Noblesse Oblige: Sebuah Tanggung Jawab Bagi Manusia Istimewa

Ungkapan ini muncul di akhir sesi kuliah dr. Robert Manurung selasa lalu. Beliau memang kerap melemparkan quotes inspiratif saat mengajar. “Supaya kalian terinspirasi dalam merancang (pabrik/biosistem),” katanya.

Tetapi quote yang satu ini rasanya berbeda. Seperti lebih memiliki kekuatan magis daripada quote-quote sebelumnya. Entah karena timing-nya yang tepat, atau memang maknanya teramat dalam.

Noblesse oblige pertama kali dipopulerkan didalam novel Le Lys Dans La Vallée (The Lily of the Valley) yang terbit di Perancis pada tahun 1835. Ungkapan ini diartikan oleh Wikipedia sebagai nobility obliges yang mengandung makna bahwa terdapat tanggung jawab yang harus dipikul dibalik setiap kejayaan, kekuatan, atau prestise yang didapat.

Sementara itu Merriam-Webster mendefinisikan noblesse oblige sebagai the obligation of honorable, generous, and responsible behavior associated with high rank or birth. Artinya kurang lebih suatu kewajiban untuk bertindak secara terhormat, murah hati, dan bertanggung jawab yang terkait dengan kedudukan atau keturunan yang tinggi.

Adapun Google Dictionary mendefinisikan ungkapan inisebagai the inferred responsibility of privileged people to act with generosity and nobility toward those less privileged. Maknanya kurang lebih ialah suatu kewajiban yang ditujukan hanya kepada orang-orang yang mendapatkan keistimewaan untuk bertindak dengan murah hati dan penuh rasa hormat terhadap mereka yang tidak mendapatkan keistimewaan.

Sederhananya, noblesse oblige adalah tanggung jawab yang dibebankan kepada para “manusia istimewa”. Tapi siapakah para “manusia istimewa” itu?

Dulu guru sosiologi saya pernah berkata bahwa ada 4 macam orang yang selalu dipandang sama masyarakat. Mereka adalah orang kaya, pejabat, tokoh agama, dan orang berpendidikan tinggi. Jelaslah bahwa keempat macam orang ini dapat dikatakan sebagai “manusia istimewa”. Dan dengan keistimewaan tersebut, tentu mereka memiliki kewajiban dan tanggung jawab tersendiri.

Orang kaya misalnya, memiliki tanggung jawab tidak tertulis untuk memberikan santunan kepada orang-orang fakir dan miskin. Pejabat berkewajiban memperjuangkan aspirasi orang-orang “kecil”. Tokoh agama berkewajiban mengajarkan agama kepada umat. Dan orang berpendidikan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan ilmu yang ia miliki dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Semua memiliki tanggung jawab dan kewajiban tak tertulis masing-masing. Noblesse oblige.

Lantas bagaimana kalau kita belum merasa termasuk kedalam 4 golongan tersebut? Adakah kita terbebas dari noblesse oblige?

Jawabannya tentu saja tidak. Karena kita semua istimewa.

Kita Istimewa

Saya termasuk kelompok orang yang percaya bahwa kita semua istimewa. Toh dari Biologi saya belajar bahwa every single living organism is unique.Jadi, pasti ada saja satu dua aspek yang membuat kita bisa merasa lebih istimewa daripada orang-orang di sekitar kita.

Kamu sudah dapat disebut istimewa jika mampu tahan membaca buku selama 2 jam tanpa henti. Kamu istimewa ketika mampu menjaga diri dari bermain games/menonton film sebelum menyelesaikan satu bab skripsi atau satu postingan blog. Sebagaimana kamu sudah dapat disebut istimewa ketika mampu menggambar kelopak bunga dengan sempurna.

Kamu juga sudah dapat disebut istimewa ketika kamu bisa selalu keluar saat depresi menyerang. Kamu istimewa ketika bisa bertahan menghadapi orang-orang yang tidak tahu diri selama berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Kamu istimewa ketika kamu berhasil menemukan suatu hal yang membuat dirimu merasa berharga.

Maka atas keistimewaan yang tersemat didalam dirimu itu, kamu telah dibebankan suatu tanggung jawab untuk berperilaku secara murah hati dan terhormat kepada mereka yang tidak memiliki keistimewaan yang ada pada dirimu.

Kamu yang memiliki keahlian tertentu, semisal menulis atau menggambar, memiliki kewajiban tidak tertulis untuk membantu mereka yang ingin mencipta karya tapi masih minim keahlian.

Kamu yang berada dalam kondisi ini juga memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kemampuanmu agar kamu dapat terus menghasilkan karya-karya terbaik kepada orang-orang. Inilah caramu menghormati orang-orang yang tidak memiliki keistimewaan yang ada pada dirimu.

Adapun bagi kamu yang memiliki kemampuan mengelola emosi dan konflik diri, secara tidak langsung kamu memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka yang masih kesulitan mengelola hal-hal tersebut. Kamu berkewajiban membantu mereka agar mereka bisa selalu kembali kapanpun masa-masa kritis itu tiba. Noblesse oblige.

Kamu yang sudah berkuliah di jurusan tertentu, tentu memiliki tanggung jawab untuk bertindak lebih kepada masyarakat. Masalah kesesuaian bidang kontribusi pascakampus dengan bidang kuliah saat di kampus adalah masalah yang dapat dibicarakan nanti.

Yang terpenting, segeralah berpikir dan bergerak untuk berkontribusi. Karena bagaimanapun sangat banyak orang di luar sana yang tak memiliki keistimewaan mengecap bangku kuliah seperti yang telah atau sedang kamu jalani saat ini.

Memang berat memenuhi tuntutan noblesse oblige yang tak tertulis itu. Apalagi tidak ada pihak yang secara nyata memiliki otoritas untuk memaksa kita menjalankan tanggung jawab tersebut.

Jadi, mari kita anggap segenap tanggung jawab tak tertulis tersebut sebagai sebuah kehormatan. Konon, orang lain bisa saja melaksanakan tanggung jawab tersebut. Hanya masalahnya, mereka tidak cukup memiliki hak istimewa sebagaimana yang kita miliki untuk menunjang pelaksanaan tanggung jawab yang dimaksud.

Akhir kata, selamat bertindak secara murah hati dan terhormat, wahai para manusia istimewa!

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: