My Journey to Become a Blogger in Biological Engineering

Bagi saya, menulis sudah menjadi suatu stress relief tersendiri yang lama kelamaan menjelma menjadi suatu kebutuhan. Sebab melalui tulisan, saya bisa bebas mengekspresikan hal-hal yang tak dapat digambarkan secara lisan.

Blog ini tentu hanya merupakan bagian kecil dari tulisan-tulisan yang pernah saya hasilkan. Porsi yang paling besar justru berasal dari project-project freelance yang sempat rutin saya ambil pada tahun 2017 lalu. Distribusinya bisa Anda lihat dibawah.

Lantas mengapa akhir-akhir ini saya lebih banyak menulis seputar jurusan saya yakni Rekayasa Hayati (Biological Engineering)? Apakah saya sudah tidak lagi mendapatkan project-project freelance? Atau ada hal lebih besar yang mendasari hal tersebut?

Sebelum melangkah lebih jauh, mari nikmati kilas balik blog ariefardia.com ini bersama-sama.

Kilas Balik Blog ariefardia.com

Ariefardia.com pertama kali memiliki hosting pada bulan November tahun 2017. Kala itu saya mendapat uang yang cukup dari Lomba Resensi Buku d’Gil! Marketing karya Ahmad Bambang yang diselenggarakan oleh PIBI IKOPIN dan Kementerian KUKM. Artikel yang keluar sebagai juara dalam perlombaan setingkat nasional ini bisa Anda lihat lewat tautan berikut.

Porsi terbesar uang hadiahnya memang saya manfaatkan untuk memulai bisnis Mabello. Tetapi sebagian kecilnya kemudian saya sisihkan untuk membeli paket hosting paling murah di Domainesia.

Alasan membeli paket hosting termurah tentu karena niatan awalnya hanya ingin mencoba-coba. Sebab sejak SMP saya terbiasa menulis di Blogspot. Barulah pada momen ini saya menantang diri sendiri untuk bukan sekedar menulis di WordPress tetapi juga mengelola self-hosting-nya sekaligus.

Sejak itulah ariefardia.com mengudara di dunia maya. Dalam keberjalanannya hampir 100% konten yang saya buat ialah konten yang diperuntukkan untuk keperluan lomba. Hampir tidak ada konten selain tulisan lomba. Memang ada satu-dua lomba blog yang berhasil dimenangkan, tetapi hitungannya tetap saja tidak produktif. Sebab dalam setahun produktivitas yang saya hasilkan hanya sekitar 12 postingan.

Hingga terjadilah “bencana” pada awal bulan Oktober 2018.

Waktu itu saya merasa harus merombak total tampilan blog. Pertama karena ingin tampilan yang lebih fresh. Kedua karena tak ingin kalah saing dengan para narablog diluar sana. Pikir saya waktu itu, “Kalau semua sudah menggunakan page builder seperti Elementor. Mengapa saya tidak?”

Lantas saya mencari tema-tema WordPress terbaru yang sangat menyupport Elementor. Sayangnya ketika hendak diunggah, Elementor melakukan penyesuaian otomatis terhadap seluruh konten yang pernah saya posting. Penyesuaian ini berlangsung begitu lama dan bahkan menyebabkan landing page bawaan tema tersebut ikut berubah total.

Tertarik menggunakan tema berbasis Elementor? Tonton ini dulu ya!

Frustasi dengan tema berbasis landing page, saya pun mencari template lain yang tidak memiliki landing page. Pilihan saya jatuh pada tema Cenote yang saya gunakan saat ini. Tetapi saat menginstal saya tak sengaja menekan tombol Reset dari plugin Reset-WP yang lupa saya matikan. Hasilnya, semua artikel yang pernah saya posting hilang dari dashboard.

Artikel dan file-file media dari postingan-postingan lama memang masih bisa saya temukan lewat File Manager dari cpanel. Tetapi karena sudah lelah berkutat dengan penyesuaian terhadap tampilan baru, saya memutuskan untuk menghapus semuanya dan memulai kembali blog ini dari awal.

Uniknya dalam kurun waktu Oktober s/d Desember 2018 saya justru berhasil memposting 20 tulisan! Dua belas diantaranya merupakan artikel baru, sementara delapan sisanya merupakan artikel-artikel lawas yang pernah saya buat menjelang akhir SMA atau di masa-masa awal perkuliahan.

 Kilas balik ini secara sederhana bisa Anda lihat lewat timeline berikut.

November 2017

Pertama kali membeli hosting dan merilis ariefardia.com

September 2018

Menyelesaikan postingan ke-12. Memutuskan untuk mengganti template blog keseluruhan.

Oktober 2018

Tidak sengaja menekan tombol “Reset”. Terpaksa mengulang blog dari nol.

Desember 2018

Berhasil memposting 20 artikel di blog.

Januari 2019

Berhasil menulis 300 artikel di berbagai platform.

Sekarang mari beranjak ke pertanyaan, “Mengapa kini saya memilih untuk fokus menulis seputar jurusan kuliah saya?”

Menjadi Narablog Teknik, Siapa Takut?

Menurut data dari Blogging.org, jumlah blog pada tahun 2013 diperkirakan sudah mencapai angka 152 juta blog. Jumlah tersebut tentu sudah naik berkali lipat pada tahun 2019 ini. Hostingfacts bahkan mencatat bahwa tak kurang dari 4 juta postingan blog di-publish setiap harinya. It is very huge, right?

Maka pertanyannya adalah seberapa besar peluang blog kita dilihat oleh orang lain dibandingkan dengan jumlah “pesaing” yang semakin banyak itu? Apakah masih mungkin mendapatkan viewers hingga ratusan ribu atau bahkan jutaan orang perbulan?

Jawabannya tentu saja mungkin! Dengan syarat konten yang kita hasilkan adalah konten yang unik dan berkualitas tinggi. Kita tidak bisa lagi memproduksi konten dalam jumlah banyak tetapi asal copas. The reason is because people are looking for quality over quantity right now.

Pemahaman ini saya dapatkan dari Neil Patel, salah seorang pakar dalam dunia digital marketing yang juga merupakan founder dari Kissmetrics. Melalui website dan channel YouTube-nya, Neil Patel banyak membagikan informasi seputar dunia blog, SEO, dan sebagainya. I strongly recommended you to follow him too for your advance in blogging.

Adapan alasan kedua mengapa ariefardia.com akan lebih berfokus pada topik seputar Rekayasa Hayati lebih didasari pada mimpi yang saya miliki.

Jurusan saya merupakan satu-satunya jurusan di Indonesia yang memiliki nomenklatur Rekayasa Hayati alias Biological Engineering. Program studi ini dibuat agar para lulusannya memiliki kecakapan untuk memasuki berbagai industri yang menggunakan agen hayati dalam proses produksinya. Beberapa contoh aplikasinya bisa Anda lihat lewat artikel-artikel berikut.

Kondisinya lulusan prodi ini masih sangat sedikit (saya merupakan angkatan ke-6) sementara peluangnya masih sangat terbuka lebar (karena keanekaragaman hayati Indonesia yang tinggi). Oleh karena itu, saya sangat ingin menjadi seorang konsultan di bidang ini. Saya ingin berkontribusi kepada bangsa dan negara lewat bidang keahlian yang saya miliki ini.

Namun untuk mencapai cita-cita tersebut tentu dibutuhkan waktu yang panjang. Apalagi masih sangat sedikit orang yang mengetahui tentang Rekayasa Hayati ini. Maka dari itu, langkah pertama untuk menuju mimpi saya tersebut ialah mengedukasi masyarakat tentang Rekayasa Hayati.

Inilah alasan mengapa saya hendak memfokuskan ariefardia.com ke dalam penulisan artikel-artikel terkait Biological Engineering. Sebab saya percaya bahwa blog merupakan media yang tepat untuk melakukan proses edukasi ini. Apalagi dengan adanya self-hosting dapat membuat kita semakin fleksibel untuk dapat menghasilkan berbagai macam konten sesuai keinginan.

So What Can We Learn from This Story?

Sebuah cerita hanya akan menjadi rangkaian kata jika tidak mengandung makna didalamnya. Dan untuk cerita singkat ini, maknanya akan saya turunkan kedalam tips-tips ngeblog di tahun 2019 sebagai berikut.

Pertama, tentukanlah tujuan dan topik blog yang spesifik. Kalau masih sekedar untuk mencoba-coba, tentu tidak memiliki tujuan spesifik bukanlah suatu masalah. Tapi kalau kita ingin menaikkan level ngeblog menjadi lebih serius lagi, maka memiliki tujuan dan topik yang spesifik adalah suatu keharusan.

Pun kalau kita perhatikan para narablog yang sudah terkenal pasti memiliki niche tertentu yang berbeda satu sama lain. Ada yang khusus mengangkat tema lifestyle, ada yang fokus pada dunia gadget dan teknologi, ada juga yang memilih untuk menjadi blog penyedia info-info terkait lomba blog.

Anda juga tidak harus memiliki latar belakang pendidikan/keahlian spesifik seperti cerita saya diatas. Minat terhadap hal-hal yang sederhana seperti dunia kerudung lukis, tanaman hias, atau bahkan fidget spinner bisa membuat Anda menjadi narablog yang handal. Bahkan minat semacam ini sangat potensial untuk menjadi lahan pendapatan dari sektor affiliate marketing lho!

Adapun tips kedua ialah belajar lebih cepat. Tahun lalu sangat hits penggunaan page builder seperti Elementor. Tapi kini editor WordPress 5.0 sudah menggunakan Gutenberg yang jauh lebih simpel daripada Elementor tapi tak kalah powerful. Mana yang lebih baik? Tentu saja yang lebih kita kuasai!

“Saya lebih takut dengan seorang jagoan yang melatih 1 jurus yang sama sebanyak 1000 kali ketimbang seorang jagoan yang melatih 1000 jurus masing-masing 1 kali”.

Belajar lebih cepat yang saya maksud tentu juga berlaku pada hal-hal yang lebih luas. Misalnya seperti belajar tentang SEO, desain blog, HTML sederhana, editing gambar/animasi/video yang baik, atau apapun yang dapat menunjang aktivitas kita sebagai seorang narablog.

Sedangkan tips ngeblog terakhir di tahun 2019 ala ariefardia.com adalah ciptakan konten yang sedikit lebih baik daripada konten orang lain. Tidak perlu menjadi yang terbaik, tetapi cukup menjadi sedikit lebih baik dibandingkan orang lain.

Mengapa demikian? Alasannya karena jumlah blog yang semakin tinggi dari hari ke hari. Konten yang Anda ciptakan bisa jadi juga diciptakan oleh puluhan narablog yang lain. Apalagi kalau konteksnya adalah konten untuk suatu lomba. Tidak ada cara “memenangkan pertarungan” ini selain berusaha mengeksekusi segala sesuatunya lebih baik daripada orang lain.

Kalau sama-sama menggunakan infografis, maka pastikan infografis milik kita sedikit lebih baik daripada milik orang lain. Kalau sama-sama menggunakan Elementor, maka pastikan layout kita sedikit lebih baik daripada orang lain. Begitu seterusnya hingga kita bisa menjadi lebih baik diantara para narablog terbaik.

Akhir kata, selamat berproses, selamat berkarya, dan selamat menjadi narablog di era digital.

Disclaimer

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Nodi yang diselenggarakan oleh nodiharahap.com

4 thoughts on “My Journey to Become a Blogger in Biological Engineering

  1. Mungkin aku lagi galau kak, aku bacanya Rekayasa Hati wkkwkwkkw (maap) btw smg tercapai smua harapannya kak 🙂

  2. Saya punya blog juga yang pakai nama sendiri tapi isinya materi tentang jurusan saya “migas”. Menurut saya sih share materi enak banget mas, soalnya banyak komentar positif yang buat hati senang..

    Btw blog saya sama seperti blog mas, karena beberapa alasan hapus artikel dan mulai dari nol.

    1. Wah sehati kita, hehe.

      Sayangnya memang audiens di Indonesia belum well-developed seperti di luar ya mas. Padahal blog dengan niche seperti kita sangat laris lho Mas di luar.

      Yuk lah semangat lagi!

Leave a Reply

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top
%d bloggers like this: