sendiri. Alih-alih mendukung penuh pemerintahan Sultan, sebagian umat Islam Turki kala itu justru ingin mengkudeta Sang Sultan dari jabatannya. Mereka bahkan mendesak para ‘ulama Turki masa itu untuk menurunkan Sultan Abdul Hamid II dari kedudukannya. Mereka sadar betul kalau Sang Sultan sangat menurut kepada para ‘ulama dan pastinya tidak akan menolak taklimat yang diberikan oleh para ‘ulama yang beliau percayai.

Maka diturunkanlah Sang Sultan dari kursi kepemimpinannya pada tahun 1909. Ia beserta keluarganya bahkan diasingkan ke Salonika, Yunani guna mengamankan dirinya dari ancaman pembunuhan yang merebak di Istanbul. Tiga tahun berselang dan kini ia berada dalam mobil yang sudah membawanya kembali ke Istanbul. Sayang nostalgia itu harus terhenti ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di depan istana tua Beylerbeyi. Tembok kusam Beylerbeyi membuatnya sadar bahwa ia akan kembali memasuki penjara, tanpa tahu apakah nanti ia bisa menghirup udara bebas lagi atau tidak. Tetapi satu buah pertanyaan masih terus menggelayuti pikirannya kala itu.

Apakah semua ini terjadi gara-gara nasionalisme?

 

Kelahiran Nasionalisme

Nasionalisme pertama kali lahir ke dunia pada awal abad 19. Kala itu Jean Jacques Rousseau, filosof kelahiran Swiss, menolak adanya penjelmaan bangsa pada seorang penguasa atau kelas yang sedang memegang kekuasaan. Rousseau secara berani menyatakan bahwa bangsa tak ubahnya dengan rakyat sehingga rakyat-lah yang seharusnya menjadi bangsa itu sendiri. Oleh karena itu, menurut Rousseau, perilaku dari segolongan masyarakat-lah yang akan membentuk identitas bangsa dan bukan dari perilaku sang penguasa saja.

Argumen yang muncul pasca kekacauan akibat perang Napoleon ini kemudian menjadi salah satu prinsip fundamental bagi revolusi Perancis [ii]. Akibatnya, gerakan-gerakan pengusung nasionalisme mulai muncul di negara-negara yang sudah terbentuk kala itu. Mulai dari Amerika, Perancis, Jerman, hingga Italia mulai menerapkan paham nasionalisme di negaranya masing-masing. Corak nasionalisme yang dihasilkan pun berbeda-beda. Sebut saja misalnya nasionalisme ala Jerman kala itu yang amat mengagung-agungkan bangsanya sendiri (chauvinistic) dan nasionalisme ala Perancis yang bercorak borjuis. Akan tetapi mereka terlihat memegang prinsip yang sama. Bahwa nasionalisme diperlukan untuk dapat mendirikan suatu bangsa, mengembangkan kekuatan ekonomi, politik, militer dan kebudayaan, serta melakukan ekspansi terhadap wilayah bangsanya [iii].

Berbeda dengan di dunia barat, nasionalisme yang muncul di negara-negara timur justru muncul akibat kolonialisme dan imperialisme. Kenangan kelam menjadi negara terjajah membuat negara-negara timur umumnya mengasosiasikan kata nasionalisme dengan kebangkitan nasional. Meski begitu masih ada beberapa negara timur yang memiliki corak nasionalisme tanpa terkontaminasi oleh kenangan penjajahan. Misalnya Thailand yang memunculkan nasionalisme untuk mengubah sistem feodal kerajaan menuju sistem monarki parlementer, atau Jepang yang memunculkan nasionalisme sebagai bentuk loyalitasnya terhadap kaisar yang dianggap sebagai titisan dewa.

Indische Partij dan Nasionalisme Indonesia
Tokoh Indische Partij. Sumber: idsejarah.net

Nasionalisme di Indonesia sendiri diyakini pertama kali muncul pada tahun 1920-an ketika pemerintah Hindia Belanda kala itu menerapkan sistem politik etis [iv]. Meskipun begitu benih-benih nasionalisme itu diperkirakan sudah mulai muncul pada masa kerajaan Majapahit. Adalah “Sumpah Palapa” milik Maha Patih Gajah Mada yang melatarbelakangi tesis yang satu ini. Nantinya semangat nasionalisme itu dibawa secara bersambung oleh Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, dan para tokoh pergerakan nasional seperti Soewadi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkusumo, Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sutomo dan Sartono [v].

Akan tetapi meskipun telah ditemukan sejak lama, nasionalisme terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sebabnya ketidaksempurnaan dari paham yang satu ini mulai terlihat secara kasat mata. Kerusuhan besar di Rumania yang terjadi pada tahun 2014 silam bahkan ditengarai sebagai akibat dari gagalnya politik nasionalis yang coba diterapkan oleh pemerintah [vi]. Maka dari itulah muncul gagasan nasionalisme modern yang digadang-gadang mampu memberikan kebaikan yang lebih banyak lagi kepada negara-negara di seluruh dunia.

 

Konsep Nasionalisme Modern

Nasionalisme modern merupakan suatu paham yang berkaitan tetang hak bagi suatu bangsa untuk dapat menentukan nasibnya sendiri. Dengan kata lain, nasionalisme tetap membawa semangat anti-imperialisme. Sebab hanya dengan menolak segala bentuk penjajahan, setiap bangsa bisa menentukan nasibnya sendiri. Oleh karena itu nasionalisme modern akan melahirkan suatu kestabilan pada negara yang nantinya berfungsi sebagai kekuatan pemersatu bagi suku-suku dan kelompok etnis yang tinggal di negara tersebut [vii].

Konsep nasionalisme modern ini nantinya dijabarkan secara lebih detil oleh para sosiolog ternama abad ini, salah satunya Robert N. Bellah. Dalam bukunya yang berjudul Beyond Belief: Essays on Religion in a Post-Traditionalist World, Bellah mengemukakan beberapa ciri yang harus termaktub dalam konsep nasionalisme modern. Tiga diantaranya ialah sebagai berikut.

Pertama, keterbukaan partisipasi bagi seluruh anggota masyarakat. Nasionalisme modern ingin memastikan kalau seluruh anggota masyarakat, siapapun ia, harus mendapatkan ruang untuk berpartisipasi di dalam negara. Partisipasi ini tentu hanya dapat muncul jika penguasa didalamnya bersedia menerima penilaian dari rakyat yang dipimpinnya. Penilaian inipun tidak boleh didasarkan pada kriteria tertentu seperti kesamaan ras, suku, golongan, dan lain-lain. Penilaian ini harus didasarkan pada bentuk partisipasi yang telah seseorang berikan. Singkatnya, penilaian kepada seseorang haruslah didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk melakukan sesuatu (achievement orientation).

Adapun ciri ciri nasionalisme modern yang kedua adalah melakukan pembagian dan pengelolaan yang baik terhadap harta milik pribadi dan harta milik umum. Pencampuran antara keduanya hanya akan memunculkan gelombang korupsi yang sudah sangat jelas amat menghambat pembangunan negara. Dengan melakukan separasi kekayaan yang jelas, persepsi kekayaan negara sebagai milik bersama akan muncul. Inilah gerbang awal bagi pemanfaatan kekayaan umum yang seluas-luasnya bagi kemaslahatan bangsa dan negara.

Sementara itu nasionalisme modern yang ketiga ialah tidak menjadikan kejayaan suku atau etnis tertentu sebagai tujuan dari kegiatan berbangsa maupun bernegara. Alasannya jika bangsa-bangsa yang ada terus mengedepankan prinsip ini, maka kompetisi yang terbangun akan sangat mudah dimasuki oleh paham chauvinisme. Paham inilah yang mendorong terjadinya Perang Dunia I dan II serta menyebabkan kerusakan yang amat parah di seantero dunia kala itu. Oleh karena itu nasionalisme modern harus dibebaskan dari sikap menjadikan bangsa sendiri sebagai entitas yang paling agung.

Bila dicermati, konsep nasionalisme modern tentu sangat cocok bagi negara yang memiliki ragam suku dan etnis yang sangat banyak seperti Indonesia. Pasalnya dengan keragaman yang begitu besar, peluang terjadinya gesekan akibat perbedaan sosial-kultural pun akan semakin besar. Ini berarti tingginya keragaman yang dimiliki oleh negara ini dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas dan pembangunan ekonomi yang dilakukan, bila tidak dikelola secara matang.

Uniknya Bellah menyatakan bahwa sudah ada suatu masyarakat yang pernah menerapkan konsep nasionalisme modern ini secara utuh. Masyarakat itu bahkan hadir jauh sebelum Rousseau pertama kali memperkenalkan konsep nasionalisme di Eropa. Kita pun pasti sudah mengenal masyarakat yang satu ini meskipun hanya dari kulitnya saja. Masyarakat itu bernama masyarakat Madinah.

 

Nasionalisme Modern dalam Masyarakat Madinah

Penopang bagi sebuah negara adalah tanah, manusia, dan pemerintahan. Itulah ketiga hal yang coba dipenuhi oleh Rasulullah saw. semenjak ia pertama kali menginjakkan kaki di kota Madinah. Pembangunan terhadap unsur tanah beliau lakukan dengan mendirikan masjid, sementara pembangunan terhadap unsur pemerintahan beliau mulai dengan membuat Piagam Madinah [viii]. Lantas bagiamanakah cara Rasulullah membangun manusia (masyarakat) dalam ‘negara’-nya yang baru terbentuk itu?

Jawabannya ialah dengan melakukan penanaman nilai tauhid kepada masyarakat didalamnya. Jika di Mekkah beliau berhasil mengokohkan keimanan dalam dada kaum Muhajirin, maka di Madinah beliau berhasil menghujamkan iman itu dalam sanubari kaum Anshar. Iman inilah yang menjadi fokus bagi seorang Muhammad saw. untuk membangun peradaban.

Hasilnya pun terbukti dengan amat jelas. Kuatnya iman yang telah terbentuk itu akhirnya memancarkan nilai-nilai mulia yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat. Satu persatu ciri nasionalisme modern pun terkuak dalam deretan siroh nabawiyah yang biasa kita baca sehari-hari.

Coba perhatikan saat-saat ketika Rasulullah mendapatkan seruan untuk berperang di Badar dan di Uhud. Tentu saja Rasul bisa langsung meminta petunjuk kepada Allah ketika ia hendak memutuskan untuk pergi menyambut seruan perang itu atau tidak. Namun apa yang terjadi? Rasulullah justru meminta pendapat dari para sahabatnya terkait masalah ini. Bahkan Rasul tidak mau berangkat ke Uhud sebelum kaum Anshar memberikan pendapatnya terkait persoalan ini, sekalipun sahabat utama seperti Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. telah angkat suara memberikan pendapatnya.

Kebiasaan ini kemudian diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin. Kisah yang paling terkenal tentu ketika Khalifah Umar dikritisi oleh seorang wanita di depan umum tatkala ia hendak memberikan peraturan baru terkait penurunan nilai mahar. Alih-alih merasa dirinya dipermalukan didepan umum, Umar justru menerima pendapat wanita tersebut dengan lapang hati. Ia bahkan langsung ber-istighfar dihadapan umum begitu menyadari kesalahan yang baru ia perbuat. Inilah bentuk keterbukaan partisipasi yang sangat nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Madinah yang dibuat oleh Rasulullah juga berhasil menghapus kebanggaan berlebih terhadap golongan tertentu yang dimiliki oleh individu didalamnya. Sebelum kedatangan Rasul, Madinah terbagi kedalam beberapa suku layaknya Mekkah. Dua suku paling utama bernama ‘Aus dan Khazraj. Tetapi ketika Rasulullah datang kedua suku ini mampu dipersatukan dalam tali ukhuwah yang kokoh. Mereka pun enggan dipanggil dengan sebutan suku lamanya dan lebih memilih untuk dipanggil dengan sebutan kaum Anshar. Hal serupa terjadi di Mekkah tatkala Rasulullah berhasil menghapuskan arogansi kabilah-kabilah yang ada di Quraisy. Sebab konsep tauhid mengajarkan secara gamblang bahwa muslim dari kabilah manapun memiliki kedudukan yang sama di mata Allah. Yang mampu membedakan hanyalah kadar ketaqwaan yang berdasar pada kemampuan orang tersebut dalam mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman didalam kehidupannya (achievement orientation).

Rasulullah juga membangun Baitul Mal sebagai pusat pengelolaan keuangan umat. Institusi inilah yang menjamin adanya pembagian yang jelas antara harta pribadi dan harta umum. Hukum yang dibangun diatasnya pun teramat kokoh sampai-sampai seorang yang terkenal sangat lembut seperti Abu Bakar hendak memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Sekali lagi hal ini membuktikan bahwa masyarakat Madinah kala itu benar-benar telah menerapkan konsep nasionalisme modern yang kita elu-elukan hari ini.

Robert N Bellah - Sosiolog Agama
Robert N. Bellah. Sumber: cruxnow.com

Maka tak heran bila Robert N. Bellah menyatakan masyarakat Madinah kala itu sebagai “a better model for modern national community building than might be imagined”. Sebuah model masyarakat nasionalis modern yang lebih baik daripada yang bisa ia bayangkan.

Oleh karena itu memisahkan Islam dengan nasionalisme tak ubahnya suatu anekdot belaka. Sebab Rasulullah, melalui masyarakat Madinah yang berhasil dibuatnya, justru menerapkan konsep nasionalisme modern secara komprehensif. Adanya fakta bahwa nasionalisme telah menyebabkan runtuhnya kekhalifahan memang tidak bisa ditolak. Namun gagasan nasionalisme modern telah jauh berkembang dan bahkan sangat mirip dengan apa-apa yang Rasul dan para sahabatnya bawa.

Jadi, masih inginkah kita membenturkan Islam dengan nasionalisme?

 

Referensi

[i] http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/08/09/m8hluy-sultan-abdul-hamid-ii-pemimpin-khilafah-islam-terakhir-1

[ii] Nusarastriya, Y. H. (2015). Sejarah Nasionalisme Dunia dan Indonesia. Pax Humana, III (3). Yayasan Bina Darma. ISSN 2337-3512.

[iii] Rejai, M. (1991). Political Ideologist: A Comparative Approach. London: M.E. Sharpe, Inc.

[iv] Dhont, F. (2005). Nasionalisme Baru Intelektual Indonesia tahun 1920-an. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

[v] Alfaqi, M.Z. (2016). Melihat Sejarah Nasionalisme Indonesia Untuk Memupuk Sikap Kebangsaan Generasi Muda. Jurnal Civics, 13 (2). Malang: Universitas Brawijaya. ISSN 2541-1918.

[vi] https://www.huffingtonpost.com/john-feffer/the-failure-of-nationalis_b_6826222.html

[vii] Madjid, Nurcholish. (2003). Indonesia Kita. Jakarta: Universitas Paramadina

[viii] Elvandi, M. (2011). Inilah Politikku. Solo: Era Adicitra Intermedia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *