Tag

sidebar

Browsing

Bagi mahasiswa, menghabiskan waktu bersama kawan memang begitu mengasyikkan. Bisa dengan berbagi cerita cinta, pergi ke bioskop bersama, atau bahkan membicarakan para pejabat bangsa yang selalu ada saja kelakuannya.

Karena para mahasiswa itu pada dasarnya juga anak muda. Mereka juga butuh banyak momen kebersamaan untuk bisa menciptakan ikatan antar sesamanya.

Tak terkecuali pada momen Ramadan. Di sela-sela aktivitas kuliah, Ramadan bisa menjadi salah satu bulan tersibuk bagi para mahasiswa. Daftar teman-teman satu grup atau komunitas bisa menjadi deretan yang sempurna untuk menjadi agenda buka puasa bersama setiap harinya.

Namun pengalaman berbeda kami rasakan tepat setahun yang lalu. Ketika kami harus menghabiskan malam sahur hingga waktu berbuka di laboratorium.

Ramadan di Laboratorium: Menuntaskan Kewajiban, Menjalin Kebersamaan

Kami menempuh studi di suatu jurusan yang berhubungan dengan Biologi. Karenanya, kami pun diharuskan melakukan penelitian dengan mengambil data di laboratorium sebagai bahan utama dalam menulis skripsi.

Penelitian tersebut memang sudah kami mulai sejak bulan September tahun sebelumnya. Namun sebagian besar penelitian memang masih belum dapat diselesaikan hingga masuk bulan Mei. Hal ini dikarenakan berbagai masalah teknis seperti ketersediaan alat dan bahan, juga masalah non-teknis seperti kesibukan di luar kuliah dan masalah intrapersonal.

Sementara itu, Ketua Program Studi kami mewajibkan seluruh penelitian harus selesai dilakukan pada bulan Juli. Padahal kampus akan ditutup selama 2 pekan pada bulan Juni dikarenakan libur Idul Fitri.

Oleh karenanya, mau tidak mau, kami harus menyelesaikan penelitian laboratorium itu tepat pada bulan suci Ramadan.

Jadilah laboratorium itu tak kalah penuh dengan mushala kampus yang biasa digunakan untuk sholat berjamaah. Para mahasiswa keluar-masuk bergantian untuk mengerjakan apa-apa yang memang menjadi kewajibannya kepada orang tua masing-masing.

Foto sore hari di depan laboratorium sambil menunggu waktu berbuka.

Kami pun melakukan pembagian tugas. Setiap harinya, setidaknya harus ada 2 orang yang pergi pada sore hari untuk membeli makanan berbuka. Jenis makanannya tergantung masing-masing pemesan. Yang jelas, harus selalu ada kurma sebagai takjil wajib yang tak boleh ketinggalan.

Pembelian takjil biasa kami lakukan di depan Universitas Padjajaran. Di situ ada pasar tumpah setiap sore dengan berbagai macam makanan berbuka yang menggugah selera. Beberapa diantaranya ialah kolak, pisang ijo, gorengan, telur gulung, sosis bakar, dan kue putu.

Pasukan pembeli takjil ini nantinya akan membawa berbungkus-bungkus makanan ke depan ruang laboratorium. Disitulah kami biasa menyantap menu berbuka bersama sambil beristirahat dari kepenatan mengerjakan penelitian seharian.

Hal serupa juga berlaku untuk makan sahur. Konon, selalu ada saja mahasiswa yang perlu menginap karena memang pengambilan sampelnya hanya bisa dilakukan di malam hari. Mereka pun bergantian membeli makan sahur sehabis sholat tarawih untuk disantap bersama saat waktunya tiba.

Pengalaman semacam ini memang terasa cukup asing. Di satu sisi, ada sedih yang muncul karena tak bisa menghabiskan momen Ramadan bersama keluarga. Namun di sisi lainnya, ada kesyukuran yang terus dipanjatkan karena merasa masih memiliki teman dalam jalur perjuangan yang sama.

Hari-hari itu terus berlanjut hingga memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Satu per satu sudah meninggalkan lab dan kembali ke rumah masing-masing. Ada yang memang sudah menyelesaikan penelitian. Ada juga yang sudah memilih untuk melanjutkannya lagi nanti setelah idul fitri.

Saya termasuk ke dalam kelompok yang pulang paling terakhir. Penghuni lab kala itu tersisa 6 orang saja dan kami menghabiskan sisa waktu Ramadan bersama. Kami semua pulang ke rumah masing-masing tepat 3 hari sebelum malam takbir.

Menyimpan Memori dalam Sebakul Kurma

Kini, memasuki Ramadan yang tinggal menghitung hari, kenangan di laboratorium itu kembali lekat dalam ikatan. Roda kehidupan pun sudah kembali berputar. Kami yang dulu sibuk menempuh pendidikan sarjana bersama, kini tersebar dalam berbagai bidang pekerjaan dan urusan meraih cita-cita.

Rencana menyelenggarakan buka puasa bersama pun harus diurungkan akibat pandemi virus Corona yang belum dapat dikendalikan. Semua orang diwajibkan beraktivitas dari rumah demi memutus rantai penyebaran virus yang satu ini.

Tentu saja hal ini juga harus mendapatkan porsi kesyukuran tersendiri. Barangkali Allah memang menyediakan Ramadan tahun ini khusus untuk ibu dan bapak kami. Dua orang tercinta yang sering tak kami temani selama merantau demi menempuh pendidikan.

Beruntung komunikasi kami via grup WhatsApp masih dapat berjalan. Namun sensasinya jelas terasa berbeda dengan apa yang sudah kami rasakan satu tahun belakangan. Seperti ada bagian yang tak dapat diisi meski sudah bertatap muka lewat panggilan video.

Adalah sebakul kurma yang nampaknya dapat menjadi jawaban. Takjil wajib yang dulu selalu menemani kami membatalkan puasa di laboratorium. Makanan sederhana yang membelinya pun harus bergantian dan saling titip agar tak mengganggu penelitian masing-masing.

Sebakul kurma itulah amunisi utama dalam persiapan Ramadan tahun ini. Ia bukan lagi sekedar hidangan berbuka, melainkan telah menjelma menjadi memori penyimpan kenangan yang lekat bekasnya.

Berhubung mobilitas kita sedang dibatasi, sebakul kurma itu kini bisa didapatkan lewat Shopee. Apalagi tersedia banyak promo dan voucher gratis ongkir yang amat sayang untuk dilewatkan.

Beli kurma hanya di Shopee. Banyak promo dan voucher gratis ongkir!

Pada bulan Ramadan ini Shopee juga kembali menyelenggarakan #THRBigRamadhanSale2020, suatu program yang memungkinkan para penggunanya mendapatkan Tunjangan Hari Raya setelah berbelanja lewat aplikasi ini.

Sebakul kurma bisa menjadi awalan yang tepat untuk mengawali keikutsertaan pada program ini. Bukan tidak mungkin kalau sebakul kurma itu dapat bermuara pada THR dengan total hadiah hingga 25 juta rupiah dan beragam hadiah menarik lainnya.

Mari sambut Ramadan dengan sebakul kurma dan dapatkan sebakul kurma itu hanya di Shopee saja.

Bagi sebagian orang, memilih oli bisa menjadi perkara yang sedikit runyam. Pasalnya salah-salah memilih justru bisa berakibat fatal pada turunnya performa dan kualitas mesin.

Namun bagi sebagian yang lain, jangankan urusan memilih oli, mengganti oli secara rutin pun barangkali sudah menjadi sebuah prestasi. Tak sedikit pemilik kendaraan yang masih ogah mengganti oli. Boros waktu dan uang, kata mereka. Padahal kenyataannya justru berbanding terbalik.

“Dengan rutin mengganti oli, Anda justru sudah lebih berhemat dalam membelanjakan kendaraan Anda.”

Mengapa hal demikian dapat terjadi? Mari simak penjelasannya berikut ini.

Alasan Krusial Dibalik Pentingnya Mengganti Oli Secara Rutin

Kendaraan Anda dapat berjalan berkat komponen-komponen yang saling bergerak dan bergesekan satu sama lain di dalam mesin. Gesekan tersebut tentu akan menghasilkan panas seiring bergeraknya kendaraan Anda dari tempat asal ke tempat tujuan.

Karenanya, dibutuhkanlah suatu pelumas yang dapat memperlancar gesekan antar komponen serta mampu menyerap panas yang ditimbulkan. Pelumas itulah yang kita kenal dengan sebutan oli.

Lantas apa yang terjadi jika oli kendaraan Anda tak kunjung diganti?

Yang terjadi adalah oli tersebut akan semakin dipenuhi oleh kotoran dan debu seiring dengan penggunaannya yang kian intens. Kehadiran partikel tambahan inilah yang dapat menurunkan kapasitas serapan panas pada oli sehingga oli tidak lagi berfungsi sebagai pendingin mesin.

Efek yang akan terasa langsung oleh Anda sebagai pengguna adalah mesin kendaraan yang semakin cepat panas. Meskipun hanya dijalankan pada jarak dekat, suhu mesin Anda bisa berubah drastis menjadi sangat panas dalam waktu singkat.

Padahal panas tersebut dapat mengakibatkan pembakaran bensin menjadi kurang optimal. Hasilnya, efisiensi bahan bakar pun menurun dan mau tidak mau Anda pun menjadi lebih cepat mengisi bahan bakar dalam rentang jarak tempuh yang sama.

Lama-kelamaan, oli yang sudah kotor namun tetap dipaksakan dipakai itu akan semakin dipenuhi oleh partikel kotoran dan debu. Oli pun menjadi semakin padat dan bentuknya berubah menyerupai lumpur. Oli semacam ini apabila melewati komponen mesin hanya akan mempercepat terjadinya proses korosi.

Oleh karena itu, mengganti oli secara rutin mau tidak mau sudah menjadi sebuah keharusan. Kalau tidak mau membayar lebih untuk biaya servis di kemudian hari, ganti oli secara rutin saja sedari kini.

Bukti Ekonomis Dari Upaya Ganti Oli yang Cost Effective

Secara ekonomis, manfaat ganti oli secara rutin memang baru akan efektif secara ekonomi (cost effective) apabila kita memosisikan diri di masa depan. Alih-alih harus membayar mahal untuk biaya servis dan reparasi, mengapa tidak membayar harga yang jauh lebih murah meskipun harus berkali-kali?

Seorang rekan saya misalnya, pernah menghabiskan dana hingga Rp 1,5 juta untuk sekali servis motor matic-nya yang keluaran lama. Alasannya karena beberapa komponen mesin umurnya lebih cepat berakhir daripada yang semestinya. Setelah ditelusuri, rupanya hal itu bermula dari kebiasaannya yang malas mengganti oli motor matic.

Penulis jadi membayangkan. Kalau motor matic yang tidak terlalu ruwet saja bisa menghabiskan dana segitu untuk satu kali servis skala menengah ke berat, berapa harga yang harus dibayar untuk motor-motor yang jauh lebih mahal? Lima puluh juta? Seratus juta? Atau malahan bisa lebih?

Adapun menurut U.S. Department of Energy, aksi mengganti oli secara rutin juga dapat menghemat penggunaan bahan bakar hingga 1-2%. Angka ini sepintas memang terlihat sangat kecil. Tetapi mari kita lakukan sedikit simulasi untuk melihat signifikansinya.

Dalam seminggu, berapa liter kira-kira bensin yang Anda habiskan? Jawabannya tentu akan bervariasi dan sangat bergantung pada intensitas pemakaian kendaraan masing-masing individu. Untuk mempermudah, marilah kita ambil angka rata-rata 5 liter bbm per minggu.

Satu tahun terdiri dari 52 minggu, sehingga rata-rata konsumsi BBM per tahun dalam kasus ini ialah sebesar 260 liter. Maka dari itu, penghematan 1-2% akan setara dengan 2,6 s/d 5,2 liter.

Lagi-lagi angka ini terlihat begitu kecil. Apalagi harga bensin rata-rata berada pada kisaran Rp 8.000,-. Hal ini berarti aksi ganti oli rutin lewat simulasi ini hanya dapat menghemat pengeluaran bahan bakar maksimal sebesar Rp 50.000,- per tahun.

Tetapi bayangkanlah jika aksi ini diikuti oleh ratusan, bahkan ribuan pemilik kendaraan di luar sana. Penghematan satu digit BBM yang kita lakukan dapat berakhir pada penghematan ratusan ribu liter BBM dalam skala negara.

Kondisi yang lebih memihak pada aspek keberlangsungan (sustainability) ini dapat turut serta dalam menjaga harga minyak dunia agar tak mudah naik sehingga biaya bensin pun tak perlu sering-sering naik.

Sampai disini, alasan logis dan ekonomis sudah sama-sama dijabarkan. Waktunya beralih ke pertanyaan pamungkas, oli manakah yang terbaik untuk kendaraan saya dan memenuhi kriteria cost effective?

Enduro: Oli Motor Terbaik untuk Kendaraan Anda

Ada satu merk oli yang patut Anda coba segera ke kendaraan Anda. Merk tersebut merupakan produk dari PT Pertamina Lubricants, anak perusahaan dari PT Pertamina. Merk itu dikenal dengan nama Enduro.

Enduro merupakan oli berkualitas tinggi yang didesain untuk mengurangi friksi pada komponen kendaraan ketika mengalami kondisi suhu dan kecepatan yang tinggi. Enduro memiliki viskositas yang rendah sehingga dapat memperlancar sirkulasi oli dan mengefisienkan penggunaan bahan bakar.

Beberapa contoh varian oli Enduro yang sudah beredar di pasaran ialah Enduro 4T, Enduro 4T Racing, Enduro 4T Sport, Enduro Gear 4T, Enduro Matic, dan Enduro Matic-G. Kecocokan merk-merk ini akan sangat bergantung pada jenis kendaraan Anda, termasuk spesifikasi komponen ekstra apabila ada.

Selain Enduro, Pertamina Lubricants juga memiliki merk oli Fastron yang tak kalah unggulnya. Oli Fastron umumnya lebih banyak digunakan pada mobil, tetapi dapat juga digunakan pada motor. Contohnya seperti varian Fastron Techno 10W-40 dan Fastron Gold 5W-30.

Keunggulan oli Fastron tentu saja tak kalah dengan oli Enduro. Perbedaannya hanya terletak pada faktor kecocokan oli dengan karakter friksi (friction character) pada komponen kendaraan Anda. Maka dari itu, pelajarilah kedua merk ini dengan seksama sebelum Anda memutuskan untuk mengganti oli.

Adapun terkait harga, oli motor terbaik ini juga memiliki harga yang relatif terjangkau. Penggantiannya bisa Anda lakukan di booth Enduro Express yang sudah tersedia di banyak SPBU Pertamina. Apalagi ia juga sudah dapat dibeli secara online. Tidak ada lagi alasan bagi Anda untuk tidak memakai oli terbaik ini pada kendaraan Anda.

Karenanya tak heran jika PT Pertamina Lubricants dianugerahi berbagai macam penghargaan. Seperti penghargaan ‘The Most Promising Company in Branding Campaign” dan “The Most Promising Company in Marketing 3.0” dalam ajang BUMN Marketeers Award 2018. Terbuktilah kalau Fastron dan Enduro masih memimpin pasar oli domestik di tengah persaingan bisnis pelumas yang kian sengit.

Siap bergabung menjadi Sahabat Enduro? Ikuti juga akun yang satu ini di Instagram.

Tiga tahun lalu saat hendak memasuki tahun kedua perkuliahan, kami menjalani masa orientasi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan. Kalau di kampus lain, masa orientasi umumnya memang selesai di tahun pertama. Tetapi karena di ITB mahasiswa baru memasuki jurusan di tahun kedua, jadilah kami harus menghadapi agenda orientasi tersebut di tahun kedua.

Selayaknya agenda orientasi, kami pun dibebankan dengan berbagai macam tugas. Salah satunya ialah tugas menentukan nama bagi angkatan kami yang baru terbentuk ini. Harapannya dengan nama tersebut dapat terbentuk identitas kolektif yang mampu meningkatkan rasa kekeluargaan didalam angkatan.

Terjadilah diskusi yang cukup panas saat itu. Ada yang berpendapat, nama angkatan tersebut haruslah berasal dari nama spesies tertentu karena jurusan kami memang berkutat pada makhluk hidup. Ada yang berpendapat, nama tersebut haruslah mudah dilafalkan supaya gampang diingat. Dan berbagai macam pendapat unik lainnya.

Hingga akhirnya diputuskanlah bahwa nama angkatan kami adalah “Quercus Infectoria”. Nama tersebut merupakan nama spesies dari pohon oak/manjakani yang memiliki berbagai manfaat dalam dunia pengobatan.

Logo dan nama angkatan kami. Bentuknya unik bukan?

Infectoria sendiri merupakan bahasa Latin yang maknanya berwarna-warni. Esensinya, angkatan ini tidak ingin menghilangkan kekhasan yang sudah dimiliki oleh masing-masing orang. Justru dengan adanya angkatan, warna setiap orang bisa semakin terlihat indah karena terpancar bersama-sama.

Sejak saat itulah kami menggunakan warna-warni sebagai identitas. Dalam berbagai kesempatan, kalau sempat mengambil foto seangkatan, maka warna-warni-lah yang pasti dipilih sebagai tema besarnya. Begitu seterusnya dari tahun ke tahun setiap kali momen penting datang.

Bersama mereka, kemanapun harus pernuh warna!

Pandangan kami soal warna pun semakin berkembang. Ia bukan lagi sekedar pilihan rasa, tetapi menjelma menjadi sesuatu yang mendefinisikan diri kita. Buktinya tak sedikit orang yang selalu terlihat dominan dengan 1-2 warna saja.

Keterikatan dengan warna pun merembet ke barang-barang lainnya. Ada yang sensitif saat memilih warna sepatu, warna alat tulis, hingga warna kendaraan dan warna laptop! Warna pada barang yang disebut terakhir tentu sangat diidamkan sebab hampir setiap hari kami harus berkutat dengan laptop. Entah untuk mengerjakan laporan, tugas organisasi, atau sekedar mencari hiburan dengan menonton film atau memainkan games.

Sayangnya kebanyakan laptop yang ada hari ini hanya terdiri dari satu warna yaitu hitam. Belakangan sudah cukup banyak juga yang memiliki varian warna putih. Tapi bagaimana dengan penggemar warna lainnya? Bukankah mereka juga punya “hak” untuk memiliki laptop dengan warna yang mereka idamkan?

Apa salahnya punya laptop dengan warna kesukaan?

Tantangan inilah yang coba dijawab oleh ASUS dengan mengeluarkan seri VivoBook terbaru dengan varian ASUS VivoBook Ultra A412. Tak tanggung-tanggung, ASUS mengeluarkan 4 varian warna sekaligus! Ayo kasih tahu favoritmu yang mana lewat kolom komentar di bawah.

Slider image
Slider image
Slider image
Slider image

The World’s Smallest 14 Inch Colorful Notebook

ASUS VivoBook Ultra A412 ini hanya memiliki ukuran layar sebesar 14-inch dengan tebal bezel hanya mencapai 5,7 mm! Menjadikannya sebagai laptop paling ringkas dan tipis di kelasnya. Laptop ini juga dilengkapi dengan empat sisi NanoEdge dan rasio screen-to-body hingga 87% yang membuat tampilannya tetap terkesan impresif meskipun ukuran layarnya kecil.

Bila hendak ditimbang, neraca berisi ASUS VivoBook Ultra A412 hanya akan memberi angka sebesar 1,5 kilogram. Kombinasi ukuran yang ringkas dan bobot yang ringan ini tentu sangat diidam-idamkan oleh siapa saja yang gemar membawa laptop kesana-kemari.

High Performance of Graphics, Audio and Connectivity

Laptop berukuran kecil sendiri sering diremehkan dalam masalah performa. Tetapi hal itu nampaknya tidak berlaku bagi serial VivoBook 14 ini. Pasalnya ia sudah dilengkapi dengan prosesor terbaru milik AMD RyzenTM 3000 series, baik itu Ryzen 3 maupun Ryzen 5. Masing-masing ditopang dengan kapasitas RAM DDR4 2,4 GHz yang mumpuni mulai dari 4 s/d 8 GB.

Performa juara milik VivoBook Ultra A412 juga tercermin dari kualitas grafis, audio dan konektivitasnya. Memakai chipset AMD RadeonTM Vega 3, laptop ini didukung penuh dengan fitur ASUS SonicMaster. Sementara untuk urusan konektivitas, VivoBook Ultra A412 sudah tergolong sangat lengkap karena memiliki port USB 3.1, USB 2.0, USB Type-C, port HDMI dan port untuk membaca microSD.

Long Lifespan of Battery

Rangkaian komponen hardware dan software berspesifikasi tinggi di atas tentu kerap membuat kita ragu dengan kualitas baterainya. Itulah mengapa VivoBook Ultra A412 juga dilengkapi dengan fitur fast-charging yang mampu mengisi baterai hingga 60% dalam waktu 49 menit saja! Dua sel baterai Li-ion berkekuatan 37 WHrs pun sudah cukup Tangguh untuk bisa nyaman dipakai beraktivitas seharian.

Keep Your Laptop Secure

Tidak berhenti sampai disitu, keamanan ASUS VivoBook Ultra A412 juga dijamin dengan adanya sensor sidik jari (fingerprint) dan sistem login pemindai wajah bernama Windows Hello. Keduanya merupakan teknologi mutakhir dari Windows 10 yang memungkinkan Anda untuk login kedalam sistem dengan lebih cepat.

Adanya Windows 10 pre-installed ini juga dapat menghindarkan Anda dari penggunaan software bajakan, disamping fitur tersebut mampu memastikan bahwa hanya Anda-lah yang diperkenankan mengakses laptop milik Anda.

Bring the Color With You

Deretan kecanggihan teknologi di atas, pada akhirnya tidak akan berdampak banyak apabila kita tidak percaya diri dalam menggunakan perangkatnya. Uniknya, kepercayaan diri itu bisa dibangun melalui warna! Kami sendiri telah membuktikannya.

Tanggal 13 Agustus kemarin menjadi momen terakhir kami menghadiri agenda orientasi Himpunan Mahasiswa Jurusan. Jika sebelumnya kami datang sebagai peserta atau panitia, khusus kemarin kami datang sebagai swasta, sekelompok mahasiswa tingkat akhir yang sudah menyelesaikan periode kepengurusan di himpunan dan sudah saatnya fokus mengurus TA (Tugas Akhir).

Dalam agenda orientasi, tugas kami adalah memastikan bahwa nilai-nilai dan kompetensi dasar yang dimiiliki oleh para peserta orientasi sudah melewati batas minimal yang dijadikan standar. Bahasa kerennya, guardian of the values. Pemastian ini dilakukan lewat serangkaian permainan, agitasi maupun apresiasi.

Tiap-tiap orang dalam angkatan ini pun mengambil peran sesuai “warna”-nya masing-masing. Saya sendiri ditugaskan menjadi seorang danlap yang memimpin forum dengan pembawaan tegas. Warna biru saya pilih menjadi outfit hari itu agar tetap ada kesan tenang dan tidak mudah tersulut emosi.

And this is me!

Rekan-rekan saya yang lain pun memilih warnanya masing-masing. Ada yang tampil sangar dan gemar menginterupsi dengan outfit khas hitam. Ada yang justru berperan sebagai kakak yang gemar menyemangati, dengan outfit hijau, dan lain sebagainya.

Kombinasi warna-warna itulah yang membuat forum tersebut menciptakan hasil yang mengesankan. Bayangkan jika semua berperan sebagai kakak yang pemarah. Pasti kondisi forumnya akan sangat tegang. Atau bayangkan jika semua orang memiliki pembawaan yang kalem. Belum tentu semua nilai yang ingin tertanam bisa dipastikan tertanam.

Sampai jumpa di hari wisuda!

Oleh karenanya, momen orientasi kemarin sekali lagi memberi pelajaran berharga bagi saya dan teman-teman. Bahwa warna itu bukan sekedar sesuatu yang mampu mendatangkan keindahan. Lebih daripada itu, warna adalah sesuatu yang mendefinisikan diri kita. Ia adalah sesuatu yang seharusnya dapat membuat kita senantiasa percaya untuk bisa mengeluarkan potensi terbaik didalam diri kita.

Maka bawalah warna itu ke mana saja. Mulai dari mengganti warna sebuah laptop, hingga memanfaatkannya untuk menggapai cita dan mencipta karya.

Hiburan merupakan salah satu kebutuhan vital bagi setiap manusia, tak terkecuali mahasiswa. Memang benar kalau kehidupan kampus itu penuh dinamika. Ada kuliah di kelas, kuliah di lapangan, penelitian di laboratorium, bolak balik mengurus revisi, hingga aktif berkegiatan di organisasi kemahasiswaan. Tapi ternyata kalau sudah jadi rutinitas bisa membuat jenuh juga!

Sayangnya bagi mahasiswa Jatinangor seperti saya, opsi hiburan yang ada sangat terbatas. Hanya ada satu mall disini, yakni Jatinangor Town Square (JATOS). Praktis kalau hari libur tiba mall ini akan dipenuhi oleh berbagai mahasiswa dari kampus-kampus di Jatinangor seperti ITB, UNPAD, IKOPIN dan IPDN. Tempat liburan yang lain mungkin Gunung Geulis dan Gunung Manglayang. Tapi karena kedua gunung tersebut berada dibawah pengelolaan kampus, ia tidak difokuskan untuk menjadi tempat wisata melainkan tempat penelitian. Maka jangan heran kalau kami, mahasiswa Jatinangor, sering sekali main ke Bandung setiap hari libur tiba.

Tapi pandangan saya mulai berubah ketika bertemu dengan Pak Agus. Beliau adalah salah seorang supir angkot 04 yang melayani trayek Sumedang – Cileunyi. Beberapa kali Pak Agus mengantar saya beserta teman-teman himpunan untuk pergi ke desa binaan milik Himpunan Mahasiswa Jurusan kami di Cibeusi. Dan dari percakapan disepanjang jalan itulah beliau menyebut satu tempat wisata di barat Sumedang yang bernama Kampoeng Ciherang.

Peta Kampoeng Ciherang:

Tanpa basa-basi, saya bersama teman-teman dari Muslim ITB Jatinangor segera merancang agenda untuk melepas penat kesana. Dengan menyewa angkot milik Pak Agus, kami pun bergerak dari Jatinangor sekitar pukul 7 pagi. Perjalanan ke Ciherang ternyata membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Cukup lama memang, tapi sepanjang jalan kami ditemani oleh hawa perbukitan yang begitu sejuk. Tak ayal banyak yang tertidur lelap di angkot saking nyamannya.

Sesampainya di Kampoeng Ciherang, beberapa orang dari kami langsung membuat story di Instagram. Maklum, suasana seperti ini bisa dibilang sangat jarang kami dapatkan. Lagipula kalau momen sehari-hari yang tidak terlalu penting saja kami buat story-nya, apalagi momen langka semacam ini, toh?

Tak lama, masuklah kami ke dalam kawasan Kampoeng Ciherang setelah membayar tiket masuk sebesar Rp15.000,- per orang. Jajaran pohon pinus langsung menyambut kami di sebelah kanan dan kiri. Ditengahnya ada satu lajur jalan setapak yang terasa seperti memanggil untuk ditelusuri lebih jauh. Seakan ada banyak keajaiban yang sudah siap menanti di dalam untuk kami singgahi.

Perlahan suara air makin jelas terdengar. Beberapa saung mulai terlihat, lengkap dengan beragam makanan khas Sunda yang terlihat begitu lezat untuk disantap. Saya bertanya pada teman-teman, “Apakah kita perlu berhenti dulu? Atau terus saja jalan ke dalam?”. Semua kompak menjawab jalan! Maka bergeraklah kami semakin jauh ke dalam ditemani suara kicau burung yang saling bersahutan.

Dan ternyata berakhirlah jalan setapak yang kami lalui di pinggir sebuah sungai. Alirannya cukup deras, tapi kami bisa melihat beberapa batu berada ditengahnya untuk dijadikan pijakan menyeberang. Kami pun memberanikan diri untuk menerjang arus sungai itu. Tangan-tangan saling berpegangan dan sungai setinggi lutut itu perlahan berhasil kami terjang! Alhamdulillah semua bisa menyusuri sungai ini dengan selamat.

Sampai disini saya perhatikan tak ada sedikitpun raut muka penyesalan dari kawan-kawan saya. Meski celana, rok dan sepatu mereka benar-benar basah, semua ceria dan bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan tidak ada yang sibuk dengan smartphone-nya. Masing-masing asyik memperhatikan bentang alam yang terhampar asri didepan matanya. Betul-betul berbeda dengan pemandangan yang saya saksikan di kampus sehari-hari.

Petualangan pun kami lanjutkan. Disini jalan setapak sudah mulai tak terlihat. Yang ada ialah bukit kecil dengan pasak-pasak yang mengindikasikan lajur pendakian. Bukit itu pun kami daki dan kami berhasil menemukan tanah lapang yang cukup luas diatasnya. Disitulah kami berhenti untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan.

Begitu mendapat tempat untuk duduk, saya langsung mengeluarkan HP dari kantong saya. Dan ternyata saya tidak bisa menemukan satupun garis sinyal di kolom notifikasi smartphone saya! Pantas saja sedari tadi tidak ada yang mengeluarkan HP, melainkan hanya beberapa orang yang sibuk dengan kamera digitalnya. Rupanya mereka sudah terlebih dahulu mengetahui bahwa tempat ini tidak terjangkau oleh sinyal dari operator manapun.

“Ayo semua berdiri. Kita main games buta-bisu-lumpuh!” seru seorang kawan saya secara tiba-tiba.

Games ini memang sangat klasik. Sebuah kelompok harus membagi anggotanya kedalam 3 peran, yakni orang buta, orang bisu dan orang lumpuh yang tidak bisa menggerakkan bagian badan dari pinggang ke bawah. Nantinya orang-orang buta harus membawa orang lumpuh dalam kelompok tersebut dari tempat awal ke tempat tujuan. Orang bisu ditempatkan di tempat tujuan dan bertugas memberikan arahan kepada orang lumpuh menggunakan isyarat tangan. Orang lumpuh inilah yang bisa mengarahkan teman-temannya yang buta untuk bergerak sambil membawa si orang lumpuh ini dengan cara apapun.

Setelah semua siap, games pun dimulai. Masing-masing orang bisu di tiap kelompok nampak begitu kesulitan dalam mengarahkan. Orang lumpuh pun sering salah menangkap maksud dari arahan yang diberikan. Jadilah masing-masing kelompok bergerak ke arah yang berantakan. Ada yang masuk ke semak-semak, ada yang berputar-putar, dan bahkan ada yang hampir menabrak pohon! Semua orang tertawa lepas dan inilah pertama kalinya saya mendapati mereka dengan keceriaan yang begitu besar.

Saat itulah saya mulai berpikir kembali tentang makna sebuah liburan, terutama bagi generasi Z seperti saya. Bagi kami, internet adalah mainan kami sehari-hari sejak kami masih kecil. Kami sudah sangat terbisa memainkan beragam media sosial, mengakses informasi yang tak terbatas, serta menggunakan fitur-fitur gadget yang mungkin belum umum digunakan oleh generasi-generasi sebelum kami. Hal inilah yang membuat kami mudah jenuh dengan dunia digital, meskipun amat mudah juga bagi kami untuk kembali memainkannya berjam-jam tanpa henti.

Tapi mungkin memang seperti itulah makna liburan. Liburan bukan berarti harus selalu datang ke mall untuk mencari spot-spot foto yang instagrammable. Liburan juga bukan berarti berbelanja banyak barang baru yang bentuknya unik serta beragam. Akan tetapi liburan sesungguhnya adalah mencari sesuatu diluar rutinitas kita sehari-hari.

Kalau sehari-harinya saja sudah sering menghabiskan waktu dengan gadget, maka definisi liburannya adalah menghabiskan waktu untuk bersenang-senang tanpa harus diganggu oleh gadget. Istilahnya bagi anak sekarang adalah “get lost” alias menghilang. Menghilang dalam artian sejenak menjauh dari dunia digital untuk memuaskan hati dan jiwa dalam berinteraksi dengan dunia yang sesungguhnya.

Tak terasa sudah hampir 4 jam waktu yang kami habiskan di Kampoeng Ciherang. Kami harus segera berkemas sebab Pak Agus sudah siap menjemput kami tepat jam 1 siang sesuai dengan kesepakatan. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk menunaikan shalat di mushala kecil yang terletak tak jauh dari pintu keluar. Kami juga sempat membeli makanan dan minuman dari para penjual yang notabene merupakan warga lokal. Bagaimanapun kami yakin bahwa jajanan-jajanan kecil ini bisa turut membantu menggerakkan roda perekonomian masyarakat di Kampoeng Ciherang.

Jam 1 lewat sepuluh menit semua sudah naik kedalam angkot dan kami mulai bergerak meninggalkan Kampoeng Ciherang. Sinyal internet kembali berlimpahan dan beberapa diantara kami mulai mengunggah foto-foto yang berhasil diabadikan dari Ciherang. Saat hendak meng-upload inilah saya berhasil menemukan ratusan foto dari orang-orang yang juga pernah singgah di Kampoeng Ciherang. Rupanya Ciherang sudah cukup eksis di Instagram. Tinggal di-viralkeun saja supaya semakin banyak orang yang datang.

Hawa dingin tak terasa mulai menyelimuti sebagian dari kami ke alam mimpi. Saya pun tak lama lagi akan segera bergabung. Tetapi sebelum itu, saya hendak memastikan beberapa hal yang bisa saya bawa pulang dari Ciherang kedalam perpustakaan besar yang ada di pikiran saya.

Dari Ciherang saya belajar arti sesungguhnya dari sesuatu yang kita sebut “liburan”. Bahwa liburan itu sejatinya berarti mencari suasana baru yang tidak bisa kita temukan dari rutinitas sehari-hari. Khusus bagi generasi Z seperti saya, liburan sejati adalah menghilang sejenak dari dunia maya demi memuaskan hati dan jiwa di dunia nyata. Tentu penting mengabadikan momen-momen unik di mediasosial. Tetapi yang jauh lebih penting adalah pengalaman yang bisa kita dapatkan dibalik momen tersebut. Experience is more valuable than material goods!

Sampai bertemu lagi, Kampoeng Ciherang.

muslim itb jatinangor di kampoeng ciherang

Untuk ketiga kalinya sepanjang sejarah, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Tinggi yang secara khusus membahas tentang penyakit tidak menular (non-communicable disease/NCD). Indonesia pun turut mengirimkan delegasi untuk menghadiri pertemuan yang digelar di New York pada tanggal 27 September 2018 ini. Tetapi pertanyaannya sederhana: Mengapa PBB harus sampai mengadakan pertemuan penting ini berkali-kali “hanya” untuk membahas masalah penyakit tidak menular?

Dalam laporannya yang berjudul NCD Country Profiles 2018, WHO menyatakan bahwa penyakit tidak menular bertanggung jawab terhadap 71% kematian yang terjadi di seluruh dunia pada tahun 2016. Laporan yang sama juga menunjukkan bahwa 73% kematian yang terjadi di Indonesia pada tahun 2016 juga terjadi “hanya” karena penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, gizi buruk, kanker, diabetes, dan TBC. WHO bahkan memprediksi angka kematian prematur (kematian yang terjadi antara umur 30-70 tahun) pada masyarakat Indonesia berkisar pada angka 26%.

Inforgrafis Penyakit Tidak Menular di Indonesia tahun 2016 (WHO, 2018)

Adapun menurut Beaglehole & Yach (2003), salah satu faktor utama yang mendorong timbulnya penyakit-penyakit tidak menular adalah transisi nutrisi. Transisi nutrisi dapat diartikan sebagai perubahan pola konsumsi suatu masyarakat yang disebabkan oleh modernisasi dan perkembangan ekonomi. Salah satu contohnya ialah perubahan makanan pokok orang-orang Indonesia yang semula begitu beragam seperti beras, jagung, ubi, dan sagu menjadi hanya satu jenis saja yaitu beras.

Transisi ini memungkinkan terjadinya degradasi nutrisi-nutrisi penting dari jenis makanan yang tereliminasi. Dalam contoh kasus makanan pokok Indonesia diatas, tereliminasinya ubi dan sagu mengakibatkan hilangnya protein penting yang mungkin didapat dari kedua komoditi tersebut. Konsekuensinya, orang Indonesia hanya mendapatkan karbohidrat dalam jumlah banyak dari beras tanpa protein yang mencukupi. Maka dari itu, kiat pertama dalam menghadapi masalah penyakit tidak menular ini adalah mengonsumsi pangan yang beragam.

Kiat berikutnya bisa kita dapatkan dengan mengibaratkan tubuh manusia sebagai sebuah sistem. Dalam dunia analisis sistem sendiri dikenal model IPO (Input-Process-Output)yang sering digunakan untuk mengidentifikasi elemen-elemen pada sistem sehingga mempermudah proses analisis lanjutan. Apabila model ini hendak kita terapkan ke dalam tubuh manusia, maka makanan dapat menempati elemen input dan metabolisme akan menempati elemen process. Hasilnya, tentu kita akan mendapati aktivitas fisik (work) sebagai output dari sistem tersebut.

Skema IPO dalam Sistem Tubuh Manusia

Oleh karena sebuah sistem senantiasa menuju kepada kondisi kesetimbangan, maka mengonsumsi makanan yang beragam saja tidak cukup. Energi yang masuk (input) ke dalam tubuh manusia tentu juga harus dikeluarkan agar kondisi tubuh tetap seimbang. Pengeluaran energi inilah yang dapat diwujudkan dalam bentuk aktivitas fisik. Sehingga kita dapat memunculkan kiat kedua, yakni melakukan aktivitas fisik.

Apabila seorang manusia makan terlalu banyak (high input) tanpa melakukan aktivitas fisik yang cukup (less output), tentu saja sistem tubuhnya tidak akan seimbang. Pasalnya tubuhnya harus menyimpan input berlebih dalam bentuk simpanan lemak. Sebaliknya apabila seseorang terus melakukan aktivitas fisik (high output) tanpa mengonsumsi makanan yang memadai (less input), tentu saja sistem tubuhnya juga tidak akan seimbang. Alasannya karena tubuh harus bekerja ekstra membongkar cadangan energi (lemak) demi bisa bertahan hidup.

Lantas bagaimanakah cara memastikan agar kondisi ini senantiasa seimbang?

Jawabannya adalah dengan mengukur dan memantau berat badan secara rutin. Logikanya begitu sederhana. Semakin banyak makan, tentu semakin banyak lemak. Oleh karena lemak memiliki massa, maka penambahan lemak berarti penambahan massa tubuh juga. Dengan kata lain, berat badan bisa menjadi parameter yang efektif dalam menentukan ukuran keseimbangan tubuh.

Pengukuran berat badan secara rutin juga dapat membantu kita untuk mengetahui apakah tubuh kita termasuk dalam kondisi obesitas atau tidak. Caranya adalah dengan menghitung nilai BMI (Body Mass Index) sesuai persamaan sebagai berikut (Cole, et. al., 2007).

Rumus BMI

Nilai BMI yang didapat selanjutnya dapat dibandingkan dengan Gambar 3 untuk mengetahui kategori tubuh kita saat ini. Jika nilai BMI terlalu tinggi, tentu tidak baik karena tubuh sudah termasuk kategori obesitas. Jika nilai BMI terlalu kecil tentu juga tidak baik, karena kondisi tersebut juga dapat meningkatkan resiko terkena masalah kesehatan.

Kurva BMI

Kiat keempat dalam menghadapi masalah penyakit tidak menular adalah membiasakan perilaku hidup bersih. Sebab dengan perilaku hidup yang bersih, manusia dapat terhindar dari ancaman penyakit eksternal seperti virus, jamur dan bakteri. Oleh karena itu kita perlu meningkatkan kebersihan mulai dari lingkungan diri, sampai ke lingkungan sekitar kita seperti lingkungan air, lingkungan tanah (tempat tinggal), dan lingkungan udara. Integrasi kebersihan lingkungan inilah yang mampu menekan resiko berkembangnya penyakit tidak menular (Amuyunzu-Nyamongo, 2010).

Akhirnya kita telah mendapatkan 4 kiat menghadapi penyakit tidak menular yakni mengonsumsi pangan yang beragam, melakukan aktivitas fisik, memantau berat badan secara rutin, dan membiasakan perilaku hidup bersih. Keempat kiat ini dikenal dengan istilah 4 Pilar Gizi Seimbang, sebagaimana yang tertuang didalam Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan RI Tahun 2014. Marilah kita galakkan keempat pilar gizi seimbang ini demi menciptakan kehidupan manusia yang lebih cemerlang.

   

Referensi:

Amuyunzu-Nyamongo, M. (2010). Need for a multi-factorial, multi-sectorial and multi-disciplinary approach to NCD prevention and control in Africa. Global Health Promotion, 17(2_suppl), 31-32.

Beaglehole, R., & Yach, D. (2003). Globalisation and the prevention and control of non-communicable disease: the neglected chronic diseases of adults. The Lancet, 362, 903-908.

Cole, T. J., Flegal, K. M., Nicholls, D., & Jackson, A. A. (2007). Body mass index cut offs to define thinness in children and adolescents: international survey. British Medical Journal, 335(7612), 194.

JustRunLah! (2015, April 6). BMI Calculator. Retrieved from JustRunLah!: https://www.justrunlah.com/bmi-calculator/

WHO. (2018). Noncommunicable Diseases: Country Profiles 2018. Switzerland: World Health Organization.

 

Disclaimer: