Tag

bandung

Browsing

Cerita ini terjadi pada tahun 2015. Kala itu euforia sebagai mahasiswa baru masih begitu terasa. Maka tak heran kalau aku bersama teman-teman SMA-ku sangat ingin pergi mengunjungi tempat-tempat ikonik di kota Bandung. Mau bikin foto ala-ala gitu lho!

Alun-alun kota Bandung akhirnya kami pilih sebagai destinasi perjalanan pertama ini. Kalau tidak salah waktu itu kami terdiri dari 6 orang, tetapi yang membawa motor hanya 2 orang. Alhasil kami pun memilih untuk menaiki angkot supaya semua bisa berjalan bersamaan.

Dari depan RS Borromeus Dago, kami menyetop angkot jurusan Kalapa-Dago. Kata teman yang memang orang Bandung, angkot ini bisa sampai langsung ke alun-alun. “Nanti tinggal jalan sedikit dari tempat berhentinya angkot ini, terus sampai deh di alun-alun,” ungkapnya ketika itu.

Maka berangkatlah kami dengan angkot hijau-oranye itu hingga sampai di alun-alun sekitar pukul 15.30 WIB. Sesampainya kami langsung menunaikan sholat ashar di Masjid Raya Bandung. Barulah setelah itu kami bersantai di hamparan rumput hijau sintetis yang membentang luas di depan pintu masjidnya yang besar.

Alun-alun Bandung via Ala Urang.

Saking asyiknya, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 17.05 WIB. Langit belum begitu gelap, tapi kami ingin sudah berada di sekitaran ITB ketika adzan maghrib berkumandang. Disinilah masalah itu dimulai.

Dulu sewaktu masih di Jakarta-Bekasi, angkot berangkat sudah pasti sama dengan angkot pulang. Toh semua jalur angkot pasti dua arah. Tapi disini, ternyata angkot berangkat belum tentu sama dengan angkot pulang. Sebab hampir semua jalannya satu arah seperti berputar.

Begitu menyadari hal ini, kami bergegas untuk langsung bertanya kepada orang terdekat.

“Punten a, kalo mau ke Dago naik angkot apa ya?” tanyaku dengan aksen Sunda yang masih begitu kaku.

“Oh naik aja yang jurusan Binong,” jawab si Aa singkat.

“Ooh Binong ya. Oke nuhun a,” jawabku singkat. Sejujurnya saat itu aku masih bingung harus naik angkot yang mana. Dalam hati, “Binong teh naon?” Makanya kuputuskan untuk bertanya lagi kepada Aa yang lain.

“A, maaf mau tanya. Kalau mau ke Dago, angkotnya yang mana ya a?” tanyaku pada target ke-2.

“Angkot Cicadas-Elang a, warnanya pink. Jalan dulu sedikit kesitu, baru nanti ada angkotnya,” ungkap si Aa kedua yang baik hati itu.

“Oke sip! Hatur nuhun a!”

Kami pun bergegas ke arah jalan yang dituju. Jam sudah menunjukkan pukul 17.18 WIB ketika kami berhasil naik ke dalam angkot. Aku sengaja duduk di kursi depan agar bisa bertanya harus turun dimana kepada pak sopir kalau ingin sampai ke Dago.

Ilustrasi Angkot Bandung dari ITB ke Alun-alun
Ilustrasi Perjalanan Angkot dari ITB ke Alun-alun. Dokumentasi Pribadi.

Pukul 17.38 WIB kami diturunkan dan diarahkan untuk menaiki angkot jurusan Dago-St.Hall. Beruntung angkot berwarna hijau ini sudah cukup penuh sehingga kami bisa langsung berangkat. Kami pun sampai di Dago tepat pukul 18.05 WIB dan sayup-sayup iqomah dari Masjid Salman sudah mulai terdengar.

Sejak saat itu, ada 2 hal yang tertanam secara otomatis didalam pikiranku. Pertama, tata kota Bandung memang rapi. Buktinya ada pengaturan jalur-jalur angkot diantara rangkaian jalur satu arah yang begitu kompleks. Kedua, kalau mau naik angkot di Bandung, jangan lupa cari tahu rutenya dulu. Tentu yang kumaksud tak hanya rute berangkat, tetapi juga rute pulang.

Isu terkini yang terjadi di Kota Bandung ialah banjir di beberapa titik sekaligus dalam kisaran yang cukup besar. Hujan deras yang disertai angin kencang selama kurang lebih tiga jam tersebut sukses merobohkan belasan pohon di kota Bandung. Stasiun Bandung pun tidak dapat digunakan karena air setinggi 20 sentimeter menggenangi rel kereta (Republika, 13 November 2016). Hujan deras tersebut juga menimbulkan titik-titik banjir baru yang selama ini belum pernah mengalami banjir. Padahal titik banjir sebelumnya seperti Pasteur, Pagarsih dan Gedebage, belum tuntas tertangani.

Disclaimer

Artikel ini ditulis pada tahun 2016. Beberapa hal masih ditemukan relevan, tetapi beberapa pembaruan juga telah diperbuat. So please keep updated!

Banjir yang terjadi salah satunya memang disebabkan oleh sangat tingginya volume hujan yang turun pada hari Minggu kemarin seperti yang telah diperingatkan oleh BMKG sebelumnya. Akan tetapi pasti terdapat faktor penyebab lain yang membuat genangan air ini muncul dengan sangat cepat. Apakah alasan lain itu?

Mengapa Banjir Terjadi di Kota Bandung?

Banjir di Jalan Dr. Junjunan, Bandung. Sumber.

Salah satu faktor penyebab yang menurut saya cukup berkontribusi dalam munculnya permasalahan banjir ini ialah banyaknya bangunan di kota Bandung yang dibangun tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang ia timbulkan. Salah satu dampak lingkungan yang menjadi sorotan ialah tertutupnya jalur air dan hilangnya daerah resapan air akibat pembangunan bangunan tersebut. Akibatnya ketika hujan air harus menggenang karena tidak bisa diserap dan air tersebut tidak bisa langsung mengarah ke jalur air yang semestinya karena jalur tersebut tertutupi oleh bangunan yang ada. Banjir pun dengan mudah muncul.

Faktor penyebab lain yang menurut saya sangat berpengaruh ialah banyaknya sampah yang menyangkut di jalur air. Sampah yang berasal dari warga Bandung ini, baik warga asli maupun pendatang, nyatanya sangat menghalangi jalur air. Bahkan pada edisi banjir sebelumnya sebuah mobil yang ditemukan pasca terseret banjir ternyata ditutupi oleh sampah yang sangat banyak. Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan banjir yang terjadi juga disebabkan oleh perilaku buang sampah sembarangan yang masih banyak dilakukan oleh warga Bandung, baik warga asli maupun pendatang.

Lantas Apakah Pemerintah Kota Bandung Diam Saja?

Pemerintah kota Bandung bukannya diam saja dalam menyikapi banjir yang terjadi. Serangkaian program baik yang bersifat preventive maupun treatment telah dilakukan meskipun pada akhirnya banjir tetap sulit dihindari.

Banjir Gedebage. Sumber.

Salah satu langkah preventive yang dilakukan pemkot Bandung ialah menambah kapasitas dan kuantitas gorong-gorong yang sudah ada seperti yang dilakukan di jalan Dago. Pemkot Bandung juga sudah menerapkan teknologi tol air di daerah Gedebage yang terbukti sangat ampuh dalam menghadapi hujan deras yang terjadi. Sebelum banjir hari Minggu ini terjadi pun Pemkot Bandung sudah melakukan beberapa pembongkaran pada bangunan yang menghalangi jalur air. Langkah-langkah peneegahan secara nyata ini memang telah dilakukan dan sepertinya akan terus dilakukan kedepannya.

Pemerintah kota Bandung juga telah mengupayakan tindakan treatment pasca banjir terjadi. Pasca hujan mereda Dinas Penanggulangan Pemadan Kebakaran (DPPK) kota Bandung terbiasa untuk langsung turun membersihkan lumpur-lumpur yang memenuhi jalanan serta melakukan penyedotan air dalam jumlah besar. Kota Bandung memang belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sehingga tugas penanggulangan bencana dilakukan oleh DPPK kota Bandung.

DPPK Sedot Lumpur Pasca Banjir di Bandung. Sumber.

Akan tetapi menurut saya kinerja dari DPPK kota Bandung ini sudah cukup baik dengan alasan banjir yang menggenangi kota Bandung umumnya tidak dapat ditemukan lagi sehari setelah banjir terjadi. Bahkan untuk banjir yang menggenangi jalan protokol kota Bandung bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari 2-3 jam saja. Ini mengindikasikan treatment yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandung juga sudah cukup tepat dan berdampak baik.

Lalu mengapa banjir masih terus terjadi di kota kembang? Temukan jawabannya disini.

Dua faktor penyebab yang telah saya jabarkan pada artikel sebelumnya merupakan faktor yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Adanya bangunan yang menutupi jalur air merupakan bentuk kurang perhatiannya warga kota Bandung terhadap lingkungan disekitarnya. Sedangkan sampah yang tertahan di selokan dan gorong-gorong mengindikasikan sifat kurang peduli yang masih dimiliki oleh sebagian warga kota Bandung. Maka dari itu saya menawarkan dua buah solusi untuk permasalahan banjir ini.

1. Community Utilization

Warga bergotong-royong membersihkan lumpur sisa banjir Cicaheum. Sumber.

Semenjak Ridwan Kamil menjabat sebagai walikota Bandung, beliau dikenal akrab dengan segala lapisan masyarakat yang ada. Kang Emil, sapaan akrab beliau, juga dikenal baik dalam memberdayakan komunitas-komunitas yang ada di kota Bandung. Kaitannya dengan permasalahan banjir di kota Bandung, alangkah baiknya jika komunitas-komunitas yang ada ini diberdayakan untuk sama-sama mengatasi permasalahan banjir yang ada.

Setiap komunitas yang ada harus ditugaskan untuk menumbuhkan rasa perhatian (awareness) dan kepedulian anggotanya terhadap lingkungan sekitar. Cara menumbuhkembangkan hal ini tentu sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan komunitas masing-masing. Misalnya komunitas pecinta anak bisa mengedukasi anak-anak di kota Bandung, komunitas teater bisa menampilkan pagelaran yang membawa pesan kepedulian lingkungan, komunitas pesepeda bisa melakukan aksi penghijauan, dll.

Karena Bandung adalah kota sejuta komunitas.

Pemberdayaan masyarakat melalui komunitas-komunitas yang ada ini akan menggerakkan masyarakat secara langsung dan secara perlahan menumbuhkan budaya kepedulian terhadap lingkungan pada warga kota Bandung.

2. Bio-agent Utilization

Agen hayati bukan hanya dapat diperuntukkan sebagai bahan makanan tetapi juga dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan. Termasuk penanganan banjir ini. Dengan penanaman vegetasi yang dapat menyerap air dalam jumlah banyak secara sistematis, tingkat resapan air akan meningkat sehingga genangan air bisa ditunda atau bahkan dihindari.

Keberadaan tanaman sungguh dapat mencegah banjir. Sumber.

Beberapa agen hayati seperti memang memiliki kemampuan semacam ini sehingga solusi tersebut bukan mustahil untuk dilakukan di masa yang akan datang. Pemberdayaan agen hayati ini memang memerlukan kajian yang lebih mendalam lagi supaya dapat diterima oleh warga kota Bandung khususnya pemerintah kota Bandung.

Simpulan

Pada akhirnya permasalahan banjir yang terus terjadi di kota Bandung memang membutuhkan solusi yang cepat dan tepat. Penggunaan agen hayati memang terlihat efektif mengingat kehadiran agen hayati seperti pohon justru memiliki efek kerugian yang kecil.

Akan tetapi kajian yang lebih mendalam terhadap hal ini tentu sangat perlu dilakukan. Hal inilah yang mungkin menyebabkan solusi tersebut tidak bisa diselenggarakan dalam waktu singkat. Oleh karenanya, pemberdayaan masyarakat-lah yang mesti diwujudkan dalam masa sekarang. Sebab masalah yang dibuat oleh manusia juga harus diselesaikan oleh manusia pula.