Bila Anda berkunjung ke Gramedia, buku d’Gil! Marketing: Think Like There Is No Box ini bisa dengan mudah Anda jumpai pada rak buku marketing. Menemukannya pun tidak sulit, cukup lihat cover buku yang paling mentereng dengan desain kekinian di rak buku marketing. Itulah d’Gil! Marketing: sebuah buku dengan tebal 340 halaman yang berisikan banyak karikatur layaknya buku gaul ala ‘kids zaman now’.

Sebelumnya saya selalu beranggapan kalau buku marketing memiliki bahasa yang cukup sulit untuk dipahami, kecuali jika memang telah memiliki basic ilmu marketing sebelumnya. Tetapi Ahmad Bambang berhasil ‘memaksa’ saya untuk mengubah paradigma tersebut. Sebab tanpa berbekal basic marketing yang memadai, d’Gil! Marketing sukses memberikan saya gambaran tentang langkah-langkah praktis yang perlu saya lakukan bila saya ingin sukses dalam memasarkan sesuatu.

d'Gil Marketing: Think Like There is No Box karya Ahmad BambangNamun ketahuilah bahwa Ahmad Bambang bukanlah orang pertama yang menelurkan prinsip-prinsip seperti Think Like There is No Box! atau #RaiseTheBar. Beliau hanya mengombinasikan pengalaman beliau semasa masih menjadi Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) ditambah dengan analisa mendalam terhadap literasi-literasi yang terpercaya. Maka jangan heran bila Anda akan menemukan 35 sitasi berbeda pada buku non-teoritis ini.

Meskipun begitu, bisa jadi Pak Abe merupakan orang pertama yang cukup “gila” dengan mengombinasikan prinsip-prinsip tersebut kedalam satu sajian yang ciamik. Lihat saja “kegilaan” beliau dalam menempatkan kata-kata kunci seperti teknik CRAZY, konsep 4C+C, atau jargon Gagal, Ulangi; Salah, Perbaiki; Berhenti, Mati; disepanjang isi buku. Sesiapa yang membacanya hingga tuntas pun akan memiliki satu anggapan yang sama. Bahwa d’Gil! Marketing berhasil menujukkan originalitasnya dan mampu menciptakan asosiasi yang sangat kuat dengan sosok Ahmad Bambang.

Lantas apakah buku d’Gil! Marketing hanya berisikan konsep marketing belaka? Tentu saja jawabannya tidak. Pasalnya Pak Abe turut menyertakan kritik pribadinya terhadap kondisi dunia marketing hari ini secara gamblang. Sebut saja misalnya kritik beliau terhadap kakunya penerapan konsep STP (Segmentation, Targeting and Positioning) atau rendahnya performa online marketing dalam dunia digital. Bahkan beliau dengan lugas mengkritik kehadiran bisnis Pertamini dan kebijakan ‘BBM 1 Harga’ yang jelas-jelas ikut menambahkan beban kepada Pertamina.

Sumber: energyworld.co.id

Akan tetapi bukan Pak Abe namanya kalau tidak mampu menyikapi fenomena tersebut dengan “gila”. Alih-alih menghakimi para pelaku ‘demarketing-isasi’ ini, beliau justru menawarkan inovasi-inovasi “gila” yang akan sulit terpikirkan oleh orang lain pada umumnya. Alih-alih mengutuk pebisnis Pertamini, seorang Ahmad Bambang justru menawarkan konsep bisnis bahan bakar yang lebih matang untuk dapat dijalankan dalam skala mini. Benar-benar “gila”!

Maka disinilah kita bisa menemukan kecerdikan dari seorang penyandang predikat Indonesia’s Marketeer of The Year 2016. Bagaimana beliau bukan sekedar memaparkan teori, tetapi juga menghadirkan cerita-cerita inspiratif berikut studi kasus yang telah beliau hadapi secara nyata di Pertamina.

Sayangnya narasi yang dihadirkan oleh d’Gil! Marketing memang belum sempurna. Buktinya pertanyaan-pertanyaan berikut masih belum bisa saya jawab meskipun saya sudah berhasil menamatkan buku tersebut.

  • Darimana tepatnya dan sejak kapan persisnya seorang Ahmad Bambang mulai belajar hal-hal “gila”?
  • Bagaimana cara beliau menghadapi tantangan dari lingkungan disekelilingnya ketika ia hendak mengimplementasikan gagasan yang ia bawa?
  • Bagaimana cara beliau meyakinkan pimpinan Pertamina lainnya bahwa d’Gil! Marketing Competition adalah program yang perlu dilakukan meski harus merogoh kocek perusahaan lebih dalam?

Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin sekilas terlihat kurang begitu nyambung dengan substansi konten yang Pak Abe bawa. Namun percayalah bahwa people always looking for a story. Orang-orang bukan hanya ingin tahu mengenai konsep apa yang dibawa, tetapi juga cerita-cerita dibalik penemuan dan pelaksanaan konsep tersebut. Sebab seringkali inspirasi bisa muncul dari cerita-cerita semacam itu.

Tetapi agaknya hal ini juga telah terpikirkan oleh Pak Abe. Kalau tidak percaya, cermati saja bagian epilog dari d’Gil! Marketing. Pada bagian tersebut Pak Abe secara eksplisit menyatakan kalau dirinya sudah memiliki topik pembahasan untuk buku berikutnya. Meski belum tentu mengandung jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya diatas, setidaknya saya begitu yakin kalau beliau akan kembali mengambil latar pengalamannya semasa masih bekerja di Pertamina. Sehingga tidak menutup kemungkinan kalau pertanyaan-pertanyaan saya diatas akan mulai terjawab satu demi satu. Apakah Anda juga berpikir demikian?

Akhirnya buku d’Gil! Marketing ini sangat layak untuk Anda baca, meskipun pemasaran bukanlah bidang yang ingin Anda geluti. Setidaknya Anda bisa belajar tentang bagaimana seorang lulusan ITB, UI, dan Queensland University of Technology ini berpikir “gila”, bertindak “gila”, dan sangat ingin menghasilkan lebih banyak orang “gila” di dunia yang semakin “tidak normal” ini.

 

Disclaimer

Artikel ini telah diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku “d’Gil! Marketing: Think Like There is No Box” dalam kegiatan Pekan Kewirausahaan Nasional Antar Mahasiswa tahun 2017. Artikel ini juga berhasil dianugerahi sebagai Juara 1 dalam perhelatan tersebut.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *